ANALISIS NOVEL WU ZETIAN DARI SUDUT PANDANG RAS, ETNISITAS DAN MULTIKULTURALISME

Oleh : Rudiansyah

Latar Belakang Masalah

Tiongkok tidak memiliki monarki sejak revolusi komunis tahun 1949. Tapi untuk lebih dari 4.000 tahun sebelum itu, tiongkok diperintah oleh 308 kaisar yang berbeda yang mencakup 14 periode dinasti. Dari 308 kaisar, hanya satu yang seorang wanita. Itu terjadi selama dinasti Tang, yang memerintah tiongkok dari tahun 618-907 M, sebuah masa dimana sering dianggap sebagai masa keemasan dari seni, sastra, filsafat, perdagangan dan teknologi Tiongkok. Ibukotanya saat itu Chang An tapi sekarang bernama xi an, merupakan kota terbesar dan memiliki budaya paling maju di dunia, dengan populasi lebih dari satu juta. Ini juga merupakan masa langka dimana perempuan tiongkok memiliki kebebasan, perempuan telah lama diperlakukan sebagai inferior, tapi di masa ini mereka menikmati kebebasan seperti hak untuk dididik, bercerai, memiliki tanah, dan mengambil bagian dalam politik. Tapi tidak seorangpun di masa itu yang mengharapkan seorang wanita untuk memiliki peran yang cukup besar sebagai seorang kaisar.

Kekaisaran Tiongkok dikenal memiliki sistem kekuasaan raja yang sangat berkuasa atas hidup mati rakyat atau biasa disebut dengan despotis absolut. Raja memiliki kedudukan yang sangat tinggi di samping sebagai kepala pemerintahan, panglima tertinggi dan pendeta tertinggi. Raja sangat berkuasa dan menguasai hidup dan mati rakyatnya dapat dilihat hampir dalam setiap pemerintahan didalam setiap dinasti. Tiongkok dalam pemerintahannya sangat mengenal doktrin Tien Ming, dimana siapa saja yang mendapatkan mandat dari langit maka dapat menjadi raja. Orang yang mendapatkan mandat dari langit ini biasa disebut dengan Tien Tzu (putra langit). Sehingga konsep pemerintahan seratus dinasti ini memang benar dalam perkembangan pemerintahan Tiongkok kuno.

Dalam perkembangannya Tiongkok kuno menganut sistem patriarki, dimana laki-laki dianggap memiliki kedudukan dan kelebihan lebih tinggi dibandingkan perempuan. Bahkan kebanyakan dari raja-raja yang memerintah Tiongkok pada masa itu adalah laki-laki. Namun, ternyata dalam suatu negara yang menganut sistem patriarki pun terdapat ruang bagi perempuan untuk menjadi penguasa atau kaisar. Dalam sejarah Tiongkok, perempuan kurang begitu dihargai, karena anak laki-laki justru lebih diharapkan daripada perempuan. Hal ini menunjukan bahwa kedudukan laki-laki jauh lebih penting dan dihargai daripada perempuan.

Wu Zetian (则天)

Wu Zetian dilahirkan pada tahun 624 Masehi. Wu Zetian merupakan anak dari seorang pedagang kayu. Pada masa Tiongkok kuno, masyarakat menghendaki wanita berwatak lemah lembut dan rajin, namun Wu Zetian sejak awal sudah menunjukkan karakter yang berbeda dengan perempuan lainnya. Pada tahun 637 M, tepatnya pada masa pemerintahan Kaisar Li Shimin, Wu Zetian diundang ke istana, dan akhirnya di nobatkan menjadi seorang selir dengan gelar Cai ren (orang berbakat), sebuah gelar selir tingkat ke lima. Suatu hari Kaisar Taizong mendapat seekor kuda yang sulit dijinakkan tetapi Wu Zetian mengatakan kepada Kaisar Taizong bahwa dia mampu menjinakkannya dengan cambuk dan pisau. Wu Zetian berkata: “Saya terlebih dulu mencambuknya, kalau kuda ini tidak tunduk, saya akan memukul kepalanya, kalau kuda itu tetap tidak menurut, akan saya pancung lehernya.” Mendengar perkataan Wu Zetian tadi, Kaisar Taizong terkejut bukan main, karena perkataan bernada keras serupa seharusnya tidak dikeluarkan oleh seorang selir yang tahu akan tata krama. Sejak saat itu kaisar Taizong meningkatkan kewaspadaan terhadap Wu Zetian, dan itulah sebabnya Wu Zetian gagal mendapat cinta sejati dari Kaisar Taizong selama 12 tahun melayaninya. Namun Putra Mahkota ketika itu bernama Li Zhi secara diam-diam jatuh cinta pada Wu Zetian yang 4 tahun lebih tua daripadanya.

Setelah wafatnya Kaisar Taizong, Li Zhi seorang putra mahkota Taizong naik takhta dengan sebutan Kaisar Gaozong, sedang Wu Zetian terpaksa meninggalkan istana dan menjadi biksuni berdasarkan tata krama yang berlaku waktu itu. Tak lama setelah upacara penobatan, Li Zhi yakni Kaisar Gaozong bersikeras menjemput Wu Zetian kembali ke istana dan menganugerahinya gelar selir kelas tinggi tanpa mengindahkan tentangan para menteri. Setelah kembali ke istana, Wu Zetian selalu bermimpi bisa menjadi permaisuri. Konon untuk mewujudkan maksudnya itu, Wu Zetian merencanakan niat jahat. Permaisuri Kaisar Gaozong, yakni Permaisuri Wang menyukai anak, tapi dirinya tak bisa melahirkan anak. Suatu hari, Permaisuri Wang datang menengok bayi perempuan yang belum lama dilahirkan oleh Wu Zetian. Begitu Permaisuri Wang pamit, Wu Zetian segera membunuh bayinya sampai mati, dan kemudian memfitnah Permaisuri Wang sebagai biang keladinya. Kaisar Gaozong yang percaya pada Wu Zetian lantas membenci Permaisuri Wang dan pada akhirnya mencabut gelar Permaisuri Wang dan menganugerahkan gelar permaisuri kepada Wu Zetian. Setelah impiannya itu terwujud, Wu Zetian dengan bertahap mulai menjalankan misi selanjutnya, yaitu menyingkirkan selir yang dicintai Kaisar Gaozong. Kaisar Gaozong memang seorang yang emosional dan kurang bijaksana dalam penanganan urusan negara. Sebelum menjadi permaisuri, Wu Zetian sudah mulai membantu Gaozong menangani urusan politik. Setelah dinobatkan sebagai permaisuri, Wu Zetian secara langsung berpartisipasi dalam penanganan urusan negara tanpa menghiraukan tradisi yang melarang wanita ikut serta dalam pemerintahan. Oleh karena semua urusan penting negara harus ditangani bersama oleh Kaisar Gaozong dan Wu Zetian, maka keduanya dijuluki para menteri sebagai “Dua Kaisar”. Penanganan urusan negara bersama oleh kaisar dan permaisuri yang terjadi pada waktu itu merupakan hal yang tiada taranya dalam sejarah sebelumnya. Setelah Kaisar Gaozong wafat, dua putranya berturut-turut naik takhta, tapi pada kenyataannya yang berkuasa adalah Wu Zetian. Pada usia 67 tahun, Wu Zetian resmi di nobatkan sebagai kaisar wanita pertama Tiongkok dan mengubah nama negara Tang menjadi Zhou.

Teori Tentang Ras, Etnisitas dan Multikulturalisme

Sepanjang sejarahnya, mayoritas raja atau kaisar yang memerintah di Tiongkok adalah laki-laki. Namun, dalam dinasti Tang terdapat suatu perubahan dalam pemerintahan dengan munculnya kaisar perempuan dalam pemerintahan Tiongkok Kuno. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat tidak biasa dalam suatu kekaisaran, terutama yang menganut sistem patriarki.

Menurut Koentjaningrat, Ras adalah suatu golongan manusia yang menunjukan berbagai ciri tubuh tertentu dengan suatu frekuensi yang besar atau bersifat jasmani. Dalam analisis novel ini makna ras adalah suatu sistem klasifikasi yang digunakan untuk mengkategorikan manusia dalam populasi atau kelompok besar dan berbeda berdasarkan ciri fenotipe, asal usul, jasmani dan kesukuan yang terwarisi. Hal ini tercerminkan oleh Wu Zetian yang hanya terlahir dari seorang keluarga pedagang kayu kelas bawah.

Menurut Frederich Barth, Istilah Etnisitas merujuk pada suatu kelompok tertentu yang karena kesamaan ras, agama, asal-usul bangsa ataupun kombinasi dari kategori tersebut terikat pada sistem nilai budaya. Dalam analisis novel ini makna etnisitas adalah suatu penggolongan dasar dari suatu organisasi sosial yang keanggotaannya didasarkan pada kesamaan asal, sejarah, budaya, agama dan bahasa serta tetap mempertahankan identitas jati diri mereka melalui cara dan tradisi khas yang tetap terjaga. Dalam analisis novel ini terlihat bahwa pada masa pemerintahan Tiongkok kuno, masyarakat menghendaki wanita berwatak lemah lembut dan rajin. Hal ini juga yang membuat wanita terdiskriminasi dan tidak bisa berbuat banyak.

Menurut S. Saptaatmaja, Multikulturalisme adalah suatu tujuan untuk bekerjasama, kesederajatan dan mengapresiasi dalam dunia yang kompleks dan tidak monokultur. Dari pengertian ini dapat disimpulkan agar seseorang dapat melihat perbedaan dan usaha untuk bekerja secara positif dengan yang berbeda dan terus mewaspadai segala bentuk sikap yang bisa mereduksi multikulturalisme itu sendiri. Dalam analisis novel ini terlihat bahwa penanganan urusan negara bersama oleh kaisar dan permaisuri yang terjadi pada waktu itu merupakan hal yang tiada taranya dalam sejarah sebelumnya. Ini bukti bahwa dengan saling bekerja sama tanpa harus membatasi kaum wanita akan memperoleh hasil yang lebih maksimal.

Eksplanasi Permasalahan (Sejarah, Sosial Politik, Ekonomi dan Budaya)

Penobatan Wu Zetian sebagai kaisar wanita Dinasti Zhou pada tahun 690 M merupakan contoh yang terkecuali. Mengenai riwayat legendaris Wu Zetian sebagai satu-satunya kaisar wanita dalam sejarah Tiongkok, penilaian yang diberikan generasi kemudian berbeda-beda. Dengan demikian, Wu Zetian pun menjadi kaisar yang berusia paling tua ketika dinobatkan, sekaligus satu-satunya kaisar wanita dalam sejarah Tiongkok. Setelah naik takhta, Wu Zetian melaksanakan kebijakannya dengan otoriter, yaitu dengan menyingkirkan pejabat-pejabat yang tidak berdiri di pihaknya. Selama berkuasanya, Wu Zetian melaksanakan kebijaksanaan yang mendukung perkembangan pertanian, dan menurunkan pajak yang membebani kaum tani. Dirinya juga memelihara ulat sutra dan bercocok tanah, dengan maksud supaya para pejabat berteladan pada tindakannya dan menyadari kesulitan rakyat. Wu Zetian juga pandai memanfaatkan tenaga ahli tanpa memandang bulu, sehingga banyak cendekiawan dari lapisan bawah dapat memangku jabatan di pemerintah, tidak sedikit di antaranya bahkan menjadi menteri dan sarjana yang terkenal karena prestasinya. Wu Zetian juga berupaya meningkatkan status sosial kaum wanita supaya mereka berpeluang berpartisipasi dalam pemerintahan. Wu Zetian berkuasa sebagai kaisar selama 15 tahun, tapi pada kenyataannya ia berkuasa selama 50 tahun.

Selama berkuasanya, negara Tiongkok kuat, masyarakat stabil, dan ekonomi berkembang. Tentaranya juga berkali-kali berhasil memukul mundur agresi musuh dari luar, sehingga kemakmuran yang muncul pada masa awal Dinasti Tang dapat dikembangkan berkelanjutan. Wu Zetian wafat pada usia 82 tahun. Sebelum meninggal dunia, ia mewariskan takhta kaisar kepada putranya dan memulihkan nama negara menjadi Tang. Wu Zetian wafat dan dimakamkan berdekatan dengan Kaisar Gaozong yakni suaminya di pemakaman Qianling di Provinsi Shaanxi, Tiongkok Barat, dan di depan makamnya didirikan sebuah nisan tanpa aksara. Menurut kelaziman, batu nisan didirikan di depan sebuah kubur dan di atasnya ditulis prasasti yang mengisahkan riwayatnya. Namun batu nisan makam Wu Zetian itu malah sama sekali tidak bertulis, dan mengenai sebabnya generasi kemudian memberikan tafsiran yang berbeda-beda. Tapi umumnya orang berpendapat bahwa penegakan batu nisan tanpa aksara itu barangkali dilakukan atas permintaan Wu Zetian, maksudnya ialah agar penerus pada masa mendatang yang memberikan penilaian atas riwayatnya karena naskah apa pun tak bisa melukiskan tingkah lakunya. Itulah sebabnya batu nisan tanpa aksara didirikan di depan makam Wu Zetian.

Pengelolahan Masalah

Ketika melihat fenomena yang terjadi dalam pemerintahan pada masa Wu Zetian ini dapat di pahami bahwa didalam sistem patriarki didalam perkembangan pemerintahan Tiongkok kuno terdapat suatu pengecualian dengan adanya kaisar yang berjenis kelamin wanita. Terlepas dari bagaimana Wu Zetian menjadi seorang kaisar dengan berbagai trik politik yang menggunakan segala cara tanpa melihat sisi kemanusian maka Wu Zetian dapat dikatakan mendapatkan kursi kekuasaanya dengan cara yang luar biasa. Wu Zetian yang merupakan kaisar wanita pertama dalam masyarakat Tiongkok membawa suatu ruang gerak baru bagi kaum perempuan.

Banyak sekali kebijakan-kebijakannya yang sangat berpengaruh demi memajukan kerajaan Tiongkok. Hal ini merupakan suatu keberhasilan dari seorang kaisar wanita yang memiliki suatu otoriter, namun dapat membawa berkah bagi masyarakat terutama dalam bidang pertanian. Atas gebrakan kaisar Wu Zetian ternyata dapat membawa kemajuan besar bagi bangsa Tiongkok pada masanya.Budhisme dan Taoisme dapat menjadi berkembang dengan adanya kebijakan dari Wu Zetian, walaupun pada awalnya itu semua hanya sebagai suatu alat untuk melegitimasikan kekuasaanya tapi hal ini memiliki dampak positif pula.

Daftar Sumber

  1. Cf. Zhu Guangqian, Wenyi Xinlixue, 1936. History of Wu Ze Tian. Shanghai: Kaiming Shudian.
  2. Wang Keping, 1952. Ethos of Chinese Culture. China: Foreign Language Press.
  3. Taniputera, Ivan. 2010. History Of China. Jakarta: Ar-ruzz Media.

Artikel diambil dari :

  1. Confucian. (2011). Wu Ze Tian – Kaisar Wanita Dalam Sejarah China [Online]. http://www.confucian.me/group/perempuanhebat/forum/topics/wu-ze-tian-kaisar-wanita.
  2. http://www.tionghoa.com/wu-zetian/ [22  April 2012].
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s