PEMAHAMAN RETORIKA

Oleh : Rudiansyah

Latar Belakang Masalah

Sejarah retorika muncul pada abad ke-5 sebelum masehi. Korax, seorang Yunani dan muridnya Teisios (keduanya berasal dari Syrakuse-Sisilia) menerbitkan sebuah buku yang pertama tentang retorika. Tetapi retorika sebagai seni dan kepandaian berbicara, sudah ada dalam sejarah jauh lebih dahulu. Di dalam kesusastraan Yunani kuno, Homerus dalam Ilias dan Odyssee menulis pidato yang panjang. Selain itu bangsa-bangsa seperti Mesir, India dan Tiongkok juga sudah mengembangkan seni berbicara jauh hari sebelumnya. Plato, menjadikan Gorgias dan Socrates sebagai contoh retorika yang benar, atau retorika yang berdasarkan pada Sophisme dan retorika yang berdasar pada filsafat. Sophisme mengajarkan kebenaran yang relatif, dengan kata lain filsafat membawa orang kepada pengetahuan yang sejati. Ketika merumuskan retorika yang benar-benar membawa orang pada hakikat, Plato membahas organisasi gaya dan penyampaian pesan. Dalam karyanya, Plato menganjurkan para pembicara untuk menganal jiwa pendengarnya. Dengan demikian, Plato meletakkan dasar-dasar retorika ilmiah dan psikologi khalayak. Ia telah mengubah retorika sebagai sekumpulan teknik (sophisme ) menjadi sebuah wacana ilmiah.

Retorika berasal dari bahasa Yunani “Rhetorica” atau bahasa Inggris “Rhetoric” yang berarti “kemahiran dalam berbicara dihadapan umum”. I Gusti Ngurah Oka, memberikan definisi sebagai berikut, “Ilmu yang mengajarkan tindak dan usahayang untuk dalam persiapan, kerjasama, serta kedamaian ditengah masyarakat”. Dengan demikian termasuk dalam cakupan pengertian retorika adalah: Seni berbicara-kemahiran dan kelancaran berbicara-kemampuan memproduksi gagasan-kemampuan mensosialisasikan sehingga mampu mempengaruhi audience. Secara etimologis istilah retorika berasal dari bahasa Yunani (Rhetorica), yang berarti seni berbicara. Dalam bahasa Inggris, kata rhetoric berarti kefasihan dalam berbicara. Dalam terminologi, retorika dikenal sebagai seni berbicara.

Istilah retorika mulai muncul di Yunani pada abad ke-5 SM. Pada saat orang-orang Yunani sebagai pusat budaya barat dan filsuf bersaing untuk mencari apa yang mereka anggap sebagai kebenaran. Pengaruh budayaYunani menyebar ke timur seperti Mesir, India, Persia, dan bahkan Indonesia. Retorika mulai berkembang pada zaman Socrates, Plato, dan Aristoteles, kemudian berkembang menjadi retorika ilmu pengetahuan dan pada saat itu Georgias dianggap sebagai guru pertama dalam ilmu retorika.

Dari pengertian diatas, maka ada dua hal yang perlu ditarik dan diperhatikan, yaitu kemahiran atau seni dan ilmu. Retorika sebagai kemahiran atau seni sudah tentu mengandung unsur bakat (nativisme), kemudian retorika sebagai ilmu akan mengandung unsur pengalaman (empirisme) yang bisa digali, dipelajari dan di inventarisasikan. Hanya sedikit perbedaan bagi mereka yang sudah mempunyai bakat akan berkembang lebih cepat, sedangkan bagi yang tidak mempunyai bakat akan berjalan dengan lamban. Dari sini kemudian lahirlah suatu anggapan bahwa retorika merupakan artistic science (ilmu pengetahuan yang mengandung seni) dan scientivicart (seni yang ilmiah). Sementara menurut yang lain, retorika (rhetoric) secara harfiyah artinya berpidato atau kepandaian berbicara dan kini lebih dikenal dengan nama public speaking. Dewasa ini retorika cenderung dipahami sebagai omong kosong atau permainan kata-kata (words games), juga bermakna propaganda (memengaruhi dan mengendalikan pemikiran-perilaku orang lain). Teknik propaganda words games terdiri dari name calling (pemberian julukan buruk, labelling theory), glittering generalities (kebalikan dari name calling, yakni penjulukan dengan label asosiatif bercitra baik), dan eufemisme (penghalusan kata untuk menghindari kesan buruk atau menyembunyikan fakta sesungguhnya). Menurut Kenneth Burke, bahwa setiap bentuk-bentuk komunikasi adalah sebuah drama, karenanya seorang pembicara hendaknya mampu mendramatisir (membuat audiance merasa tertarik) terhadap pembicara, sedangkan menurut Walter Fisher bahwa setiap komunikasi adalah bentuk dari cerita (storytelling), karenanya jika kita mampu bercerita sesungguhnya kita punya potensi untuk berpidato dan menjadi motivator.

Dalam buku Theories of Human Communication karangan Little John, dikatakan bahwa studi retorika sesungguhnya adalah bagian dari disiplin ilmu komunikasi, karena di dalam retorika terdapat penggunaan simbol-simbol yang dilakukan oleh manusia. Retorika berhubungan erat dengan komunikasi persuasi, sehingga retorika juga dapat di katakan suatu seni dari mengkonstruksikan argumen dan pembuatan pidato. Little John mengatakan retorika adalah ”adjusting ideas to people and people to ideas” (Little John, 2004,p.50). Selanjutnya dikatakan bahwa retorika adalah seni untuk berbicara baik, yang dipergunakan dalam proses komunikasi antarmanusia (Hendrikus, 1991,p.14). Sedangkan oleh sejarawan dan negarawan George Kennedy mendefinisikan retorika sebagai ”The energy inherent in emotion and thought, transmitted through a system of signs, including language to other to influence their decisions or actions” (Puspa, 2005:p.10), yang dalam bahasa Indonesia retorika adalah ”suatu energi yang sejalan dengan emosi dan pemikiran yang dipancarkan melalui sebuah sistem dari tanda-tanda, termasuk didalamnya bahasa yang ditujukan pada orang lain untuk mempengaruhi pendapat mereka atau aksi mereka. Retorika (rethoric) biasanya disinonimkan dengan seni atau kepandaian berpidato, sedangkan tujuannya adalah menyampaikan pikiran dan perasaan kepada orang lain agar mereka mengikuti kehendak kita.

Menurut Aristoteles, dalam retorika terdapat 3 bagian inti yaitu :

  1. Ethos (ethical) : Yaitu karakter pembicara yang dapat dilihat dari cara seseorang berkomunikasi.
  2. Pathos (emotional) : Yaitu perasaan emosional khalayak yang dapat dipahami dengan pendekatan psikologi massa.
  3. Logos (logical) : Yaitu pemilihan kata atau kalimat atau ungkapan oleh pembicara.

Menurut Kenneth Burke, bahwa setiap bentuk-bentuk komunikasi adalah sebuah drama. Karenanya seorang pembicara hendaknya mampu mendramasir ceritanya. Gaya bahasa retorika Metafora (menerangkan sesuatu yang sebelumnya tidak dikenal dengan mengidentifikasikannya dengan sesuatu yang dapat disadari secara langsung, jelas dan dikenal); Monopoli semantik (penafsir tunggal yang memaksakan kehendak atas teks yang multi-interpretatif); Fantasy themes (tema-tema yang dimunculkan oleh penggunaan kata/istilah bisa memukau khalayak); Labelling (penjulukan, audiens diarahkan untuk menyalahkan orang lain), Kreasi citra (mencitrakan positif pada satu pihak, biasanya si subjek yang berbicara); Kata topeng (kosakata untuk mengaburkan makna harfiahnya/realitas sesungguhnya); Kategorisasi (menyudutkan pihak lain atau skenario menghadapi musuh yang terlalu kuat, dengan memecah-belah kelompok lawan); Gobbledygook (menggunakan kata berbelit-belit, abstrak dan tidak secara langsung menunjuk kepada tema, jawaban normatif); Apostrof (pengalihan amanat dengan menggunakan proses/kondisi/pihak lain yang tidak hadir sebagai kambing hitam yang bertanggung jawab kepada suatu masalah).

Pentingnya Retorika

Terkadang kita sering tidak sadar seberapa pentingkah berbicara dalam kehidupan kita. Banyak orang berbicara semaunya, seenaknya tanpa memikirkan apa isi dari pembicaraan mereka tersebut. Sebenarnya berbicara mempunyai artian mengucapkan kata atau kalimat kepada seseorang atau sekelompok orang, untuk mencapai tujuan tertentu (misalnya memberikan informasi atau memberi motivasi). Tapi sering kali kita mengalami kesulitan dalam mengungkapakan maksud dan isi pikiran kita kepada orang lain. Bahkan sering pula maksud yang kita sampaikan berbeda dengan yang ditangkap oleh pendengar.
Oleh karena itu berbicara sangatlah penting karena yang membedakan manusia dari hewan maupun makhluk lainnya adalah kesanggupan berbicara. Manusia adalah makhluk yang sanggup berkomunikasi lewat bahasa dan berbicara. Tetapi yang lebih mencirikan hakikat manusia sebagai manusia penuh adalah kepandaian dan keterampilan dalam berbicara. Pengetahuan bahasa saja belum cukup, kebesaran dan kelihaian seseorang sebagai manusia juga ditentukan oleh kepandaiannya dalam berbahasa, oleh keterampilannya dalam mengungkapkan pikiran secara tepat dan meyakinkan. Quintilianus, seorang bapak ilmu retorika berkebangsaan Romawi mengatakan, “Hanya orang yang pandai bicara adalah sungguh-sungguh manusia.” Di dalam dunia musik ada sebuah pesan yang berbunyi, “Bermain piano itu tidak sulit, seseorang hanya perlumenempatkan jari yang tepat pada saat yang tepat di atas tangga nada yang tepat. Kata-kata ini juga dapat dikenakan ke dalam ilmu retorika : “Berbicara itu sama sekali tidak sulit, seseorang hanya harus mengucapkan kata-kata yang tepat pada saat yang tepat kepada pendengar yang tepat.” Memang untuk terampil dalam berbicara tidaklah semudah itu.Untuk menjadi seorang yang pandai bicara, dibutuhkan latihan yang sistematis dan tekun. Sejarah sudah membuktikannya, orang-orang kenamaan seperti : Demosthenes, Cicero, Napoleon Bonaparte, winston Churchill, Adolf Hitler, J.F Kennedy, Marthin Luther King adalah orang-orang yang menjadi retor terkenal lewat latihan yang teratur, sistematis dan tekun.

Lalu mengapa kita perlu mempelajari retorika? Sering orang mengatakan, ”Dia tahu banyakhal, hanya sajatidak dapat mengungkapkannya dengan baik, seseorang tidak dapat mengungkapkan pikirannya secara meyakinkan.” Sangatlah menyedihkan, apabila orang memiliki pengetahuan yang berguna, tetapi tidak dapat mengkomunikasikannya secara mengesankan dan meyakinkan kepada orang lain. Hal tersebut merupakan salah satu contoh mengapa retorika itu penting. Retorika berarti kesenian untuk berbicara baik (Kunst, gut zu redden atau Ars bene dicendi), yang dicapai berdasarkan bakat alam (talenta) dan keterampilan teknis (ars, techne). Sekarang ini retorika diartikan sebagai kesenian untuk berbicara baik, yang dipergunakan dalam proses komunikasi antarmanusia. Kesenian berbicara ini bukan hanya berarti berbicara lancar tanpa jalan pikiran yang jelas dan tanpa isi, melainkan suatu kemapuan untuk berbicara dan berpidato secara singkat, jelas, padat dan mengesankan. Retorika modern mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi dan fantasi yang tinggi, teknik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta penilaian yang tepat. Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara pengetahuan, pikiran, kesenian, dan kesanggupan berbicara. Dalam bahasa percakapan atau bahasa populer, retorika berarti pada tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, atas cara yang lebih efektif, mengucapkan kata-kata yang tepat, benar dan mengesankan. Itu berarti kita harus dapat berbicara jelas, singkat dan efektif.

Retorika adalah suatu gaya atau seniberbicara, baik yang dicapai berdasarkan bakat alami (talenta) dan keterampilan teknis. Dewasa ini retorika diartikan sebagai kesenian untuk berbicara denganbaik yang dipergunakan dalam proses komunikasi antar manusia. Kesenian berbicara ini bukan hanya berarti berbicara secara lancar tampa jalan pikiran yang jelas dan tanpa isi, melainkan suatu kemampuan untuk berbicara dan berpidato secara singkat, jelas, padat dan mengesankan. Retorika modern mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi dan fantasi yang tinggi, teknik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta penilaian yang tepat.  Beretorika juga harus dapat dipertanggungjawabkan disertai pemilihan kata dan nada bicara yang sesuai dengan tujuan, ruang, waktu, situasi, dan siapa lawan bicara yang dihadapi.Titik tolak retorika adalah berbicara, berbicara berarti mengucapkan kata atau kalimat kepada seseorang atau sekelompok orang, untuk mencapai suatu tujuan tertentu (misalnya memberikan informasi). Berbicara adalah salah satu kemampuan khusus pada manusia. Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara pengetahuan, pikiran, kesenian dan kesanggupan berbicara. Dalam bahasa percakapan atau bahasa populer, retorika berarti pada tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, atas cara yang lebih efektif, mengucapkan kata-kata yang tepat, benar dan mengesankan. Itu bukti bahwaseseorang harus dapat berbicara jelas, singkat dan efektif. Jelas dimaksudkan agar mudah dimengerti; singkat untuk mengefektifkan waktu dan sebagai tanda kepintaran. Sebuah pepatah cina mengatakan, “Seseorang yang menembak banyak, belum tentu seorang penembak yang baik.” Keterampilan dan kesanggupan untuk menguasai seni berbicara ini dapat dicapai dengan mencontoh para tokoh-tokoh yang terkenal dengan mempelajari dan mempergunakan hukum-hukum retorika dengan melakukan latihan yang teratur. Dalam seni berbicara dituntut juga penguasaan bahan dan pengungkapan yang tepat melalui bahasa.

Berikut pengertian retorika yang dikemukakan oleh beberapa ahli di bidang retorika:

  • Pengertian Retorika Menurut Richard E. Young : Retorika adalah ilmu yang mengajarkan bagaimana kita menggarap masalah wicara-tutur kata secara heiristik, epistomologi untuk membina saling pengertian dan kerjasama.
  • Pengertian Retorika Menurut Socrates: Retorika adalah ilmu yang mempersoalkan tentang bagaimana mencari kebenaran dengan dialog sebagai tekniknya. Karena dialog, kebenaran dapat timbul dengan sendirinya.
  • Pengertian Retorika Menurut Plato: Retorika adalah kemampuan di dalam mengaplikasikan bahasa lisan yang sempurna dan merupakan jalan bagi seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang luas dan sempurna.
  • Konrad Lorenz mengatakan:

Apa yang diucapkan tidak berarti juga di dengar, apa yang di dengar tidak berarti juga di mengerti, apa yang di mengerti tidak berarti juga di setujui, apa yang di setujui tidak berarti juga di terima, apa yang di terima tidak berarti juga di hayati dan apa yang di hayati tidak berarti juga mengubah tingkah laku.

Retorika penting supaya apa yang di ucapkan dapat di dengar, apa yang di dengar dapat di setujui, apa yang disetujui dapat di terima, apa yang diterima dapat di hayati dan apa yang di hayati dapat mengubah tingkah laku.

Dari beberapa pengertian retorika diatas, apapun defenisi dan siapapun yang mengemukakannya semua mengacu dan memberi penekanan kepada kemampuan menggunakan bahasa lisan (berbicara) yang baik dengan memberikan sentuhan gaya (seni) di dalam penyampaiannya dengan tujuan untuk mengikat/menggugah hati pendengarnya untuk mengerti dan memahami pesan yang disampaikannya.

Retorika Sebagai Seni Berbicara

Mengenaiberbicaratentunyatakluputdarisejarahmanusiamulai di kenalkan. Imam al-Akhdlariy menyebutkan bahwa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah bahwa manusia itu disebut hayawanun nathiqun artinya “binatang yang pandai berbicara. Demikian pula orang-orang yang mampu mengubah sejarah peradaban dunia, mereka itu pada umumnya sangat piawai dalam mengolah kata dan bermain kalimat. Mulai dari para filusuf Yunani seperti Socrates, Aristoteles, dan Plato, sampai dengan para politikus, dan negarawan seperti Hitler, Musolini, Thomas Aquinas, Montesqueu, hingga negarawan kita yang cukup mahir dalam berorator seperti Bung Karno dan Bung Tomo.
Mereka memiliki karakter gaya bicara yang berbeda dan pendengar akan terlena dalam buaian kata-kata indah mereka. Kesimpulannnya adalah bahwa berbicara yang baik dan bermakna akan mengandung kekuatan spiritual tersendiri. Berbahasa Indonesia yang baik merupakan bagian identitas bangsa. Berbicara yang baik dan benar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baku harus dapat disosialisasikan oleh para publik figur, selebritis, di negeri ini. Pada era orde baru tampaknya justru yang merusak kaidah bahasa Indonesia adalah orang nomor satu di Indonesia. Indikasi “pengrusakkan” kaidah bahasa Indonesia era sekarang kiranya didominasi oleh bahasa iklan di media masa. Dalam hal ini perlu diadakan aturan main dalam memproduksi bahasa sebuah iklan, agar tidak merusak tatanan kaidah yang sudah baku. Penggunaan bahasa dan isitilah asing yang diadopsikan ke dalam bahasa Indonesia seharusnya dibatasi. Kalau tidak bisa disederhanakan oleh si pembicara sebaiknya tidak perlu diucapkan. Akan tetapi justru gejala ini dibuat sengaja oleh orang-orang yang masih setengah-setengah mengenyam pendidikan tinggi. Atau demi gengsi-gengsian mereka berbicara yang sok ilmiah. Ironisnya, justru mereka sendiri tidak mengerti apa sebenarnya isi pembicaraannya. Sepanjang sejarah, kongres bahasa Indonesia itu sudah sering dilaksanakan. Sehingga yang disebut dengan EYD entah akan berapa kali lagi akan disempurnakan. Barangkali akan lebih monumental jika gramatikal bahasa Indonesia itu secara resmi diundangkan. Dengan segala implikasinya, layaknya sebuah undang-undang (lengkap dengan sanksi hukum, jika ada penyalahgunaan istilah atau lainnya).

Alasan Mempelajari Retorika

Martin Luther berpendapat, ”Siapa yang pandai berbicara adalah seorang manusia, sebab berbicara adalah kebijaksanaan dan kebijaksanaan adalah berbicara. Di atas selembar papirus yang ditemukan di dalam sebuah makam tua di Mesir tertulis, ”Binalah dirimu menjadi seorang ahli pidato, sebab dengan begitu engkau akan menang.” Di dalam masyarakat umumnya dicari para pemimpin atau orang-orang berpengaruh, yang memiliki kepandaian di dalam hal berbicara. Juga di bidang-bidang lain seperti perindustrian, perekonomian dan bidang sosial, kepandaian berbicara atau keterampilan mempergunakan bahasa secara efektif sangat di andalkan. Menguasai kesanggupan berbahasa dan keterampilan berbicara menjadi alasan utama keberhasilan orang-orang terkenal di dalam Sejarah Dunia seperti : Demosthenes, Socrates, J. Caesar, St. Agustinus, St. Ambrosius, Martin Luther, Martin Luther King, J.F Kennedy, Soekarno dan lain-lain. Dalam Sejarah Dunia justru kepandaian berbicara atau berpidato merupakan instrumen utama untuk mempengaruhi massa. Bahasa dipergunakan untuk meyakinkan orang lain. Ketidakmampuan dalam mempergunakan bahasa membuat ketidakjelasan dalam mengungkapkan masalah atau pikiran dapat membawa dampak negatif dalam hidup dan karya seorang pemimpin. Oleh karena itu, pengetahuan tentang retorika dan ilmu komunikasi yang memadai akan membawa keuntungan bagi pribadi bersangkuatan dalam beberapa bidang tertentu. Banyak pria dan wanita dalam sejarah memperoleh suskes besar dalam hidup dan kariernya sebagai pemimpin, berkat penguasaan ilmu retorika. Sebab penguasaan teknik berbicara akan mempertinggi kepercayaan terhadap diri dan memberi rasa  pasti kepada orang yang bersangkutan. Bagi para pemimpin, retorika adalah alat penting untuk mempengaruhi dan menguasai manusia.

Retorika (Bahasa Yunani ῥήτωρ, rhêtôr, orator, teacher) adalah sebuah teknik pembujuk-rayuan secara persuasi untuk menghasilkan bujukan dengan melalui karakter pembicara, emosional atau argumen (logo), awalnya Aristoteles mencetuskan dalam sebuah dialog sebelum The Rhetoric dengan judul ‘Grullos’ atau Plato menulis dalam Gorgias, secara umum ialah seni manipulatif atau teknik persuasi politik yang bersifat transaksional dengan menggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan pendengar melalui pidato, persuader dan yang dipersuasi saling bekerja sama dalam merumuskan nilai, keprcayaan dan pengharapan mereka. Ini yang dikatakan Kenneth Burke (1969) sebagai konsubstansialitas dengan penggunaan media oral atau tertulis, bagaimanapun, definisi dari retorika telah berkembang jauh sejak retorika naik sebagai bahan studi di universitas. Dengan ini, ada perbedaan antara retorika klasik (dengan definisi yang sudah disebutkan diatas) dan praktek kontemporer dari retorika yang termasuk analisa atas teks tertulis dan visual. Dalam doktrin retorika Aristoteles terdapat tiga teknis alat persuasi politik yaitu deliberatif, forensik dan demonstratif. Retorika deliberatif memfokuskan diri pada apa yang akan terjadi dikemudian bila diterapkan sebuah kebijakan saat sekarang. Retorika forensik lebih memfokuskan pada sifat yuridis dan berfokus pada apa yang terjadi pada masa lalu untuk menunjukkan bersalah atau tidak, pertanggungjawaban atau ganjaran. Retorika demonstartif memfokuskan pada epideiktik, wacana memuji atau penistaan dengan tujuan memperkuat sifat baik atau sifat buruk seseorang, lembaga maupun gagasan.

Aristoteles adalah murid Plato, filsuf terkenal dari zaman Yunani Kuno. Kala itu, di Yunani dikenal Kaum Sophie yang mengajarkan cara berbicara atau berorasi kepada orang-orang awam, pengacara, serta para politisi. Plato sendiri banyak menyindir perilaku kaum Sophie ini karena menurutnya orasi yang mereka ajarkan itu miskin teori dan terkesan dangkal. Aristoteles berpendapat bahwa retorika itu sendiri sebenarnya bersifat netral, maksudnya adalah orator itu sendiri bisa memiliki tujuan yang mulia atau justru hanya menyebarkan omongan yang gombal atau bahkan dusta belaka. Menurutnya, “By using these justly one would do the greatest good, and unjustly, the greatest harm” (1991: 35). Aristoteles masih percaya bahwa moralitas adalah yang paling utama dalam retorika, akan tetapi dia juga menyatakan bahwa retorika adalah seni. Retorika yang sukses adalah yang mampu memenuhi dua unsur, yaitu kebijaksanaan (wisdom) dan kemampuan dalam mengolah kata-kata (eloquence).

Teori Retorika

Teori retorika adalah cara menggunakan seni berbahasa yang berpusat pada pemikiran mengenai retorika (gaya berbahasa/seni berbahasa), yang disebut oleh Aristoteles sebagai alat persuasi yang tersedia, maksudnya adalah seorang pembicara yang tertarik untuk membujuk pendengarnya untuk mempertimbangkan tiga bukti retoris yaitu logika (logos), emosi (pathos) dan etika/kredibilitas (ethos). Khalayak merupakan kunci dari persuasi yang efektif, dan silogisme retoris, yang memandang khalayak untuk menemukan sendiri informasi yang kurang lengkap dari suatu pidato yang tidak seluruhnya didengar. Sehingga, dapat diambil kesimpulan bahwa teori retorika adalah teori yang yang memberikan petunjuk untuk menyusun sebuah presentasi atau pidato persuasif yang efektif dengan menggunakan alat-alat persuasi yang tersedia.

Perlu diingat bahwa model komunikasi ini semakin lama semakin berkembang, tapi selau akan ada tiga aspek yang selalu sama dari masa ke masa, yaitu : sumber pengirim pesan, pesan yang dikirimkan, dan penerima pesan.

Asumsi Teori Retorika

Asumsi teori retorika adalah landasanberfikir yang dapat digunakan dalam menggunakan retorika, asumsi teori retorika terdiri atas:

  1. Pembicara yang efektif harus mempertimbangkan khalayak. Asumsi ini menekankan bahwa hubungan antara pembicara-khalayak harus dipertimbangkan. Para pembicara tidak boleh menyusun atau menyampaikan sebuah gagasan atau pidato dengan seni berbahasa yang dimilikinya tanpa mempertimbangkan atau memperhatikan khalayak, tetapi harus berpusat pada khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap sebagai sekelompok besar orang yang memiliki motivasi, keputusan, pilihan dan bukan sebagai sekelompok besar orang yang memiliki watak yang sama dan serupa. Asumsi ini menggarisbawahi definisi retorika atau komunikasi sebagai sebuah proses transaksional. Agar suatu pidato efektif harus dilakukan analisis khalayak (audience analysis), yang merupakan proses mengevaluasi suatu khalayak dan latar belakangnya serta menyusun pidato sedemikian rupa sehingga para pendengar memberikan respon sebagaimana yang diharapkan pembicara.
  2. Pembicara yang efektif menggunakan beberapa bukti dalam presentasi. Asumsi ini berkaitan dengan apa yang dilakukan pembicara dalam persiapan penyampaian gagasan atau pidato mereka dan dalam pembuatan pidato tersebut. Bukti-bukti yang dimaksudkan ini merujuk pada cara-cara persuasi yaitu: ethos, pathos dan logos. Ethos adalah karakter, intelegensi, dan niat baik yang dipersepsikan dari seorang pembicara. Logos adalah bukti logis atau penggunaan argument dan bukti dalam sebuah pidato. Pathos adalah bukti emosional atau emosi yang dimunculkan dari para anggota khalayak.

Kanon Teori Retorika

Kanon merupakan tuntunan atau prinsip-prinsip teori retorika yang harus diikuti oleh pembicara agar penyampaian gagasan atau pidato menjadi efektif, yaitu:

  1. Penemuan (invention), didefinisikan sebagai konstruksi atau penyusunan dari suatu argument yang relevan dengan tujuan dari suatu pidato. Dalam hal ini perlu adanya integrasi cara berfikir dengan argumen dalam pidato. Oleh karena itu, dengan menggunakan logika dan bukti dalam pidato dapat membuat sebuah pidato menjadi lebih kuat dan persuasive.
  2. Pengaturan (arrangement), berhubungan dengan kemampuan pembicara untuk mengorganisasikan gagasan atau pidato yang disampaikanya. Pidato secara umum harus mengikuti pendekatan yang terdiri atas tiga hal yaitu pengantar (introduction), batang tubuh (body), dan kesimpulan (conclusion). Pengantar merupakan bagian pembukaan dalam suatu pidato yang cukup menarik perhatian khalayak, menunjukkan hubungan topik dengan khalayakdan memberikan pembahasan singkat mengenai tujuan pembicara. Batang tubuh merupakan bagian isi dari pidato yang mencakup argument, contoh dan detail penting untuk menyampaikan suatu pemikiran. Penutup  atau epilog merupakan bagian kesimpulan isi pidato yang ditujukan untuk merangkum poin-poin penting yang telah disampaikan pembicara dan untuk menggugah emosi khalayak.
  3. Gaya (style), merupakan kanon retorika yang mencakup penggunaan bahasa untuk menyampaikan ide-ide di dalam sebuah penyampaian  gagasan atau pidato. Dalam penggunaan bahasa harus menghindari glos (kata-kata yang sudah kuno dalam pidato), akan tetapi lebih dianjurkan menggunakan metafora (majas yang membantu untuk membuat hal yang tidak jelas menjadi lebih mudah dipahami). Penggunaan gaya memastikan bahwa suatu pidato dapat diingat ide-ide dari pembicara.
  4. Penyampaian (delivery), adalah kanon retorika yang merujuk pada presentasi nonverbal dari ide-ide pembicara. Penyampaian biasanya mencakup beberapa perilaku seperti kontak mata, tanda vokal, ejaan, kejelasan pengucapan, dialek, gerak tubuh, dan penampilan fisik. Penyampaian yang efektif mendukung kata-kata pembicara dan membantu mengurangi ketegangan pembicara.
  5. Ingatan (memory) adalah kanon retorika yang merujuk pada usaha-usaha pembicara untuk menyimpan informasi untuk sebuah pidato. Dengan ingatan, seseorang pembicara dapat mengetahui apa saja yang akan dikatakan dan kapan mengatakannya, meredakan ketegangan pembicara dan memungkinkan pembicara untuk merespons hal-hal yang tidak terduga.

Jenis-Jenis Teori Retorika

Jenis-jenis teori retorika adalah salah satu ragam retorika yang telah dikelompokan berdasarkan fungsinya, situasai yang tepat dan ketepatan menggunakan jenis retorika dalam penyampaian gagasan atau penyampaian pidato dengan mengetahui  jenis-jenis retorika maka teori retorika akan lebih mudah dipahami dan dilaksanakan bagi orator atau pembicara. Jenis-jenis retorika terdiri atas:

  1. Retorika forensic (forensic rhetoric), berkaitan dengan keadaan dimana pembicara mendorong timbulnya rasa bersalah atau tidak bersalah dari khalayak. Pidato forensic atau juga disebut pidato yudisial biasanya ditemui dalam kerangka hukum. Retorika forensic berorientasi pada masa waktu lampau. Contoh retorika forensic yaitu retorika atau seni berbahasa yang digunakan oleh seorang hakim dalam menimbang keputusan tentang salah atau tidak seorang tersangka dalam perkara yang disidangkan dilihat dari perbuatanya di masalalu.
  2. Retorika epideiktik (epideictic rhetoric), adalah jenis retorika yang berkaitan dengan wacana yang berhubungan dengan pujian atau tuduhan. Pidato epideiktik sering disebut juga pidato seremonial. Pidato jenis ini disampaikan kepada publik dengan tujuan untuk memuji, menghormati, menyalahkan dan mempermalukan. Pidato jenis ini berfokus pada isu-isu sosial yang ada pada masa sekarang.
  3. Retorika deliberative (deliberative rhetoric), adalah jenis retorika yang menentukan tindakan yang harus dilakukan atau yang tidak boleh dilakukan oleh khalayak. Pidato ini sering disebut juga dengan pidato politis. Pidato deliberative berorientasi pada masa waktu yang akan datang. Contohnya pidato yang disampaikan oleh calon ketua partai dalam kampanye.

 Kesimpulan

  • Teori retorika adalah cara menggunakan seni berbahasa yang berpusat pada pemikiran mengenai retorika (gaya berbahasa/seni berbahasa), yang disebut oleh Aristoteles sebagai alat persuasi yang tersedia yaitu ethos, pathos dan logos.
  • Asumsi teori retorika meliputi: memperhatikan khalayak saat akan berbicara dan menggunakan bukti untuk memperkuat argumen yang dibicarakan.
  • Kanon atau prinsip teori retorika yaitu:
  1. Penemuan (invention), didefinisikan sebagai konstruksi atau penyusunan dari suatu argument yang relevan dengan tujuan dari suatu pidato.
  2. Pengaturan (arrangement), berhubungan dengan kemampuan pembicara untuk mengorganisasikan gagasan atau pidato yang disampaikanya.
  3. Gaya (style), merupakan kanon retorika yang mencakup penggunaan bahasa untuk menyampaikan ide-ide di dalam sebuah penyampaian gagasan atau pidato.
  4. Penyampaian (delivery), adalah kanon retorika yang merujuk pada presentasi nonverbal dari ide-ide pembicara.
  5. Ingatan (memory) adalah kanon retorika yang merujuk pada usaha-usaha pembicara untuk menyimpan informasi untuk sebuah pidato.
  • Jenis-jenis teori retorika terdiri atas:
  1. Retorika forensic (forensic rhetoric) atau pidato yudisial, berkaitan dengan keadaan dimana pembicara mendorong timbulnya rasa bersalah atau tidak bersalah dari khalayak.
  2. Retorika epideiktik (epideictic rhetoric), adalah jenis retorika yang berkaitan dengan wacana yang berhubungan dengan pujian atau tuduhan.
  3. Retorika deliberative (deliberative rhetoric), adalah jenis retorika yang menentukan tindakan yang harus dilakukan atau yang tidak boleh dilakukan oleh khalayak.

Daftar Pustaka

 Brooks, Cleanthdan Robert Penn Warren. 1970. Modern Rethoric. New York: Harcourt, Brace and World.

Cavallaro, Dani. 2001. Critical and Cultural Theory. London: The Athlone Press.

Cf. Zhu Guangqian, Wenyi Xinlixue. 1936. Psychology of Literature and Art.Shanghai:Kaiming Shudian.

Fairclough, Norman. 1997. Discourse and Social Change. Cambridge: Polity Press.

Fairclough, Norman. 2001. Language and Power. England: Pearson Education Limited.

Golden, James L Berquist, Goodwin, and Coleman, William E. 1983. The Rethoric of Western Thought. Iowa: Kendli / Hunt Publishing.

Griffin, Emory A. 2003. A First Look at Communication Theory. New York: McGraw-Hill.

Keraf, Goris. 1994. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Penerbit Gramedia.

Lado, Robert. 1964. Language Teaching A Scientific Approach. New York: Mc­Graw-Hill,Inc.

 Muhtadi, Asep Saepul. 2008. Komunikasi Politik Indonesia: Dinamika Islam Politik Pasca Orde Baru. Bandung: Remaja Rosda karya.

 Mulyana Deddy. 2008. Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. Jakarta : Remaja Rosdakarya.

 Michael Burgoon. 1974. Appproaching Speech Communication. New York: Holt,Rinehart & Winston.

Oka, LG.N. Basuki. 1990. Retorik Kiat Bertutur. Malang: Penerbit YA3 Malang.

Syafi’ie, Imam. 1988. Retorika dalam Menulis. Malang: PPS IKIP Malang.

Taylor, Edward Burned. 1969. Primitive Culture. Inggris: Fried Press.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s