Film dan Musik pada Media Televisi Sebagai Cerminan Budaya Populer

Oleh : Rudiansyah

Latar Belakang Masalah

Lahirnya modernisasi kehidupan telah banyak merubah cara pandang dan  pola hidup masyarakat, sehingga peradaban yang terlahir adalah terciptanya budaya masyarakat konsumtif dan hedonis dalam lingkungan masyarakat kapitalis. Fenomena ini tidaklah dianggap terlalu aneh, untuk dibicarakan dan bahkan sudah menjadi bagian dari budaya baru hasil dari para importir yaitu para penguasa industri budaya yang sengaja memporak porandakan tatanan budaya yang sudah mapan selama bertahun-tahun menjadi bagian dari jati diri bangsa Indonesia. Tergesernya budaya setempat dari lingkungannya disebabkan oleh Kemunculannya sebuah kebudayaan baru yang konon lebih atarktif, fleksibel dan mudah dipahami sebagian masyarakat, bahkan masyarakat rendah status sosialnyapun dapat dengan mudah menerapkannya dalam aktifitas kehidupan. Sebuah istilah ”Budaya Populer” atau disebut juga dengan ”Budaya Pop”, dimana budaya ini dalam pengaktualisasiannya mendapat dukungan dari penggunaan perangkat berteknologi tinggi, sehingga dalam penyebarannya begitu cepat dan tepat serta mendapat respon sebagian besar kalangan masyarakat. Budaya ini tumbuh subur dan cepat mengalami perkembangan yang cukup signifikan dalam masyarakat perkotaan dan keberadaanya sangat kuat pada kehidupan kaum remaja kota.

Dalam pandangan Leavis dan Mazab Frankfurt dikatakan bahwa budaya pop adalah yang memandang budaya berbasis komoditas sebagai suatu yang tidak autentik, manipulatif dan tidak memuaskan. Argumennya adalah budaya massa kapitalis yang terkomodifikasi tidak autentik karena tidak dihasilkan oleh masyarakat, manipulatif karena tujuan utamanya adalah agar dibeli dan tidak memuaskan karena selain mudah dikonsumsi juga tidak mensyaratkan terlalu banyak kerja dan gagal memperkaya konsumennya (Barker, 2000: 47).

Dalam perspektif industri budaya, “bahwa budaya populer adalah budaya yang lahir atas kehendak media” (Strinati, 2003). Hal ini dianggap bahwa Media telah memproduksi segala macam jenis produk budaya populer yang dipengaruhi oleh budaya impor dan hasilnya telah disebarluaskan melalui jaringan global media hingga masyarakat tanpa sadar telah menyerapnya. Dampak dari hal itu, menyebabkan lahirlah perilaku yang cenderung mengundang sejuta tanya, karena hadirnya budaya populer di tengah masyarakat tidak terlepas dari induknya yaitu media yang telah melahirkan dan membesarkannya.

Penjelasan mengenai budaya populer juga diuraikan oleh John Storey dalam bukunya yang berjudul “Teori Budaya dan Budaya Pop Memetakan Lanskap Konseptual Cultural Studies”. Berbagai definisi mengenai budaya pop juga telah dikompilasikan dari berbagai sudut pandang yang membahas tentang hal tersebut. Budaya dalam cultural studies lebih didefinisikan secara politis dibanding secara estetis. Objek kajian dalam cultural studies bukanlah budaya yang didefinisikan dalam pengertian yang sempit, yaitu sebagai objek keadiluhuran estetis (seni tinggi), juga bukan budaya yang didefinisikan dalam pengertian yang sama-sama sempit, yaitu sebagai sebuah proses perkembangan estetik, intelektual, dan spiritual, melainkan budaya yang dipahami sebagai teks dan paraktek kehidupan sehari-hari. Melihat dalam kerangka konsep Antonio Gramsci (Storey, 1993) tentang hegemoni, Hall mengembangkan teori artikulasi untuk menjelaskan proses pertarungan ideologis (penggunaan istilah “artikulasi” oleh Hall menghadirkan makna ganda: mengekspresikan dan berpartisipasi). Ia berpendapat bahwa teks dan praktik budaya tidak dibubuhkan bersama makna, tidak dijamin secara pasti oleh tujuan-tujuan produksi serta makna senantiasa merupakan akibat dari tindakan “artikulasi“ (sebuah proses praktik produksi (production in use) yang bersifat aktif.

Kehadiran televisi merupakan tanda dari perubahan peradaban dari suatu ujung garis kontinuum budaya ke ujung garis kontinuum yang lain (Abdullah, 2006). Televisi telah banyak mempengaruhi ruang-ruang sosial masyarakat dan tentunya membawa efek yang sangat bervariasi sifatnya dalam kebudayaan. Terlihat bahwa televisi dewasa ini telah menjadi pusat titik intraksi dan pembentukan nilai. Tidak diragukan lagi televisi merupakan aktivitas waktu luang paling populer di dunia. Pada tahapan pertama, para profesional media memaknai wacana televisual dengan suatu laporan khusus mereka tentang, misalnya, sebuah peristiwa sosial yang mentah. Selanjutnya pada momen kedua segera sesudah makna dan pesan berada pada wacana yang bermakna, yakni segera sesudah makna dan pesan itu mengambil bentuk wacana televisual, aturan formal bahasa dan wacana bebas dikendalikan; suatu pesan kini terbuka, misalnya bagi permainan polisemi. Akhirnya pada momen ini, momen decoding yang dilakukan khalayak merupakan serangkaian cara lain dalam melihat dunia (ideologi) bisa dengan bebas dilakukan.

Strukturalisme dan Film Populer

Pada tahun 1970-an, ada pembagian yang jelas dalam cultural studies antar studi ‘teks’ dan studi’budaya yang di ekspresikan dalam kehidupan seseorang (lived cultures). Pada 1975, dua kontribusi penting terhadap strukturalisme dan film dipublikasikan ; Sixguns and Society karya Will Wright dan ‘Visual Pleasue and Narative Cinema’ karya Laura Mulvey. Pertama dilabuhkan pada strukturalisme klasik; kedua merepresentasikan eksplorasi penting pertama terhadap poststrukturalisme dan simena. Strukturalisme, sebagai sebuah moda analisis sosial, mengambil dua ide dasar dari karya Saussure. Pertama, perhatian pada relasi pokok antara teks dan praktik kultural tata bahasa yang memungkinkan makna. Kedua, pandangan bahwa makna senatiasa merupakan hasil dari aksi resiprokal dari hubungan antara seleksi dan kombinasi yang dimungkinkan melalui struktur pokok. Dalam Claude Levi-Strauss (1968) menyatakan bahwa di dalam luasnya heterogenitas mitos bisa ditemukan struktur yang homogen. Ia berpendapat bahwa mitos terstruktur berdasarkan oposisi biner. Maka dihasilkan dengan membagi dunia ke dalam kategori-kategori yang eklusif satu sama lain: budaya, alam, laki-laki, perempuan, hitam, putih, baik, buruk, kita, mereka dan seterusnya. Dari perspektif ini mitos adalah cerita-cerita di mana kita menuturkan diri kita sendiri sebagai budaya guna membuang kontradiksi dan membuat dunia bisa dijelaskan dan karenanya layak dihuni.

Dalam sixguns and Society, Will Wright (1975) menyitir Saussure dan Levi-Strauss menggunakan metodologi strukturalisme untuk menganalisis film Koboi Hollywood sebagai mitos. Khususnya ia mencoba menunjukan berbagai film Koboi ‘menghadirkan konseptualisasi mengenai keyakinan sosial Amerika yang sederhana secara simbolik namun sungguh mendasar. Dalam teori korespondensi yang agak reduktif (yang meruntuhkan banyak kekuatan pendekantan Wright). Ia menyatakan bahwa setiap tipe film Koboi bersesuaian dengan momen yang berbeda dalam perkembangan ekonomi mutahhir AS: ‘alur film Koboi Klasik berhubungan dengan konsepsi masyarakat yang individualistik yang mendasari ekonomi pasa, plot balas dendam merupakan variasi yang mulai merefleksikan perubahan dalam ekonomi pasar, Plot profesional menampakkan konsepsi masyarakat baru yang terkait dengan nial dan sikap yang inheren dalam ekonomi berencana dan korporasi.

Postrukturalisme dan Film Populer

Bagi para poststrukturalisme, makna senantias ada dalam proses berhenti sejenak dalam aliran kemungkinan yang tiada henti. Sementara Sausure mempostulasikan bahasa sebagai terdiri dari hubungan antara penanda, petanda dan tanda, teoretisi postrukturalisme berpendapat bahwa kenyataanya lebih komplek ketimbang ini. Derrida (1973) telah menemukan sebuah kata baru untuk menggambarkan sifat-dasar yang terbagi: differance, yang berarti menangguhkan sekaligus membedakan.

Bagi Saussure, tanda sebagaimana sudah dicatat, dibuat bermakna dengan menjadi berbeda. Derrida menambahinya dengan gagasan bahwa makna juga senantiasa ditangguhkan, tidak pernah hadir secara lengkap, senantiasa tidak ada dan ada. Catatan poststrukturalis Jacques Lacan terhadap perkembangan topik itu telah mempunyai banyak sekali pengaruh baik terhadap culural studies maupun film. Lacan mengambil struktur perkembangan Freud dan mengartikulasikannya kembali melalui pembacaan kritis atas strukturalisme untuk menghasilkan psikoanalisis poststrukturalis.

Menurut Lacan, mengadakan perjalanan melaui tiga tahap perkembangan yang sudah pasti. Tahap pertama adalah fase cermin; yang kedua permainan fort-da dan yang ketiga oedipus complex. Karya Lura Mulvey (1975) sebagian merupakan ikhtisar untuk menyuguhkan psikoanalisis poststrukturalis Lacan kepada kritikus film feminis. Menggunakan Lacan, ia membangun analisis tentang bangaimana sinema populer memproduksi dan mereproduksi apa yang ia sebut tatapan laki-laki. Dimasukan citra perempuan dalam sistem ini yang terdiri atas dua bagian: ia adalah objek dari hasrat laki-laki dan ia adalah penanda dari ancaman terhadap pengebiran. Persoalan khusus bagi cultural studies adalah catatan Mulvey mengenai khalayak sebagai murni bersifat tekstual – sebuah produksi teks yang pasif dan homogen. Dalam teori Mulvey, tidak ada ruang bagi pelaku sosial dan historis yang tiba digedung bioskop dengan membawa serangkaian wacana yang bersaing dan kontradiktif serta berhadapan dan bernegosiasi dengan wacana film.

Cultural Studies dan Film Populer

Chirstine Gledhill mencatat adanya pembaharuan mutahir minat feminis dalam budaya pop main stream (1988: 241). Gledhill menganjurkan sebuah pemahaman mengenai hubunan antara penonton dan teks film sebagai salah satu negosiasi. Gledhill menegaskan bahwa negosiasi bisa dianalisis pada tiga level berbeda: Khalayak, teks dan institusi. Sebagaimana ia tegaskan, situasi menonton atau membaca mempengaruhi makna dan kesenangan akan sebuah karya dengan mengajukan serangkaian determinasi ke dalam pertukaran kultural, yang secara potensial resisten atau konradiktif, yang muncul dari perbedaan kondisi kultural dan sosial pembaca atau penonton menurut kelas, gender, ras, usia, sejarah, pribadi, dan seterusnya.

Jackie Stacey (1994), mengembangkan pendekatan tersebut, ia mencoba melampaui determinisme tekstual yang menempatkan penonton perempuan sebagai konsumen pasif atas tatapan laki-laki. Ia menolak universalisme dari kebanyakan karya psikoanalitis prihal kepenonton perempuan. Pendekatan Stacey merepresentasikan sebuah bantahan yang sangat bagus terhadap klaim-klaim universalitis dan kebanyakan sine-pisikoanalisis. Dengan analisis yang bergerak, sebagaimana ia lakukan dari teks film menuju khalyak perempuan, kekuasaan patriarkal Hollywood mulai terlihat kurang monolitik, alias banyak celah. Dengan mempelajari khalayak perempuan, penontonan perempuan mungkin bisa dilihat sebagai sebuah proses menegosiasikan makna-makna dominan sinema Hollywood dan bukannya salah satu dari yang diposisikan secara pasif olehnya. Storey selalu menggunakan pendapat dari berbagai ahli untuk memperkuat agrumennya yang tentunya menampakan keahliannya dalam berteorisasi.

Kaum Muda dan Musik Populer

Kajian Cultural Studies berkenaan dengan budaya musik-pop lebih tepat di mulai dengan karya Stuart Hall dan Paddy Whannel (1964). Sebagaimana ia menegaskan, potret anak muda sebagai orang lugu yang diekspoitasi olah industri musik-pop terlalu disederhanakan. Mereka berpendapat bahwa terdapat konflik yang sangat sering antara pengguna teks atau praktik yang dipahami oleh khalayak dan penggunaan yang dimaksudkan oleh para produser. Musik pop mempertontonkan realisme emosional; lelaki dan perempuan muda mengidentifikasi diri mereka sendiri dengan representasi koletif dan menggunakannya sebagai fiksi-fiksi penuntun. Fiksi simbolik tersebut adalah cerita rakyat yang dengan cara itu anak usia belasan, sebagian membentuk dan menyusun pandangan dunianya. Hall dan Whannel juga ngidentifikasi suatu cara yang dengan itu para anak usia belasan tahun menggunakan cara berbicara tertentu, ditempat nongrong tertentu, cara menari tertentu, dan cara berbusana tertentu, untuk memperlihatkan jarak dengan dunia orang dewasa.

Politik dan Musik Populer

Politik memasuki momen yang berbeda dalam penciptaan musik pop; distribusi, performa konsumsi dan lain sebagainya. Politik itu sendiri berkenaan dengan kekuasan dan musik pop dapat mempunyai kekuatan besar. Para politisi menceburkan diri mereka dalam musik pop dengan cara lain, misalnya tuntutan terhadap sensor. Musik pop bisa bersifat politis jika pada musisi mangatakan demikian. Industri musik punya definisi musik pop politiknya sendiri: pop politik sebagai kategori penjualan. Definisi lain mengenai musik pop politik adalah musik pop yang diorganisasi secara politik.

Pada tahun 1979, Eric Clipton menyuarakan dukungannya terhadap versi rasisme Enoch Pewell. Kemarahan yang tertuang dalam musik pop dengan segera mengeras menjadi organisasi payung antirasis, Rock Racism (RAR). Mereka menyebut musik pop bersifat politik, serta membawanya memainkan keragaman makna. Musik pop dapat bersifat politis secara simultan dengan banyak cara yang berbeda. Sebagaimana diuraikan John Sreet (1986), politik musik merupakan kombinasi dari kebijakan negara, praktek bisnis, pilihan artistik, dan respons khalayak. Masing-masing elemen ini menempatkan batasan-batasan dan menawarkan berbagai kemungkinan bagi politik musik pop. Storey menegaskan bahwa dalam hal ini penting untuk memusatkan perhatian pada persoalan tentang semakin tumbuh suburnya budaya konsumen dan tidak sekedar memandang konsumsi sebagai sesuatu yang berasal dari suatu produksi tanpa mengkibatkan adanya problematik.

Ekonomi Politik Musik Populer

Adorno mempublikasikan sebuah esai yang sangat berpengaruh On Popular Music (Storey, 1994). Dalam esai itu ia membuat tiga pernyataan spesifik perihal musik pop. Pertama ia menyatakan bahwa musik pop itu distandarisasikan, Standarisasi sebagaimana ditunjukan Adorno, meluas dari mulai segi-segi yang paling umum hingga segi-segi yang paling spesifik. Pernyataan kedua Adorno adalah bahwa musik pop mendorong pendengaran pasif. Konsumsi musik pop itu senantiasa pasif dan repetitif, yang menegaskan dunia sebagaimana adanya. Poin Adorno yang ketiga adalah klaim bahwa musik pop beroperasi seperti semen sosial. Fungsi sosial- psikologisnya adalah meraih penyesuaian fisik dengan mekanisme kehidupan saat ini dalam diri konsumen musik pop. Ekonomi politik budaya kebanyakan punya cara yang sama dengan pendekatan Adorno. Ekonomi politik jarang menganjurkan pertimbangan mengenai apa yang sebenarnya dimaksud dalam penggunaan aktual (konsumsi) oleh teks dan praktik ini.

Populer Visual

Karya yang paling berpengaruh prihal budaya populer visual dalam studi budaya adalah karya Roland Barthes. Tujuan Barthes adalah mengekplisitkan apa yang sering kali tetap implisit dalam berbagai teks dan praktik budaya pop. Prinsip utamanya adalah menginterogasi suatu yang jelas keliru. Lebih lanjut dalam budaya pop Barthes menaruh perhatian pada proses pemaknaan, yaitu suatu cara dengan itu makna-makna dihasilkan dan disirkulasikan. Barthes berpendapat bahwa konteks memuat citra membebaninya dengan budaya dengan budaya, moral, imjinasi. Citra tidak melukiskan teks; teks-lah yang memperkuat posisi konotatif citra. Tanpa penambahan teks linguistik, makna citra sangat sulit ditekankan. Pesan linguistik bekerja dalam dua cara. Ia membantu pembaca untuk mengidentifikasi makna denotatif citra. Kedua, ia membatasi laju perkembangan konotasi citra. Sebuah citra mengambil dari repertoir budaya sekaligus pada saat yang sama menambahinya. Repertoir budaya tidak membentuk blok yang homogen. Mitos dihadapkan secara terus-menerus pada mitos-tandingan. Cultural studies juga mempersoalkan musik sebagai budaya pop.

Kesimpulan

Bangkitnya bentuk-bentuk komunikasi massa maupun pengembangan budaya media populer yang disosialisasikan dapat menjadi hal penting dalam kerangka penjelasan teori posmodern. Dapat disimpulkan bahwa media massa telah menjadi hal utama bagi arus komunikasi dan informasi di dalam maupun di antara masyarakat-masyarakat modern bahwa mereka bersama-sama dengan konsumerisme.

Media dalam menjalankan fungsinya, selain sebagai penyebar informasi dan hiburan, juga sebagai institusi pencipta dan pengendali pasar produk komoditas dalam suatu lingkungan masyarakat. Dalam operasionalisasinya, media selalu menanamkan ideologinya pada setiap produk hingga objek sasaran terprovokasi dengan propaganda yang tersembunyi di balik tayangan. Akibatnya, jenis produk dan dalam situasi apapun yang diproduksi dan disebarluaskan oleh suatu media akan diserap oleh publik sebagai suatu produk kebudayaan dan hal ini berimplikasi pada proses terjadinya interaksi antara media dan masyarakat. Kejadian ini berlangsung secara terus menerus hingga melahirkan suatu kebudayaan berikutnya. Kebudayaan populer akan terus melahirkan dan menampilkan sesuatu bentuk budaya baru, selama peradaban manusia terus bertransformasi dengan lingkungannya mengikuti putaran jaman. Dampak siaran televisi yang dilansir secara gencar dengan model Budaya Populer lewat keragaman tayangannya, akan membentuk pradigma dan gaya hidup masyarakat dengan perilaku yang mengusung kecenderungan berjiwa materialis dan hedonis dalam lingkungan masyarakat kapitalis.

Daftar Pustaka

Barker, Chris. 2000. Cultural Studise Teori dan Praktek. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Louw, Eric. 2001. The Media and Cultural Production. London: Sage Publication.

Lull, James. 1998. Media, Komunikasi, Kebudayaan: Suatu Pendekatan Global. Jakarta: Obor Indonesi.

Strinati, Dominic. 1995. An Introduction to Theories of Populer Culture. London: Routledge.

Storey, John. 2003. Teori Budaya dan Budaya Populer Memetakan Lanskap Konseptual Cultural Studies. Yogyakarta: Penerbit Qalam.

IDENTITAS MASYARAKAT KONTEMPORER SEBAGAI GAMBARAN BUDAYA POPULER

Oleh : Rudiansyah

Latar Belakang Masalah

Budaya Populer merupakan hasil tinjauan dari kajian budaya (cultural studies), dimana kajian budaya memfokuskan diri pada hubungan antara relasi-relasi sosial dengan makna-makna. Budaya populer dapat dikatakan sebagai suatu budaya yang tanpa disadari masyarakat telah menjadi suatu kebudayaan. Seperti yang diketahui bahwa budaya berawal dari kebiasaan, dan kebiasaan masyarakat dalam mengkonsumsi barang-barang keluaran produk terbaru inilah yang akan dibahas.

Suatu budaya lahir karena memiliki latar belakang dan bisa dikatakan lahirnya budaya populer karena kehadiran dari industri budaya, dimana dalam industri budaya yang terjadi adalah komersialisasi, sehingga proses yang berlangsung dalam industri budaya adalah komodifikasi, standardisasi serta masifikasi. Komodifikasi berarti memperlakukan produk-produk budaya sebagai komoditas yang tujuan akhirnya adalah untuk diperdagangkan. Standardisasi berarti menetapkan kriteria tertentu yang memudahkan produk-produk industri budaya dicerna oleh khalayak. Adapun masifikasi berarti memproduksi berbagai hasil budaya dalam jumlah masal agar dapat meraih pangsa pasar seluas-luasnya. Dalam perkembangannya, industri budaya ini akhirnya menghasilkan apa yang disebut dengan budaya populer (Lukmantoro, 2003).

Pada mulanya kebudayaan tinggi dan rendah saling terpisah satu sama lain dan berdiri sendiri, karena terdapat dinding yang membatasi keduanya. Namun pada akhirnya, dinding tersebut diruntuhkan oleh apa yang saat ini disebut sebagai budaya massa. Pada budaya massa sudah tidak ada lagi batas antara budaya tinggi dan budaya rendah. Sebenarnya budaya massa terbentuk oleh kebutuhan masyarakat akan hiburan. Melalui industrialisasi dan perkembangan teknologi, produsen budaya pop menciptakan produk-produk untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya menuntut keefektifan (percepatan) dan keefisienan (kemudahan). Produsen budaya populer yakni negara-negara maju (kapitalis), dengan berbagai cara berupaya menanamkan budaya itu di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Secara tidak langsung, terjadi kolonisasi budaya oleh negara-negara maju (barat) atas negara-negara berkembang. Pada akhirnya apa yang membuat suatu komoditas populer adalah bukan untuk siapa atau untuk berapa banyak orang komoditas itu diproduksi, tetapi bagaimana komoditas itu diinterpretasikan.

Budaya populer membutuhkan masyarakat sebagai pembentuk kebudayaan. Suatu masyarakat erat kaitannya dengan waktu dan tempat dimana dia berada dan hidup. Saat ini masyarakat bisa menyebut keadaan yang kita alami dan  dialami sekarang sebagai budaya kontemporer.

Budaya Kontemporer

            Dewasa ini industri periklanan dan media massa bisa dikatakan menciptakan citra komersial yang mampu mengurangi keanekaragaman individualitas. Kepribadian menjadi gaya hidup, dalam hal ini manusia dinilai bukan oleh kepribadiannya tapi oleh seberapa besar kemampuannya mencontoh gaya hidup. Apa yang dipertimbangkan sebagai pilihan diri sendiri, baik dalam hal musik, makanan dan lainnya, sesungguhnya hal ini merupakan seperangkat kegemaran yang diperoleh dari kebudayaan yang cocok dengan tempat dimana manusia berada dalam struktur ekonomi masyarakat.

            Budaya kontemporer yang tercipta dewasa ini bisa kita lihat dari maraknya budaya massa yang tercipta. Televisi sebagai alat komunikasi banyak digunakan oleh para produsen untuk menawarkan produknya dan menjaring lebih banyak konsumen agar mendapatkan untung berlipat. Selain itu budaya internet merambah hingga ke pelosok dan berbagai macam kalangan menimbulkan perubahan dalam gaya hidup dan kebiasaan. Mental kebenaran universal hanya akan menciptakan oposisi-oposisi biner baru yang justru menghancurkan yang lain dari kearifan yang dimilikinya, maka harus ada upaya dekontruksi atau kebenaran (Derrida, 1964). Modernisme terlalu congkak dalam memahami otonomi manusia sebagai subjek berpikir yang melegitimasi epistemologi sebagai suatu yang netral, bersih serta suci dari hasrat untuk berkuasa (Nietzsche dan Foucoult, 1997).

Identitas Manusia

            Dalam kamus bahasa Indonesia, identitas dimengerti sebagai suatu ciri-ciri atau keadaan khusus dari seseorang. Sedangkan jika dilihat dari kamus besar Filsafat identitas diri diartikan sebagai cara seseorang membayangkan, mencirikan atau memandang diri sendiri, yaitu diri yang diyakini seseorang seharusnya memungkinkan seorang diri atau dilibatkan (Bagus, 2005).

            Berpikir mengenai dirinya sendiri adalah aktivitas manusia yang tidak dapat dihindarkan. Secara harafiah orang akan berpusat pada dirinya sendiri. Sehingga, self adalah pusat dari dunia sosial setiap orang. Sementara faktor genetik memainkan sebuah peran terhadap identitas diri atau konsep diri yang sebagian besar didasarkan pada interaksi dengan orang lain yang dipelajari yang dimulai dari anggota keluarga terdekat, kemudian meluas ke interaksi dengan mereka di luar keluarga (Robert, 2003).

            Secara etimologis, identitas berasal dari kata latin yaitu idem yang memiliki arti sama. Teori identitas dalam filsafat berkutat pada dua poros yaitu identitas sebagai closure. Identitas closure berarti identitas tertutup. Identitas sebagai sesuatu yang closure dilandasi bahwa identitas merupakan sesuatu yang melekat pada diri secara kodrat, sehingga bersifat tunggal, mutlak dan absolut.

Teori Manusia Kontemporer

            Permasalahan identitas manusia kontemporer akan ditelaah dari pandangan Baudrillard dan didukung oleh Fredric Jameson. Dalam penelaahannya dari sisi budaya masa kini maka filusuf yang diacu adalah Baudrillard dan dibantu oleh Jameson karena mereka adalah tokoh yang mewakili abad ini, dimana budaya masyarakat yang ada saat ini, yaitu konsumsi tanda atau simbol dan itu berarti adalah lanjutan dari sistem kapitalis. Keduanya memiliki konsentrasi masalah yang berbeda-beda, namun sebenarnya ingin menunjukkan permasalahan mengenai manusia dalam masyarakat dan budayanya.

  1. Jean Baudrillard

Jean Baudrillard lahir di Reims, Prancis pada 29 Juli 1929. Ia merupakan salah seorang pemikir postmodern yang menaruh perhatian besar pada persoalan kebudayaan dalam masyarakat kontemporer. Jean Baudrillard ingin mengungkapkan transformasi dan pergeseran yang terjadi dalam struktur masyarakat dewasa ini yang disebutnya sebagai masyarakat simulasi dan hiperrealitas. Melalui budaya massa dan budaya populer inilah lahir suatu prinsip komunikasi baru yang disebutnya sebagai prinsip bujuk-rayu (seduction). Bila sebelumnya proses komunikasi dipahami sebagai proses penyampaian pesan dari pemberi pesan (addressee) kepada penerima pesan (address) untuk diperoleh suatu makna tertentu, maka kini komunikasi dipahami sebagai proses bujuk-rayu objek oleh subjek untuk mengkonsumsi produk-produk yang ditawarkan. Dalam mekanisme komunikasi seperti ini, tak ada lagi pesan, tak ada lagi makna, kecuali semata dorongan memikat untuk mengkonsumsi apa yang ditawarkan.

  1. Fredric Jameson

Fredric Jameson lahir di Cleveland, Ohio pada 14 April 1934. Ia merupakan seorang kritikus Amerika dan teoritikus Marxist. Menurutnya postmodernisme sebagai spatialization budaya dibawah tekanan yang diselenggarakan kapitalisme. Pemikiran Jameson sangat relevan untuk melihat bagaimana mutasi budaya kapitalisme telah menciptakan apa yang disebut dengan “masyarakat komoditas” atau “masyarakat konsumeris”. Dari hal ini dapat dilihat, bahwa dalam menyikapi permasalahan manusia khususnya mengenai identitasnya maka pasti hal itu tidak akan bisa lepas dari faktor dalam dan luar pribadi individun yang bersangkutan. Dalam diri maka yang menyangkut pembicaraannya adalah psikologi dan dari luar adalah sosiologi sebagai bentuk interaksi manusia dengan lingkungannya.

  Kesimpulan

Budaya populer merupakan sebuah konsep yang menghasilkan suatu produk yang banyak disukai masyarakat. Budaya Populer kini menjadi trend baru yang mulai dikembangkan, terutama oleh negara-negara di Asia dengan memadukan konsep barat dan timur dalam satu kesatuan. Dengan tetap memegang pada konsep modern, budaya populer tidak sepenuhnya melepaskan nilai negaranya masing-masing. Keberadaan budaya populer merupakan wujud perlawanan terhadap kemapanan nilai-nilai budaya tinggi, yaitu budaya yang dihasilkan oleh kaum-kaum intelektual. Cukup banyak karakteristik budaya populer, salah satunya adalah menumbuhkan semangat konsumerisme. Terpaan budaya populer juga tidak terlepas dari pengaruh media massa, sehingga perlu dilakukan filterisasi terhadapa tayangan-tayangan yang disaksikan melalui media massa, baik itu berupa acara berita, sinetron maupun musik.

Melalui penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa dalam identitas manusia kontemporer sebagai gambaran budaya populer merupakan cerminan pada sebuah negara di era globalisasi saat ini. Budaya populer dapat dikatakan sebagai suatu budaya yang tanpa disadari masyarakat telah menjadi suatu kebudayaan. Seperti yang kita tahu bahwa budaya berawal dari kebiasaan, dan seperti halnya kebiasaan masyarakat dalam mengkonsumsi barang-barang produk terbaru.

Frederic Jameson menyatakan bahwa postmodernisme tidak lain adalah konsekuensi logis perkembangan kapitalisme lanjut. Melalui tulisannya “Postmodernism or The Cultural Logic of Late Capitalism”, Jameson meyakinkan bahwa resiko tak terelakkan dari dominasi kapitalisme lanjut yang telah berubah watak karena telah banyak belajar dari berbagai rongrongan dan kritik. Kapitalisme yang titik beratnya bergeser dari industri manufaktur ke industri jasa dan informasi . Kapitalisme yang demi kepentingan jangka panjang, secara cerdas mengakomodasikan tuntutan serikat pekerja, kelangsungan hidup lingkungan dan daya kreatif/kritis konsumen.

Daftar Pustaka

Baudrillard, Jean. 1969. The System of Objects. Reims : Prancis Press.

Bernet, Tony. 1982. Popular Culture: Defining Our Terms. Milton Keynes: University Press.

Brownislaw, Malionowski. 1967. A Functional Theory of Culture. Belanda: Belanda of History.

Bourdieu, Pierre. 1984. Distintion: A Social Critique of the Judgment of Taste. Cambridge: Harvard University Press.

Dwirezanti, Adina. 2012. Budaya Populer Sebagai Alat Diplomasi Publik: Analisa Peran Korean Wave Dalam Diplomasi Publik Korea Periode 2005-2010. Jakarta: Universitas Indonesia.

Fiske, John. 1989. Understanding Popular Culture, London: Unwin Hyman.

Gramsci, Antonio. 1971. Selections from Prison Notebooks. London: Lawrence & Wishart.

Jameson, Fredric. 1997. The Cultural Logic of Late Capitalism. Ohio: New York Press.

Maltby, Richard. 1989. Popular Culture in the 20th Century. London: Routledge.

Ristinawati, Rika. 2009. Budaya Populer di Era Kontemporer. Jakarta: Universitas Indonesia.

Ross, Andrew. 1989. No Respect: Intelectuals and Popular Culture. London: Routledge.

Storey, John. 2010. Cultural Theory and Popular Culture. London: Prentice Hall.

Warsito, Tulus dan Wahyuni Kartikasari. 2007. Diplomasi Kebudayaan, Konsep dan Relevansi Bagi Negara Berkembang: Studi Kasus Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak.