PENERAPAN SENI TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PADA BANGUNAN RUMAH TJONG A FIE

Oleh : Rudiansyah

Latar Belakang Masalah

Negara Tiongkok merupakan salah satu peradaban tertua didunia. Perkembangan seni, teknologi dan industri serta arsitektur Tiongkok sudah ditemukan pada jaman batu baru (Neolitikum), yaitu sekitar 2000 tahun SM. Menurut berita Tiongkok, diketahui bahwa kerajaan Sriwijaya telah mengirimkan utusannya ke negeri Tiongkok sejak abad ke-5 M sampai pertengan abad ke-6 M (Marwati dan Nugroho, 1993). Seiring dengan merantaunya orang-orang Tiongkok ke Indonesia maka masuk pula kebudayaan mereka, seperti bahasa, religi, kesenian, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup, teknologi, serta sistem mata pencaharian hidup. Sejalan dengan hal itu, berbagai gagasan dan artefak budaya Tiongkok juga di terapkan oleh komunitas ini di Indonesia, termasuk pola tata letak serta bangunan bergaya Tiongkok, seperti vihara, masjid, klenteng, bahkan rumah-rumah tempat tinggal mereka.

Dalam pergulatan ilmu budaya, terjadi berbagai macam ragam pendapat dalam menentukan awal mula keberadaan Pecinan (tang ren jie)[1] di Indonesia. Berbagai bukti dan catatan sejarah membuktikan keberadaan komunitas warga Tiongkok pada masa prakolonial. Kedatangan orang Tiongkok ke Asia Tenggara disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain karena bencana kelaparan, situasi politik dan karena adanya peluang untuk membuka usaha. Faktor-faktor tersebut saling memperkuat satu sama lain yang kemudian mendorong sebagian orang Tiongkok untuk meninggalkan negara asalnya.

Untuk bisa melihat arsitektur Tiongkok di suatu wilayah, biasanya harus melihat di daerah Pecinannya. Untuk menentukan tempat bekas daerah pecinan pada suatu wilayah tidaklah mudah, hal ini selain karena perkembangan kota yang sangat cepat, juga karena biasanya daerah pecinan tidak terdokumentasi dengan baik. Daerah pecinan beserta peraturannya sudah dihapus sejak tahun 1900-an, meskipun penghapusan peraturan secara resmi baru dilakukan pada tahun 1920 (Handinoto, 1990). Berbicara tentang pecinan, Sumatera Utara khususnya Kota Medan juga menyimpan banyak peninggalan yang tidak terlepas dari aspek historisnya yang merujuk pada kawasan situs kota Tiongkok (China town) yakni Kesawan Medan, yang ramai dikunjungi pada permulaan abad ke-12 hingga awal abad ke-14. Berdasarkan bukti-bukti arkeologisnya (archeological evidence), diketahui cenderung merujuk pada era kedinastian Sung, Yuan dan Ming di Tiongkok. Demikian pula temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa komunitas pedagang yang berasal dari mancanegara seperti Tiongkok, Johor, Burma, Thailand pernah singgah di Sumatra Utara (Endraswara, 2008). Situs kawasan Pecinan di daerah Kesawan diyakini sebagai cikal bakal terbentuknya kota Medan sekarang yang berasal dari permulaan abad ke-12. Hal ini ditunjukkan oleh banyaknya peninggalan atau bukti arkeologis (archeological evidence) yang tertuju pada satu era yakni sejak abad ke-12 hingga awal abad ke-14, seperti eartenware fragmen (tembikar), porcelain fragmen (keramik), coin (mata uang), glass fragmen (gelas), brickstone fragmen (batu bata berfragmen candi), archa (statue), tulang belulang serta sisa-sisa perahu tua (ships ruins), semua ini bukti telah berkembangnya seni, teknologi dan industri pada masa itu.    

Dalam proses perkembangan seni, teknologi dan industri sangat berkombinasi dengan desain artistik yang sudah cukup fenomenal serta menimbulkan keunikan pada seni arsitektur Tiongkok. Selain itu, arsitektur Tiongkok juga memiliki banyak keunikan filosofi dalam ilmu arsitekturnya seperti Feng Shui dengan filosofinya yang sudah amat mendunia, yaitu Yin dan Yang. Sebagai metode analisis, khususnya dalam hal menganalisa bangunan rumah Tjong A Fie dari sudut pandang seni, teknologi dan industri, tipologi dan makna simbolis sering berkaitan dengan morfologi yaitu ilmu yang mempelajari perubahan bentuk. Sebagai sebuah metode, tipologi dan makna simbolis berguna sebagai alat untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk objek arsitektural sampai didapatkan sebuah akar bentukan. Akar bentukan pada hal ini di maksudkan menyangkut struktur bangunan (formal structures) dan sifat-sifat dasar atau properties (Gin Djin Su, 1964). Tipologi dan simbolis pada rumah Tjong A Fie di daerah Kesawan kota Medan merupakan hasil perpaduan seni, teknologi dan industri serta arsitektur Tiongkok yang berpadu dengan arsitektur Melayu dan Eropa. Perpaduan arsitektur tersebut terlihat dalam tipologi bangunan berupa rumah deret, rumah toko maupun rumah tinggal dimana bentuk atapnya memiliki arsitektur Tiongkok tetapi pada detail-detail fasade terdapat keberagaman arsitektur yang mempengaruhinya, misalnya beberapa bangunan yang terdapat di Gang Tengah dan Gang Besen fasadenya mendapat pengaruh dari arsitektur Melayu yang banyak kita jumpai di kota Medan, serta pernak-pernik lampu hias yang terdapat pada lagit-langit serta ruang tengah rumah Tjong A Fie yang menciri khaskan bangunan bergaya eropa.

Biografi Tjong A Fie

Tjong A Fie lahir pada tahun 1860 di desa Sungkow daerah Moyan, Tiongkok dan berasal dari keluarga sederhana. Karena ingin lebih sukses dan menjadi orang terpandang, maka di usia 18 tahun Tjong A Fie memutuskan untuk mengadu nasib pergi berlayar ke Hindia-Belanda. Waktu itu, bekal yang dibawanya hanyalah sepuluh perak dolar uang Manchu. Setelah berbulan-bulan berlayar, pada tahun 1880 Tjong A Fie pun tiba di Labuhan Deli atau di kenal dengan pelabuhan Belawan. Tjong A Fie lalu bekerja untuk Belanda dan ia diangkat menjadi Letnan (Lieutenant) Tionghoa. Karena pekerjaannya inilah, Tjong A Fie lalu dipindahkan ke tanah Deli tepatnya kota Medan sekarang. Prestasinya yang gemilang membuat pangkat Tjong A Fie naik menjadi kapten (Capitein) pada tahun 1911.

Di tanah perantauannya, Tjong A Fie dikenal sebagai sosok yang tangguh, ulet, jujur, dan dermawan. Tjong A Fie bukan hanya dikenal di kalangan masyarakat Tionghoa, namun juga di kalangan masyarakat India, Melayu, Arab, dan para pemuka Belanda. Tjong A Fie juga memiliki hubungan yang baik dengan Kesultanan Deli, yaitu Sultan Makmoen Al Rasjid Perkasa Alamsyah dan Tuanku Raja Moeda. Tjong A Fie pun menjadi orang kepercayaan Sultan Deli dan mulai menangani berbagai urusan bisnis. Reputasinya terkenal di seluruh tanah Deli. Belanda pun memberikan posisi kepada Tjong A Fie sebagai anggota dewan kota, dewan kebudayaan, dan penasehat khusus untuk Tionghoa. Di tanah Deli Tjong A Fie juga berhasil membangun usaha perkebunan kelapa sawit, pabrik gula, dan perusahaan kereta api yang mempekerjakan ribuan karyawan. Selama hidupnya Tjong A Fie memiliki 3 istri dan 10 anak. Tjong A Fie meninggal pada 4 Februari 1921 dan dimakamkan di daerah Medan Labuhan.

Tjong A Fie dan sejarah kota Medan merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan. Tjong A Fie menjadi terkenal bukan hanya karena kekayaannya, namun juga karena beliau adalah seorang pekerja keras yang patut diteladani. Bukan hanya itu, Tjong A Fie juga merupakan seorang yang dermawan, terbukti bahwa ia mewariskan kekayaannya untuk Yayasan Toen Moek Tong yang didirikannya pada masa itu. Yayasan ini bertujuan memberikan bantuan kepada kaum muda yang berbakat dan berkelakuan baik untuk menyelesaikan pendidikannya, tanpa melihat kebangsaan. Yayasan ini juga membantu mereka yang tidak mampu bekerja dan juga korban bencana alam. Rumah Tjong A Fie Juga memiliki fungsi sebagai kantor administrasi masyarakat Tionghoa di kota Medan, Tjong A Fie Mansion dan Tjong A Fie Foundation serta terdapat beberapa fasilitas sosial yang dikelola oleh perkumpulan yayasan sosial-budaya untuk memberi pelayanan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Rumah Tjong A Fie

Rumah Tjong A Fie adalah sebuah warisan rumah tinggal yang terletak di Jl. Jend. Ahmad Yani No. 105 Kesawan Medan. Nama rumah tinggal ini berasal dari nama pemiliknya, yaitu Tjong A Fie (1860-1921). Ia merupakan seorang pemuda biasa yang datang dari negeri Tiongkok dan berhasil membangun bisnis perkebunan besar seperti pabrik kelapa sawit, pabrik gula dan juga perusahaan kereta api di sekitar kota Medan. Tjong A Fie di kenal sebagai orang yang dermawan dan berbaur kepada masyarakat Kesultanan Deli dan Kolonial Belanda. Pada tahun 1911, ia diangkat menjadi Kapitan Tiongkok atau Mayor der Chinezeen (istilah Belanda), yang berarti wakil tertinggi masyarakat Tiongkok di Kota Medan.

Di Penang-Malaysia, ada Cheong Fatt Tze Mansion yang terlihat persis sama dengan rumah tinggal Tjong A Fie, Cheong Fatt Tze adalah paman dari Tjong A Fie. Kedua nya bekerja sama dalam banyak bisnis. Rumah Cheong Fatt Tze di Penang-Malaysia sekarang telah digunakan menjadi sebuah hotel bersejarah.

Rumah Tjong A Fie dibangun pada tahun 1895 dan selesai pada tahun 1900. Memiliki ukiran kayu yang cantik dan fitur dengan dua singa batu duduk di pintu masuk. Rumah Tjong A Fie merupakan campuran sebuah bangunan bergaya Tiongkok, Melayu dan Eropa. Pengaruh arsitektur Melayu dapat dilihat dalam deretan jendela, pintu, dinding dan cat dengan warna kuning dan hijau. Pengaruh Tiongkok dapat dilihat dalam ornamen ukiran singa dan naga yang merupakan ciri khas dari negara Tiongkok. Selain itu bangunan rumah Tjong A Fie juga disandingkan dengan desain oriental Eropa dan Art Nouveau termasuk kolom beton dengan modal hias, dan chandelier  yang tergantung di langit-langit.

Tjong A Fie Mansion memiliki empat ruang tamu, ruang tamu pertama adalah Dutch Lounge Room, tempat menerima tamu dari golongan orang-orang Eropa. Ruang tamu kedua adalah Deli Lounge Room, tempat Tjong A Fie menerima teman baiknya, Sultan Deli Makmun Al Rasjid. Ruang tamu ketiga untuk menerima masyarakat Tiongkok. Sedangkan ruang tamu keempat yaitu ruang tamu utama, tempat untuk menerima masyarakat umum. Di lantai atas Tjong A Fie Mansion terdapat Ballroom untuk ruang pesta dan dansa. Juga ada dua buah Altar Sembahyang, satu di lantai bawah dan satu lagi di lantai atas.

Sementara itu di bagian belakang Tjong A Fie Mansion terdapat dapur, ruang makan keluarga, ruang keluarga, dan kamar utama, yaitu tempat Tuan dan Nyonya Tjong A Fie beristirahat. Kamar Utama Tjong A Fie juga digunakan sebagai tempat kerjanya. Di sini kita dapat melihat buku-buku bacaan Tjong A Fie, dokumen kerjanya, dan juga baju yang digunakan Tjong A Fie dan istrinya. Selain kemegahan dari bangunan rumah Tjong A Fie, hal lain yang akan membuat pengunjung lebih terkagum-kagum adalah bahwa sebagian besar perabotan di mansion ini masih asli. Lantai keramik di Ballroom diimpor asli dari Italia dan kandelarnya dari Austria. Juga ada sebuah lampu gantung yang pada masa itu hanya terdapat dua di dunia, yaitu di Tjong A Fie Mansion dan satu lagi di sebuah istana di Beijing.

Tipologi dan Makna Simbolis pada Rumah Tjong A Fie

Menurut Anthony Vidler, Tipologi bangunan adalah sebuah studi atau penyelidikan tentang penggabungan elemen-elemen yang memungkinkan untuk mencapai dan mendapatkan klasifikasi organisme arsitektur melalui tipe-tipe. Klasifikasi mengindikasikan suatu perbuatan meringkas, yaitu mengatur penanaman yang berbeda, yang masing-masing dapat di identifikasikan dalam kelas umum dan memungkinkan membuat perbandingan-perbandingan pada sebuah kasus khusus. Klasifikasi tidak memperhatikan suatu tema pada saat tertentu, melainkan berurusan dengan contoh konkrit dari suatu tema tunggal dalam suatu periode atau masa yang terikat oleh kepermanenan dari karakteristik yang tetap dan konstan, misalnya rumah bergaya Tiongkok. Instrumen pemberi tanda dari gejala atau fenomena dapat membandingkan istilah-istilah yang berbeda dalam hubungannya dengan bentuk-bentuk kota.

Pengertian makna (sense) dibedakan dari arti (meaning). Makna adalah arti atau maksud dari perkataan. Makna adalah sebagai pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu tanda atau simbolis (Saussure, 1994). Simbolis berasal dari kata symballo yang berasal dari bahasa Yunani. Symballo artinya melempar bersama atau meletakkan bersama-sama dalam satu ide atau konsep objek yang terlihat, sehingga objek tersebut mewakili gagasan (Helena, 1998). Simbolis dapat menghantarkan seseorang ke dalam gagasan atau konsep masa depan maupun masa lalu. Simbolis adalah gambar, bentuk, atau benda yang mewakili suatu gagasan, benda, ataupun jumlah sesuatu. Simbolis adalah tanda untuk menunjukkan hubungan dengan acuan dalam sebuah hasil konvensi atau kesepakatan bersama.

Simbolis bangunan bergaya Tiongkok merupakan sebuah karya yang berasal dari budaya Tiongkok purba dan dikembangkan sejak 4700 tahun yang lalu (Dian, 2005). Karya ini terus berkembang ke dalam aplikasi arsitektur modern seiring perkembangan budaya Tiongkok di Indonesia. Purwanto menjelaskan makna simbolis dari sisi arsitektural dapat diterapkan secara holistik dalam pemukiman masyarakat Tiongkok di Indonesia. Guna makna simbolis pada sebuah bangunan bergaya Tiongkok adalah untuk menyerasikan alam dengan manusia. Ditinjau dari perspektif arsitektur (Attoe, 1979), menjelaskan bahwa sebenarnya arsitektur merupakan identifikasi variabel yang meliputi ruang, tipologi, simbolis dan struktur yang dapat menjelaskan sebuah bangunan. Makna simbolis pada sebuah bangunan juga berperan sebagai metode pemecahan masalah yang dapat diselesaikan melalui analisis untuk menjawab kebutuhan lingkungannya.

Dasar tipologi dan simbolis sebuah bangunan awalnya dilandasi oleh gagasan kuno bahwa manusia harus hidup selaras dengan kosmos dan menyejajarkan aturan-aturan yang menentukan terjaganya harmoni kosmos, khususnya dalam penggunaan tipologi dan simbolis pada bangunan bergaya Tiongkok yang terlihat jelas pada rumah Tjong A Fie. Benda-benda yang menjadi simbolis pada Rumah Tjong A Fie adalah sebagai berikut:

Patung Naga

Hewan adalah salah satu benda yang sering dijadikan simbolis di dalam kehidupan, begitu juga pada masyarakat Tiongkok menggunakan hewan sebagai simbolis dalam berbagai aspek kehidupannya. Dalam kebudayaan Tiongkok kuno, naga dianggap sebagai binatang yang paling agung serta merupakan sebuah lambang keberuntungan. Bahkan masyarakat Tiongkok menyebut diri mereka sebagai keturunan naga. Menurut nenek moyang bangsa Tiongkok (huang di), daga merupakan simbolis kekaisaran yang berwibawa dan dipercaya dapat mengantarkan ke surga.

Pada bangunan Rumah Tjong A Fie, seni teknologi dan industri pada simbol naga tidak terlepas dari ciri khas budaya Tiongkok. Mereka mempercayai naga sebagai salah satu simbolis dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terbukti dari adanya patung naga di dalam maupun luar pada bangunan Rumah Tjong A Fie. Menurut mereka makna naga tersebut berbeda-beda, tetapi mereka tetap percaya bahwa naga merupakan simbol yang sakral dalam kehidupan mereka.

Patung Singa

Singa merupakan binatang yang memiliki arti penting bagi bangsa Tiongkok. Pada bangunan Rumah Tjong A Fie, seni teknologi dan industri pada patung singa yang terdapat pada pintu gerbang tidak terlepas dari ciri khas budaya Tiongkok Sang jantan berada di sebelah kiri dengan cakar kanannya berada di bola, dan sang betina di sebelah kanan dengan cakar kirinya membelai anak singa. Singa dianggap sebagai raja dari para binatang, yang juga melambangkan kekuatan dan berpengaruh. Bola yang berada pada patung singa jantan melambangkan kesatuan seluruh negeri dan anak singa pada patung singa betina merupakan sumber kebahagiaan. Patung singa juga digunakan untuk menunjukkan peringkat atau kedudukan seorang pejabat dengan melihat jumlah gundukan yang diperlihatkan oleh rambut keriting pada kepala singa. Rumah dari pejabat tingkat satu memiliki 13 gundukan dan jumlah itu menurun satu gundukan setiap turun satu peringkat. Pejabat dibawah tingkat tujuh tidak diperbolehkan memiliki patung singa di depan rumah mereka.

Tiang Penyangga

Pada bangunan rumah Tjong A Fie terdapat empat buah tiang penyangga berdiameter lingkaran 2,10 meter dan tingginya 3,40 meter, yang menurut filosofi Tiongkok merupakan simbol dari air, api, tanah, dan angin. Secara visual keempat tiang ini adalah sama saja dan simetris bentuknya. Namun yang perlu diketahui adalah, bahwa keempat buah tiang penyangga tersebut merupakan simbolis dari unsur-unsur alam. Baik dalam ajaran Konfusianisme, Taoisme maupun Buddhisme keempat unsur alam tersebut adalah saling melengkapi dan membentuk harmonisasi dari alam. Salah satu bagian mendasar dalam filosofi Tiongkok adalah hubungan diantara empat unsur dasar yang terdiri dari air, api, tanah dan udara yang di terapkan pada empat buah tiang penyangga pada bangunan rumah Tjong A Fie. Dalam kepercayaan Tiongkok, unsur-unsur tersebut merupakan simbol dari kekuatan-kekuatan yang muncul dari segenap penjuru alam semesta.

Keunikan empat tiang pada rumah Tjong A Fie ini masih berdiri kokoh sampai sekarang. Bentuk simbolis lain pada bangunan Rumah Tjong A Fie juga terlihat pada pintu masuk depan atau gapura,warna bangunan, jendela, pintu masukutama dan juga atap melengkung yang terdapat pada bangunan tersebut.

Akulturasi Budaya Tiongkok-Melayu

Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Perpaduan budaya ini dapat dilihat dari bangunan rumah Tjong A Fie, seperti warna kuning menyala yang menjadi warna dominan dan bentuk jendela yang khas melayu. Unsur kebudayaan Tionghoa tampak pada ukiran naga pada dinding, pintu masuk dan rancangan atau bentuk atap yang merupakan ciri khas bangunan rumah tinggal di daratan Tiongkok.

Akulturasi kebudayaan merupakan perpaduaan antara dua kebuyaan atau lebih akibat interaksi yang terjadi antara sekelompok masyarakat yang memiliki kebudayaan tertentu, dengan kelompok masyarakat lain yang memililiki kebudayaan berbeda, dari sanalah terjadi perubahan pola kebudayaan yang original. Namun tidak menyebabkan hilangnya unsur kedua kebudayaan tersebut.

Penyebab akulturasi dapat beraneka ragam, antara lain yaitu :

  1. Bertambah dan berkurangnya jumlah penduduk pada suatu negara.
  2. Adanya revolusi yang terlalu cepat.
  3. Masalah yang timbul antar masyarakat.
  4. Adanya perubahan alam atau siklus.
  5. Adanya peperangan.
  6. Adanya pengaruh dari kebudayaan asing.

Bangunan hunian manusia (dwelling) adalah perwujudan dari budaya material yang dimaknai oleh manusia penggunanya. Berangkat dari kebutuhan atau fungsi, elemen-elemen yang terwujud pada bangunan memiliki makna sebagai cerminan keadaan penghuninya, misalnya bangunan rumah Tjong A Fie yang merupakan salah satu bentuk perwujudan kebutuhan terhadap para imigran Tiongkok yang datang ke daerah-daerah di Pulau Sumatera.Di antara akulturasibudaya yang terdapat pada rumah Tjong A Fie tersebut yang paling kental adalah budaya Tionghoa, kemungkinan besar karena pemiliknya adalah orang Tiongkok asli, kemudian karena bangunan ini terletak di kota Medan yang mayoritas penduduknya masih kental dengan budaya Melayu pada masa itu maka dipadukanlah budaya Melayu ke dalam bangunan ini yang terlihat jelas dalam bentuk warnah khas melayu serta ukiran lebah gantung yang juga terdapat pada Istana Maimoon.

Pengaruh Arsitektur Pada Rumah Tjong A Fie

Adapun pengaruh arsitektur yang terdapat pada rumah Tjong A Fie adalah sebagai berikut:

Arsitektur Tiongkok

Tipologi pada bangunan Rumah Tjong A Fie masih banyak menunjukkan kesamaan dengan bangunan rumah tinggal yang ada di Tiongkok yaitu berarsitektur tradisional Tiongkok. Ciri paling dominan pada rumah tinggal Tiongkok yaitu atap pelananya yang bergelung di puncaknya. Ciri lainnya juga terlihat dari dua patung singa yang terdapat pada pintu gerbang masuk, ukiran naga pada tiang serta bukaan yang ada, misalnya pintu dan jendela yang terbuat dari kayu dan dihiasi dengan ornament paku besi. Adanya warna yang dominan seperti warna merah dan warna emas juga merupakan ciri khas arsitektur tradisional Tiongkok.

Arsitektur Melayu

Pada bangunan rumah tinggal Tjong A Fie juga banyak dijumpai hal-hal yang mencerminkan adanya kreativitas akulturasi budaya Tiongkok dan budaya Melayu, misalnya rumah Tjong A Fie memiliki ukiran lebah bergantung serta fasadenya mendapat pengaruh lokal terwujud dalam warna kuning yang merupakan warna khas melayu, bentuk jendela serta ornamen khas melayu lainnya.

Arsitektur Eropa

Arsitektur Tiongkok-Eropa juga terlihat pada bangunan rumah tinggal Tjong A Fie dimana biasanya terdapat satu pintu Belanda (daunnya terbagi dua) yang masing-masing dapat dibagi sendiri-sendiri. Di sebelahnya terdapat jendela lebar, terbagi dua secara horizontal dan masing-masing dibuka dengan menolaknya ke atas dan ke bawah, selain itu juga terdapat beberapa lampu hias khas eropa yang turut menghiasi lagit-langit serta ruang tengah pada rumah Tjong A Fie.

Gubahan Massa

Konsep gubahan massa pada bangunan tradisional Tiongkok adalah :

  • Moduler yaitu pertumbuhan bangunan mengikuti pola yang sudah ada, baik dari segi penataan ruang maupun luasannya.
  • Simetri yaitu keteraturan pertumbuhan massa tersebut mengakibatkan susunan bangunan simetri.
  • Halaman tengah dapat digunakan untuk interaksi sosial didalam keluarga.
  • Tembok keliling merupakan simbol dari pada tertutupnya kelompok satu dengan kelompok lain ataupun lingkungan luar.
  • Orientasi ke dalam dapat memperkuat sifat tertutup terhadap lingkungan luar.

Perubahan dan perkembangan konsep-konsep gubahan massa bangunan dewasa ini sangat jauh berbeda dengan pola tradisional. Konsep-konsep tersebut antara lain :

  • Bebas yaitu pertumbuhan massa bangunan tidak harus mengikuti modul.
  • Terbuka dimaksudkan dapat menerima lingkungan luar, yang masih terlihat adalah dinding-dinding menjulang tinggi menutup tapak tempat tinggalnya.
  • Blok merupakan kecenderungan untuk hidup berkelompok bila berada di negara lain.
  • Gubahan massa bangunan tidak moduler, tetapi berbentuk blok dalam satu kawasan, disebut juga dengan Chinatown.

Bentuk Atap (wuding)

Prinsip bentuk atap bangunan tradisional Tiongkok adalah: a) Melambangkan fungsi dan tingkatan bangunan. b) Penyaluran beban di tengan dan di tepi. c) Merupakan ungkapan dari bentuk gunung. Konsep bentuk atap tradisional Tiongkok yaitu simetri dan bentuk segi tiga.

Bagian atap pada bangunan rumah tinggal khas Tiongkok merupakan pokok bangunan yang biasanya memiliki banyak ornamen. Pada dasarnya terdapat empat tipe atap tradisional (Gin, Djih Su, 1964) yaitu:

  1. Wu Tien yaitu jenis atap bangunan miring yang dipakai pada istana atau balai-balai penting dengan susunan atap single ataupun double.
  2. Xuan Shan yaitu tembok samping bangunan berbentuk segitiga dengan atap miring.
  3. Hsieh Shan yaitu gabungan atap pelana dengan atap bubungan miring/perisai yang lebih rendah.
  4. Ngan Shan yaitu jenis atap yang ditopang oleh dinding pada tepinya.

Gunungan pada umumnya dibuat lebih tinggi, melebihi lengkungan atap, dan memiliki ornamen yang penuh baik berupa lukisan ataupun ukiran serta biasanya bertingkat, sehingga disebut sebagai matou qiang atau dinding kepala kuda. Ornamen gunungan yang paling sering ditemui adalah motif geometris atau bunga. Pewarnaannya juga memiliki arti simbolis seperti merah yang melambangkan kebahagiaan. Tepi-tepi bubungannya kaya dengan dekorasi dan diatasnya dibentuk dengan lukisan timbul yang keras berwujud figur-figur yang mewakili dewa. Tepi bubungannya biasanya dihiasi wenshou yang biasanya diangkat dengan ujung yang melengkung dan ujungnya dihiasi dengan keramik bermotif. Ujung jurai biasanya juga diangkat dengan ornamen, dimana salah satu ornamen yang sering digunakan adalah yan wei xing. Pada bangunan rumah tinggal Tjong A Fie, kebanyakan memiliki atap yang sederhana dimana bentuknya cuma berupa atap pelana dengan bubungan atap melengkung pada sisi kiri-kanan serta diberi warna merah sebagai simbol kebahagiaan.

Kesimpulan

Aspek yang berpengaruh terhadap peran seni, teknologi dan industri pada tipologi dan simbolis bangunan rumah Tjong A Fie secara umum membentuk sebuah identitas yang khas terhadap sebuah bangunan di kawasan kota Medan. Secara tipologi bangunan bergaya Tiongkok sangat terlihat dan memiliki ciri khas tertentu yang mudah dikenali. Dasar simbolis bangunan bergaya Tiongkok dilandasi oleh gagasan kuno bahwa manusia harus hidup selaras dengan kosmos dan menyejajarkan aturan-aturan yang menentukan terjaganya harmoni kosmos, khususnya dalam penggunaan simbolis pada sebuah bangunan bergaya Tiongkok.

Secara tipologi bangunan bergaya Tiongkok sangat terlihat dan memiliki ciri khas tertentu yang mudah dikenali, misalnya pada elemen fisik, meliputi tipologi, fasade, atap, ornamen, warna bangunan sebagai komponen utama. Bangunan bergaya Tiongkok mudah dikenali secara fisik, dimulai dari fasade bangunan yang khas dengan model atap yang melengkung pada ujungnya. Sesuatu yang khas juga dapat di lihat dari atap bangunan rumah Tjong A Fie dan memiliki tritisan yang merupakan pengaruh dari iklim tropis, semua hal ini merupakan hasil dari seni, teknologi dan industri. Di samping itu, elemen non fisik juga turut meliputi kebudayaan Tiongkok dan kehidupan sosial budaya sebagai komponen penunjang. Masyarakat di daerah Kesawan Medan pada umumnya adalah suku Melayu dan ciri khas dari budaya melayu juga terdapat pada bangunan Rumah Tjong A Fie, seperti warna kuning yang merupakan ciri khas budaya Melayu, ukiran lebah bergantung dan lain-lain. Selain itu masyarakat Kota Medan juga memiliki semangat solidaritas dan jiwa mandiri yang tinggi, sehingga pemerintah daerah selalu memotifasi generasi muda untuk terus berkarya serta menjaga nilai-nilai sejarah yang ada di daerah tersebut dan memperkenalkannya pada masyarakat luas.

Daftar Pustaka

 Brownislaw Malionowski, 1967. A Functional Theory of Culture. Belanda: Belanda of History.

C.J. Ducasse, 1988. Philoshopy of Art. Beijing: Guanming Daily Press.

 Ding Wangdao, 2007. The Konfucianisme and Taoisme, China: Foreign Language Press.

 Fu Chunjiang, 2010. Origins of Chinese Culture. Singapore: Asiapacs Books PTE LTD.

 Gin Djin Su, 1964. Chinese Architecture: Last and Contemporer. Hongkong: The Sinpoh Amalgamated ltd.

 Marwati, Nugroho, 1993. Sejarah Tiongkok. Yogyakarta: Diva Press.

Perkins, Dorothy, 1999. Enyclopedia of China. Chicago: Fitzroy Dearborn.

Salmon, Claudine & K.K. Siu (eds.), 2002. Chinese Epgraphic Materials in Indonesia. Singapore: EPEO & Archipel.

Tigor, Sandi, 2004. Arsitektur Tiongkok. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Wang Keping, 2006. Chinese Philosophy on Life. Beijing: Foreign Language Press.

[1]Pecinan adalah istilah dalam bahasa Indonesia yang pengertiannya merujuk kepada kawasan permukiman orang-orang Tionghoa. Biasanya adalah orang-orang Tionghoa yang tinggal di daerah perkotaan. Dalam bahasa Inggris istilah ini disebut dengan China Town, seperti yang terdapat di Las vegas, Washington, D.C., dan lain-lainnya. Dalam bahasa Mandarin Pecinan ini disebut dengan tang ren jie. Secara etimologis tang artinya sekumpulan/populasi, ren artinya orang atau masyarakat dan jie artinya jalan. Umumnya pola permukiman orang-orang Tionghoa di kota-kota di seluruh dunia ini adalah mengelompok berdasarkan kelompok mereka, tidak menyebar dan berbaur dengan masyarakat setempat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s