IDENTITAS MASYARAKAT KONTEMPORER SEBAGAI GAMBARAN BUDAYA POPULER

Oleh : Rudiansyah

Latar Belakang Masalah

Budaya Populer merupakan hasil tinjauan dari kajian budaya (cultural studies), dimana kajian budaya memfokuskan diri pada hubungan antara relasi-relasi sosial dengan makna-makna. Budaya populer dapat dikatakan sebagai suatu budaya yang tanpa disadari masyarakat telah menjadi suatu kebudayaan. Seperti yang diketahui bahwa budaya berawal dari kebiasaan, dan kebiasaan masyarakat dalam mengkonsumsi barang-barang keluaran produk terbaru inilah yang akan dibahas.

Suatu budaya lahir karena memiliki latar belakang dan bisa dikatakan lahirnya budaya populer karena kehadiran dari industri budaya, dimana dalam industri budaya yang terjadi adalah komersialisasi, sehingga proses yang berlangsung dalam industri budaya adalah komodifikasi, standardisasi serta masifikasi. Komodifikasi berarti memperlakukan produk-produk budaya sebagai komoditas yang tujuan akhirnya adalah untuk diperdagangkan. Standardisasi berarti menetapkan kriteria tertentu yang memudahkan produk-produk industri budaya dicerna oleh khalayak. Adapun masifikasi berarti memproduksi berbagai hasil budaya dalam jumlah masal agar dapat meraih pangsa pasar seluas-luasnya. Dalam perkembangannya, industri budaya ini akhirnya menghasilkan apa yang disebut dengan budaya populer (Lukmantoro, 2003).

Pada mulanya kebudayaan tinggi dan rendah saling terpisah satu sama lain dan berdiri sendiri, karena terdapat dinding yang membatasi keduanya. Namun pada akhirnya, dinding tersebut diruntuhkan oleh apa yang saat ini disebut sebagai budaya massa. Pada budaya massa sudah tidak ada lagi batas antara budaya tinggi dan budaya rendah. Sebenarnya budaya massa terbentuk oleh kebutuhan masyarakat akan hiburan. Melalui industrialisasi dan perkembangan teknologi, produsen budaya pop menciptakan produk-produk untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya menuntut keefektifan (percepatan) dan keefisienan (kemudahan). Produsen budaya populer yakni negara-negara maju (kapitalis), dengan berbagai cara berupaya menanamkan budaya itu di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Secara tidak langsung, terjadi kolonisasi budaya oleh negara-negara maju (barat) atas negara-negara berkembang. Pada akhirnya apa yang membuat suatu komoditas populer adalah bukan untuk siapa atau untuk berapa banyak orang komoditas itu diproduksi, tetapi bagaimana komoditas itu diinterpretasikan.

Budaya populer membutuhkan masyarakat sebagai pembentuk kebudayaan. Suatu masyarakat erat kaitannya dengan waktu dan tempat dimana dia berada dan hidup. Saat ini masyarakat bisa menyebut keadaan yang kita alami dan  dialami sekarang sebagai budaya kontemporer.

Budaya Kontemporer

            Dewasa ini industri periklanan dan media massa bisa dikatakan menciptakan citra komersial yang mampu mengurangi keanekaragaman individualitas. Kepribadian menjadi gaya hidup, dalam hal ini manusia dinilai bukan oleh kepribadiannya tapi oleh seberapa besar kemampuannya mencontoh gaya hidup. Apa yang dipertimbangkan sebagai pilihan diri sendiri, baik dalam hal musik, makanan dan lainnya, sesungguhnya hal ini merupakan seperangkat kegemaran yang diperoleh dari kebudayaan yang cocok dengan tempat dimana manusia berada dalam struktur ekonomi masyarakat.

            Budaya kontemporer yang tercipta dewasa ini bisa kita lihat dari maraknya budaya massa yang tercipta. Televisi sebagai alat komunikasi banyak digunakan oleh para produsen untuk menawarkan produknya dan menjaring lebih banyak konsumen agar mendapatkan untung berlipat. Selain itu budaya internet merambah hingga ke pelosok dan berbagai macam kalangan menimbulkan perubahan dalam gaya hidup dan kebiasaan. Mental kebenaran universal hanya akan menciptakan oposisi-oposisi biner baru yang justru menghancurkan yang lain dari kearifan yang dimilikinya, maka harus ada upaya dekontruksi atau kebenaran (Derrida, 1964). Modernisme terlalu congkak dalam memahami otonomi manusia sebagai subjek berpikir yang melegitimasi epistemologi sebagai suatu yang netral, bersih serta suci dari hasrat untuk berkuasa (Nietzsche dan Foucoult, 1997).

Identitas Manusia

            Dalam kamus bahasa Indonesia, identitas dimengerti sebagai suatu ciri-ciri atau keadaan khusus dari seseorang. Sedangkan jika dilihat dari kamus besar Filsafat identitas diri diartikan sebagai cara seseorang membayangkan, mencirikan atau memandang diri sendiri, yaitu diri yang diyakini seseorang seharusnya memungkinkan seorang diri atau dilibatkan (Bagus, 2005).

            Berpikir mengenai dirinya sendiri adalah aktivitas manusia yang tidak dapat dihindarkan. Secara harafiah orang akan berpusat pada dirinya sendiri. Sehingga, self adalah pusat dari dunia sosial setiap orang. Sementara faktor genetik memainkan sebuah peran terhadap identitas diri atau konsep diri yang sebagian besar didasarkan pada interaksi dengan orang lain yang dipelajari yang dimulai dari anggota keluarga terdekat, kemudian meluas ke interaksi dengan mereka di luar keluarga (Robert, 2003).

            Secara etimologis, identitas berasal dari kata latin yaitu idem yang memiliki arti sama. Teori identitas dalam filsafat berkutat pada dua poros yaitu identitas sebagai closure. Identitas closure berarti identitas tertutup. Identitas sebagai sesuatu yang closure dilandasi bahwa identitas merupakan sesuatu yang melekat pada diri secara kodrat, sehingga bersifat tunggal, mutlak dan absolut.

Teori Manusia Kontemporer

            Permasalahan identitas manusia kontemporer akan ditelaah dari pandangan Baudrillard dan didukung oleh Fredric Jameson. Dalam penelaahannya dari sisi budaya masa kini maka filusuf yang diacu adalah Baudrillard dan dibantu oleh Jameson karena mereka adalah tokoh yang mewakili abad ini, dimana budaya masyarakat yang ada saat ini, yaitu konsumsi tanda atau simbol dan itu berarti adalah lanjutan dari sistem kapitalis. Keduanya memiliki konsentrasi masalah yang berbeda-beda, namun sebenarnya ingin menunjukkan permasalahan mengenai manusia dalam masyarakat dan budayanya.

  1. Jean Baudrillard

Jean Baudrillard lahir di Reims, Prancis pada 29 Juli 1929. Ia merupakan salah seorang pemikir postmodern yang menaruh perhatian besar pada persoalan kebudayaan dalam masyarakat kontemporer. Jean Baudrillard ingin mengungkapkan transformasi dan pergeseran yang terjadi dalam struktur masyarakat dewasa ini yang disebutnya sebagai masyarakat simulasi dan hiperrealitas. Melalui budaya massa dan budaya populer inilah lahir suatu prinsip komunikasi baru yang disebutnya sebagai prinsip bujuk-rayu (seduction). Bila sebelumnya proses komunikasi dipahami sebagai proses penyampaian pesan dari pemberi pesan (addressee) kepada penerima pesan (address) untuk diperoleh suatu makna tertentu, maka kini komunikasi dipahami sebagai proses bujuk-rayu objek oleh subjek untuk mengkonsumsi produk-produk yang ditawarkan. Dalam mekanisme komunikasi seperti ini, tak ada lagi pesan, tak ada lagi makna, kecuali semata dorongan memikat untuk mengkonsumsi apa yang ditawarkan.

  1. Fredric Jameson

Fredric Jameson lahir di Cleveland, Ohio pada 14 April 1934. Ia merupakan seorang kritikus Amerika dan teoritikus Marxist. Menurutnya postmodernisme sebagai spatialization budaya dibawah tekanan yang diselenggarakan kapitalisme. Pemikiran Jameson sangat relevan untuk melihat bagaimana mutasi budaya kapitalisme telah menciptakan apa yang disebut dengan “masyarakat komoditas” atau “masyarakat konsumeris”. Dari hal ini dapat dilihat, bahwa dalam menyikapi permasalahan manusia khususnya mengenai identitasnya maka pasti hal itu tidak akan bisa lepas dari faktor dalam dan luar pribadi individun yang bersangkutan. Dalam diri maka yang menyangkut pembicaraannya adalah psikologi dan dari luar adalah sosiologi sebagai bentuk interaksi manusia dengan lingkungannya.

  Kesimpulan

Budaya populer merupakan sebuah konsep yang menghasilkan suatu produk yang banyak disukai masyarakat. Budaya Populer kini menjadi trend baru yang mulai dikembangkan, terutama oleh negara-negara di Asia dengan memadukan konsep barat dan timur dalam satu kesatuan. Dengan tetap memegang pada konsep modern, budaya populer tidak sepenuhnya melepaskan nilai negaranya masing-masing. Keberadaan budaya populer merupakan wujud perlawanan terhadap kemapanan nilai-nilai budaya tinggi, yaitu budaya yang dihasilkan oleh kaum-kaum intelektual. Cukup banyak karakteristik budaya populer, salah satunya adalah menumbuhkan semangat konsumerisme. Terpaan budaya populer juga tidak terlepas dari pengaruh media massa, sehingga perlu dilakukan filterisasi terhadapa tayangan-tayangan yang disaksikan melalui media massa, baik itu berupa acara berita, sinetron maupun musik.

Melalui penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa dalam identitas manusia kontemporer sebagai gambaran budaya populer merupakan cerminan pada sebuah negara di era globalisasi saat ini. Budaya populer dapat dikatakan sebagai suatu budaya yang tanpa disadari masyarakat telah menjadi suatu kebudayaan. Seperti yang kita tahu bahwa budaya berawal dari kebiasaan, dan seperti halnya kebiasaan masyarakat dalam mengkonsumsi barang-barang produk terbaru.

Frederic Jameson menyatakan bahwa postmodernisme tidak lain adalah konsekuensi logis perkembangan kapitalisme lanjut. Melalui tulisannya “Postmodernism or The Cultural Logic of Late Capitalism”, Jameson meyakinkan bahwa resiko tak terelakkan dari dominasi kapitalisme lanjut yang telah berubah watak karena telah banyak belajar dari berbagai rongrongan dan kritik. Kapitalisme yang titik beratnya bergeser dari industri manufaktur ke industri jasa dan informasi . Kapitalisme yang demi kepentingan jangka panjang, secara cerdas mengakomodasikan tuntutan serikat pekerja, kelangsungan hidup lingkungan dan daya kreatif/kritis konsumen.

Daftar Pustaka

Baudrillard, Jean. 1969. The System of Objects. Reims : Prancis Press.

Bernet, Tony. 1982. Popular Culture: Defining Our Terms. Milton Keynes: University Press.

Brownislaw, Malionowski. 1967. A Functional Theory of Culture. Belanda: Belanda of History.

Bourdieu, Pierre. 1984. Distintion: A Social Critique of the Judgment of Taste. Cambridge: Harvard University Press.

Dwirezanti, Adina. 2012. Budaya Populer Sebagai Alat Diplomasi Publik: Analisa Peran Korean Wave Dalam Diplomasi Publik Korea Periode 2005-2010. Jakarta: Universitas Indonesia.

Fiske, John. 1989. Understanding Popular Culture, London: Unwin Hyman.

Gramsci, Antonio. 1971. Selections from Prison Notebooks. London: Lawrence & Wishart.

Jameson, Fredric. 1997. The Cultural Logic of Late Capitalism. Ohio: New York Press.

Maltby, Richard. 1989. Popular Culture in the 20th Century. London: Routledge.

Ristinawati, Rika. 2009. Budaya Populer di Era Kontemporer. Jakarta: Universitas Indonesia.

Ross, Andrew. 1989. No Respect: Intelectuals and Popular Culture. London: Routledge.

Storey, John. 2010. Cultural Theory and Popular Culture. London: Prentice Hall.

Warsito, Tulus dan Wahyuni Kartikasari. 2007. Diplomasi Kebudayaan, Konsep dan Relevansi Bagi Negara Berkembang: Studi Kasus Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s