CHINA DREAM (中国梦) : FILSAFAT KONFUSIUS SEBAGAI KEKUATAN MORAL

Oleh : Rudiansyah

Latar Belakang Masalah

Filsafat Tiongkok bermula pada masa awal seribu tahun pertama sebelum Masehi. Pada awal abad ke-8 sampai dengan abad ke-5 sebelum Masehi filsafat Tiongkok mempunyai ajaran tentang sumber-sumber utama lima anasir alam, yaitu air, api, kayu, logam, dan bumi. Pemikir terdahulu Tiongkok mengajarkan bahwa gabungan lima unsur tersebut menciptakan seluruh keberagaman fenomena. Pada saat yang sama, terbentuklah doktrin tentang kekuatan yang (aktif) dan yin (pasif) yang berlawanan dan saling terkait. Aksi dan kedua kekuatan ini dipandang sebagai sebab gerakan dan perubahan dari alam. Filsafat Tiongkok kuno terus berkembang dari abad ke-5 sampai ke-3 sebelum Masehi. Dalam periode inilah aliran-aliran filosofis Tiongkok muncul, seperti Konfusius. Banyak pemikir Tiongkok kuno berupaya memecahkan masalah hubungan logis antara konsep dan realitas.

Michale Hart, dalam bukunya “seratus tokoh paling berpengaruh dalam sejarah” menempatkan Konfusius dalam urutan kelima setelah Nabi Muhammad, Isaac Newton, Nabi Isa dan Buddha. Pengaruh ajaran Konfusius memang amat besar, tapi terbatas pada wilayah Asia Timur. Meskipun demikian, pengaruhnya terhadap dunia barat juga ada, yang berbekas pada pemikiran-pemikiran Leibniz dan Voltaire.

Ajaran Konfusius adalah arah menuju sifat-sifat ideal manusia sebagai individu maupun bermasyarakat. Ajaran ini lebih mudah dipahami melalui perjalanan hidup sang filsuf. Konfusius mengatakan: “pada umur 15 tahun saya siapkan hatiku untuk belajar; pada usia 30 aku merasa diriku sudah mapan; sampai pada saat mencapai usia 40 tahun saya tidak punya keraguan lagi dalam diri; saat berumur 50 tahun saya tahu wasiat surga; sewaktu berumur 60 tahun say siap mendengar itu; sampai pada umur 70 tahun saya bisa mengikuti keinginan hati tanpa harus mendahului kebenaran”. Di akhir hayatnya Konfusius merasa tidak banyak memberikan arti dan sumbangan pemikiran bagi rakyatnya, tetapi sejarah membuktikan yang sebaliknya. Pada masa dinasti Chin, tepatnya tahun 221 SM, Konfusianisme pernah dilarang. Kaisar Shi Huang Ti, kaisar pertama dinasti Chin membabat habis pengaruh Konfusianisme dan memenggal mata rantai yang menghubungkannya dengan masa lampau. Tetapi pengaruh Konfusianisme tidak luntur, bahkan tumbuh semakin subur. Pada masa dinasti Han (206 SM – 220 SM), ajaran konfusius bahkan menjadi filsafat resmi negara.

Kini, lebih dari 2000 tahun setelah kelahiran Konfusius, ajaran-ajarannya masih terasa relevan dalam situasi sekarang. Tidak hanya bagi masyarakat Tiongkok, tetapi juga bagi masyarakat luas yang merasa kebenaran seolah bersembunyi entah dimana. Cinta akan keramah-tamahan dan sopan santun yang kita warisi dari leluhur seolah hilang tanpa bekas. Tidak ada salahnya jika kita belajar kebajikan sebagai nilai-nilai kemanusiaan yang universal, meskipun itu datangnya dari negeri Tiongkok.

Konfusianisme

Konfusianisme atau biasa dikenal dengan agama Kong Hu Chu adalah agama tertua di negeri Tiongkok. Tiongkok merupakan sebuah negara yang memiliki sejarah panjang tentang tumbuh-kembangnya ajaran-ajaran agama konfusianisme tersebut, tetapi agama tersebut bukanlah satu-satunya agama di negeri Tiongkok, sebab Tiongkok sendiri memilki tiga agama. Tiga agama yang dimaksud adalah agama Konfusianisme, Taoisme dan Budha. Ketiga agama tersebut memang sangat berkaitan erat. Agama Konfusianisme adalah sebuah agama yang mengajarkan kepada para pengikutya menuju sifat-sifat ideal manusia sebagai individu itu sendiri maupun dalam kehidupan bermasayarakat. Agama Konfusianisme juga telah memberikan kesan yang mendalam bagi kehidupan dan kebudayaan di negeri Tiongkok, karena dalam agama tersebut terdapat beberapa ajaran yang mengarah tentang cinta, keramah tamahan, sopan santun dan filsafat serta ajaran-ajaran yang terkandung dalam agama tersebut.

Taoisme

Taoisme merupakan ajaran pertama bagi masyarakat Tiongkok yang dikemukakan Lao Tse. Lao Tse dilahirkan di Provinsi Hunan pada tahun 604 SM. Ia merasa sangat kecewa akan kehidupan dunia, sehingga ia memutuskan untuk pergi mengasingkan diri dengan tidak mencampuri urusan duniawi. Ia kemudian menulis kitab Tao Te Ching yang kelak menjadi dasar pandangan ajaran Taoisme. Tao berarti “jalan” dan dalam arti luas yaitu realitas absolut, tidak terselami, dasar penyebab, dan akal budi. Kitab Tao Te Ching memuat ajaran bahwa seharusnya manusia mengikuti geraknya (hukum alam) yaitu dengan memiliki kesederhanaan hukum alam. Dengan Tao manusia dapat menghindarkan diri dari segala keadaan yang bertentangan dengan irama alam semesta. Taoisme diakui sebagai suatu pre-sistematik berpikir terbesar di dunia yang telah mempengaruhi cara berpikir masyarakat Tiongkok. (Haryono, 1994), menyimpulkan bahwa pada dasarnya Filsafat Taoisme dibangun dengan tiga kata, yaitu:

  1. Tao-Te, “tao” adalah kebenaran, hukum alam, sedangkan “te” adalah kebajikan. Jadi Tao Te berarti hukum alam yang merupakan irama dan kaidah yang mengatur bagaimana seharusnya manusia menata hidupnya.
  2. Tzu-Yan artinya wajar, manusia seharusnya hidup secara wajar dan selaras dengan cara bekerja sama dengan alam.
  3. Wu-Wei berati tidak campur tangan dengan alam, manusia tidak boleh mengubah apa yang sudah diatur oleh alam.

Buddhisme

Buddhisme atau agama Buddha sudah menjadi bagian dari filosofi Tiongkok selama hampir 2000 tahun. Meskipun Buddha bukan merupakan agama asli Tiongkok, melainkan pengaruh dari India, tetapi ajaran Buddha mempunyai pengaruh yang cukup berarti pada kehidupan masyarakat Tiongkok. Tema pokok ajaram agama Buddha adalah bagaimana menghindarkan manusia dari penderitaan, karena kejahatan dianggap sebagai pangkal penderitaan. Manusia yang lemah, tidak memiliki pengetahuan akan Buddhisme akan sangat mudah terkena kejahatan dan sulit untuk membebaskan diri dari penderitaan. Pendiri agama Buddha adalah Sidharta Gautama. Ia dilahirkan dari keluarga bangsawan di Negera India. Sewaktu kecil, ayahnya menjauhkan Sidharta dari segala macam bentuk penderitaan dunia, sampai pada suatu hari secara tidak sengaja ia melihat orang-orang yang selama ini belum dilihatnya yaitu orang tua, orang yang sakit dan orang meninggal. Kenyataan tersebut membuatnya kemudian meninggalkan istana dan bertapa di bawah pohon bodhi. Setelah bertapa selama enam tahun akhirnya ia memperoleh pencerahan dengan menemukan obat penawar bagi penderitaan, yaitu jalan keluar dari lingkaran tanpa akhir dengan melalui kelahiran kembali kepada suatu jalan menuju nirwana. Jalan ini yang kemudian dikenal juga sebagai inti dari ajaran Buddha.

Konfusius

Konfusius merupakan seorang filsuf yang berasal dari dataran Tiongkok. Ia lahir pada tahun 551 SM pada masa pemerintahan Raja Ling dari Dinasti Zhou, dengan nama kecil Khung Chiu atau Zhong Ni. Konfusius dikenal dengan ajarannya yang sarat akan moralitas atau kebajikan sebagai landasan utama untuk menjalani kehidupan yang harmonis. Selama hidupnya, Konfusius mengabdikan diri pada kegiatan belajar-mengajar. Ia belajar sejak kecil hingga akhir hayatnya. Konfusius adalah seorang filosof dunia yang mengajarkan nilai-nilai kebajikan dan moralitas. Masyarakat penganut ajaran nilai-nilai Konfusius yang mengutamakan nilai moral (Li) cenderung untuk menyatu dengan alam. Penyatuan dan keselarasan hidup manusia dengan alam menjadikan masyarakat cenderung untuk menghindar dari konflik, baik konflik dengan sesama manusia maupun konflik dengan lingkungan alam.

Ajaran dari filsafat Tiongkok ini menjadikan masyarakat Tiongkok penganut Konfusianisme untuk menolak bersentuhan langsung dengan hukum. Penolakan tersebut tidak diartikan mereka sebagai masyarakat yang menentang hukum, melainkan mereka memiliki kecenderungan untuk mencari jalan damai dari setiap masalah yang mereka hadapi. Konfusius sendiri bukanlah menciptakan sebuah ajaran agama yang baru, melainkan ia berupaya melestarikan sebuah ajaran moral yang telah hidup dan berkembang jauh sebelum Konfusius lahir. Ajaran Konfusius merupakan ajaran yang diwajibkan bagi kalangan kekaisaran Tiongkok, khususnya sejak berkuasanya dinasti Han. Ajaran Konfusius diujikan bagi setiap calon pegawai kerajaan yang hendak mengabdi. Pada sisi lainnya masyarakat Tiongkok yang berasal dari kalangan bawah (lower level) cenderung untuk tidak memahami Konfusius, mengingat ajaran tersebut tidak pernah mereka dapatkan, karena mereka hidup dengan kondisi ekonomi yang sangat sederhana dan tidak mengenyam bangku pendidikan.

Ajaran Konfusius menjadi populer bagi peneliti barat, khususnya ilmu hukum. Ketika para peneliti tersebut mencoba untuk melihat benturan antara moral (Li) dan hukum tertulis (Fa). Menurut Konfusius, manusia akan menjadi benar, jika manusia menjunjung tinggi moral (Li) dalam setiap kehidupannya. Dengan menjunjung tinggi moral, maka manusia akan berada dalam kesempurnaan, sehingga manusia tidak perlu lagi berpedoman pada hukum. Menurutnya hukum tertulis yang dibuat oleh para pembentuk hukum (kaum legalis) menjadikan manusia memiliki perilaku yang buruk. Hukum merupakan tempat berkumpulnya orang-orang jahat, hukum menjadikan manusia bersikap tamak dan serakah. Manusia yang telah mencapai kesempurnaan moralitas tidak akan membutuhkan hukum dalam hidupnya. Pemikiran Konfusius tersebut dilandasi oleh sebuah keyakinan bahwa pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan baik, karena telah tertanamnya moral didalam diri seseorang sejak ia lahir ke dunia.

Pendapat Konfusius tersebut mendapat tentangan hebat dari kaum legalis, yang melihat bahwa sesungguhnya manusia dilahirkan dengan membawa watak dan sifat jahat. Manusia cenderung untuk menang sendiri, ia akan menjadi serigala bagi manusia yang lain. Pada keadaan yang demikian manusia harus diatur oleh hukum yang keras. Menurut kaum legalis seorang raja memperoleh legitimasi kekuasaan dari Tuhan/Langit/Surga/Sesuatu yang berkuasa (Tian) dan ketika ia berkuasa maka ia dibekali dengan hukum untuk menundukkan sifat dan watak keras manusia, sehingga tidak ada satupun manusia yang akan menentangnya. Pada saat ini pertempuran ideologis antara moral (Li) dan hukum (Fa) menjadi lebih kuat dan menunjukkan sebuah perubahan. Masyarakat Tiongkok memandang pentingnya hukum dalam mengatur kehidupan manusia, akan tetapi hukum tidak dapat dibiarkan berjalan sendiri melainkan harus selalu diselimuti oleh moral. Hukum akan menjadi baik dan benar ketika hukum diselimuti oleh nilai kebajikan moral. Sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi pembelajar hukum dan pelaksana hukum untuk menyatukan moral dan hukum.

Kesimpulan

Konfusius dan ajaran filsafat yang didirikannya merupakan bagian utama dan kekuatan utama dari budaya Tiongkok, terlebih lagi ajaran ini telah menempati posisi dominan dalam waktu yang sangat lama. Konfusius dan ajaran filsafatnya telah meletakkan nilai-nilai inti dari budaya Tiongkok, menimbulkan pengaruh yang dalam terhadap perkembangan dan pewarisan peradaban Tiongkok. Konfusius dan ajaran filsafatnya memainkan peran yang tak tergantikan dalam membentuk budaya dan semangat negeri Tiongkok. Oleh karena itu, dalam sejarah, terutama sejarah modern, filsafat konfusius telah menjadi simbol budaya Tiongkok.

            Peran konfusius dan ajaran filsafat yang paling penting adalah menegakkan kerasionalan nilai-nilai budaya Tiongkok, meletakkan sebuah dasar moral bagi peradaban Tiongkok, memeberikan kekuatan moral dan kekuatan spiritual yang mendasar bagi budaya Tiongkok serta menjadikan ajaran filsafat konfusius menjadi sebuah “peradaban moral”. Dalam sejarah Tiongkok disebut sebagai (the land of propriety), ini menunjukan bahwa negeri peradaban ini memiliki peradaban moral yang matang dan peradaban moral yang matang ini menjadi simbol yang menonjol dari budaya negeri secara keseluruhan. Kekuatan moral menjadi kekuatan lunak (soft power) yang paling menonjol dari peradaban Tiongkok. Semua ini berasal dari kekuatan pembentukan moral oleh konfusius dan ajaran filsafatnya.

Daftar Pustaka  

Cf. Mou Zongsan,.1998. Zhongxi zhexue zhi huitong shisi jiang (Fourteen Lectures on the Transformation between Chinese and Occidental Philosophies),  Shanghai: Shanghai Guji Chubanse.

Cf. Zhu Guangqian. 1936. Wenyi Xinlixue (Psychology of Literature and Art), Shanghai: Kaiming Shudian.

Cheng Qinhua. 1952. Everyday Chinese Wisdom, China: Foreign Language Press.

C.J. Ducasse. 1988. Philoshopy of Art. Beijing: Guanming Daily Press.

Ding Wangdao. 2007. The Konfucianisme and Taoisme, China: Foreign Language Press.

Fu Chunjiang. 2010. Origins of Chinese Culture. Singapore: Asiapacs Books PTE LTD.

 Falguni A. Sheth. 1968. Toward a Political Philoshopy of Race. New York: University of New York Press.

Wang Keping. 2004. The Classic of the Tao: A New Investigation, Beijing: Foreign Language Press.

Wang Keping. 2006. Chinese Philosophy on Life, Beijing: Foreign Language Press.

Wang Keping. 2007. Ethos of Chinese Culture, Beijing: Foreign Language Press.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s