PEMAHAMAN RETORIKA

Oleh : Rudiansyah

Latar Belakang Masalah

Sejarah retorika muncul pada abad ke-5 sebelum masehi. Korax, seorang Yunani dan muridnya Teisios (keduanya berasal dari Syrakuse-Sisilia) menerbitkan sebuah buku yang pertama tentang retorika. Tetapi retorika sebagai seni dan kepandaian berbicara, sudah ada dalam sejarah jauh lebih dahulu. Di dalam kesusastraan Yunani kuno, Homerus dalam Ilias dan Odyssee menulis pidato yang panjang. Selain itu bangsa-bangsa seperti Mesir, India dan Tiongkok juga sudah mengembangkan seni berbicara jauh hari sebelumnya. Plato, menjadikan Gorgias dan Socrates sebagai contoh retorika yang benar, atau retorika yang berdasarkan pada Sophisme dan retorika yang berdasar pada filsafat. Sophisme mengajarkan kebenaran yang relatif, dengan kata lain filsafat membawa orang kepada pengetahuan yang sejati. Ketika merumuskan retorika yang benar-benar membawa orang pada hakikat, Plato membahas organisasi gaya dan penyampaian pesan. Dalam karyanya, Plato menganjurkan para pembicara untuk menganal jiwa pendengarnya. Dengan demikian, Plato meletakkan dasar-dasar retorika ilmiah dan psikologi khalayak. Ia telah mengubah retorika sebagai sekumpulan teknik (sophisme ) menjadi sebuah wacana ilmiah.

Retorika berasal dari bahasa Yunani “Rhetorica” atau bahasa Inggris “Rhetoric” yang berarti “kemahiran dalam berbicara dihadapan umum”. I Gusti Ngurah Oka, memberikan definisi sebagai berikut, “Ilmu yang mengajarkan tindak dan usahayang untuk dalam persiapan, kerjasama, serta kedamaian ditengah masyarakat”. Dengan demikian termasuk dalam cakupan pengertian retorika adalah: Seni berbicara-kemahiran dan kelancaran berbicara-kemampuan memproduksi gagasan-kemampuan mensosialisasikan sehingga mampu mempengaruhi audience. Secara etimologis istilah retorika berasal dari bahasa Yunani (Rhetorica), yang berarti seni berbicara. Dalam bahasa Inggris, kata rhetoric berarti kefasihan dalam berbicara. Dalam terminologi, retorika dikenal sebagai seni berbicara.

Istilah retorika mulai muncul di Yunani pada abad ke-5 SM. Pada saat orang-orang Yunani sebagai pusat budaya barat dan filsuf bersaing untuk mencari apa yang mereka anggap sebagai kebenaran. Pengaruh budayaYunani menyebar ke timur seperti Mesir, India, Persia, dan bahkan Indonesia. Retorika mulai berkembang pada zaman Socrates, Plato, dan Aristoteles, kemudian berkembang menjadi retorika ilmu pengetahuan dan pada saat itu Georgias dianggap sebagai guru pertama dalam ilmu retorika.

Dari pengertian diatas, maka ada dua hal yang perlu ditarik dan diperhatikan, yaitu kemahiran atau seni dan ilmu. Retorika sebagai kemahiran atau seni sudah tentu mengandung unsur bakat (nativisme), kemudian retorika sebagai ilmu akan mengandung unsur pengalaman (empirisme) yang bisa digali, dipelajari dan di inventarisasikan. Hanya sedikit perbedaan bagi mereka yang sudah mempunyai bakat akan berkembang lebih cepat, sedangkan bagi yang tidak mempunyai bakat akan berjalan dengan lamban. Dari sini kemudian lahirlah suatu anggapan bahwa retorika merupakan artistic science (ilmu pengetahuan yang mengandung seni) dan scientivicart (seni yang ilmiah). Sementara menurut yang lain, retorika (rhetoric) secara harfiyah artinya berpidato atau kepandaian berbicara dan kini lebih dikenal dengan nama public speaking. Dewasa ini retorika cenderung dipahami sebagai omong kosong atau permainan kata-kata (words games), juga bermakna propaganda (memengaruhi dan mengendalikan pemikiran-perilaku orang lain). Teknik propaganda words games terdiri dari name calling (pemberian julukan buruk, labelling theory), glittering generalities (kebalikan dari name calling, yakni penjulukan dengan label asosiatif bercitra baik), dan eufemisme (penghalusan kata untuk menghindari kesan buruk atau menyembunyikan fakta sesungguhnya). Menurut Kenneth Burke, bahwa setiap bentuk-bentuk komunikasi adalah sebuah drama, karenanya seorang pembicara hendaknya mampu mendramatisir (membuat audiance merasa tertarik) terhadap pembicara, sedangkan menurut Walter Fisher bahwa setiap komunikasi adalah bentuk dari cerita (storytelling), karenanya jika kita mampu bercerita sesungguhnya kita punya potensi untuk berpidato dan menjadi motivator.

Dalam buku Theories of Human Communication karangan Little John, dikatakan bahwa studi retorika sesungguhnya adalah bagian dari disiplin ilmu komunikasi, karena di dalam retorika terdapat penggunaan simbol-simbol yang dilakukan oleh manusia. Retorika berhubungan erat dengan komunikasi persuasi, sehingga retorika juga dapat di katakan suatu seni dari mengkonstruksikan argumen dan pembuatan pidato. Little John mengatakan retorika adalah ”adjusting ideas to people and people to ideas” (Little John, 2004,p.50). Selanjutnya dikatakan bahwa retorika adalah seni untuk berbicara baik, yang dipergunakan dalam proses komunikasi antarmanusia (Hendrikus, 1991,p.14). Sedangkan oleh sejarawan dan negarawan George Kennedy mendefinisikan retorika sebagai ”The energy inherent in emotion and thought, transmitted through a system of signs, including language to other to influence their decisions or actions” (Puspa, 2005:p.10), yang dalam bahasa Indonesia retorika adalah ”suatu energi yang sejalan dengan emosi dan pemikiran yang dipancarkan melalui sebuah sistem dari tanda-tanda, termasuk didalamnya bahasa yang ditujukan pada orang lain untuk mempengaruhi pendapat mereka atau aksi mereka. Retorika (rethoric) biasanya disinonimkan dengan seni atau kepandaian berpidato, sedangkan tujuannya adalah menyampaikan pikiran dan perasaan kepada orang lain agar mereka mengikuti kehendak kita.

Menurut Aristoteles, dalam retorika terdapat 3 bagian inti yaitu :

  1. Ethos (ethical) : Yaitu karakter pembicara yang dapat dilihat dari cara seseorang berkomunikasi.
  2. Pathos (emotional) : Yaitu perasaan emosional khalayak yang dapat dipahami dengan pendekatan psikologi massa.
  3. Logos (logical) : Yaitu pemilihan kata atau kalimat atau ungkapan oleh pembicara.

Menurut Kenneth Burke, bahwa setiap bentuk-bentuk komunikasi adalah sebuah drama. Karenanya seorang pembicara hendaknya mampu mendramasir ceritanya. Gaya bahasa retorika Metafora (menerangkan sesuatu yang sebelumnya tidak dikenal dengan mengidentifikasikannya dengan sesuatu yang dapat disadari secara langsung, jelas dan dikenal); Monopoli semantik (penafsir tunggal yang memaksakan kehendak atas teks yang multi-interpretatif); Fantasy themes (tema-tema yang dimunculkan oleh penggunaan kata/istilah bisa memukau khalayak); Labelling (penjulukan, audiens diarahkan untuk menyalahkan orang lain), Kreasi citra (mencitrakan positif pada satu pihak, biasanya si subjek yang berbicara); Kata topeng (kosakata untuk mengaburkan makna harfiahnya/realitas sesungguhnya); Kategorisasi (menyudutkan pihak lain atau skenario menghadapi musuh yang terlalu kuat, dengan memecah-belah kelompok lawan); Gobbledygook (menggunakan kata berbelit-belit, abstrak dan tidak secara langsung menunjuk kepada tema, jawaban normatif); Apostrof (pengalihan amanat dengan menggunakan proses/kondisi/pihak lain yang tidak hadir sebagai kambing hitam yang bertanggung jawab kepada suatu masalah).

Pentingnya Retorika

Terkadang kita sering tidak sadar seberapa pentingkah berbicara dalam kehidupan kita. Banyak orang berbicara semaunya, seenaknya tanpa memikirkan apa isi dari pembicaraan mereka tersebut. Sebenarnya berbicara mempunyai artian mengucapkan kata atau kalimat kepada seseorang atau sekelompok orang, untuk mencapai tujuan tertentu (misalnya memberikan informasi atau memberi motivasi). Tapi sering kali kita mengalami kesulitan dalam mengungkapakan maksud dan isi pikiran kita kepada orang lain. Bahkan sering pula maksud yang kita sampaikan berbeda dengan yang ditangkap oleh pendengar.
Oleh karena itu berbicara sangatlah penting karena yang membedakan manusia dari hewan maupun makhluk lainnya adalah kesanggupan berbicara. Manusia adalah makhluk yang sanggup berkomunikasi lewat bahasa dan berbicara. Tetapi yang lebih mencirikan hakikat manusia sebagai manusia penuh adalah kepandaian dan keterampilan dalam berbicara. Pengetahuan bahasa saja belum cukup, kebesaran dan kelihaian seseorang sebagai manusia juga ditentukan oleh kepandaiannya dalam berbahasa, oleh keterampilannya dalam mengungkapkan pikiran secara tepat dan meyakinkan. Quintilianus, seorang bapak ilmu retorika berkebangsaan Romawi mengatakan, “Hanya orang yang pandai bicara adalah sungguh-sungguh manusia.” Di dalam dunia musik ada sebuah pesan yang berbunyi, “Bermain piano itu tidak sulit, seseorang hanya perlumenempatkan jari yang tepat pada saat yang tepat di atas tangga nada yang tepat. Kata-kata ini juga dapat dikenakan ke dalam ilmu retorika : “Berbicara itu sama sekali tidak sulit, seseorang hanya harus mengucapkan kata-kata yang tepat pada saat yang tepat kepada pendengar yang tepat.” Memang untuk terampil dalam berbicara tidaklah semudah itu.Untuk menjadi seorang yang pandai bicara, dibutuhkan latihan yang sistematis dan tekun. Sejarah sudah membuktikannya, orang-orang kenamaan seperti : Demosthenes, Cicero, Napoleon Bonaparte, winston Churchill, Adolf Hitler, J.F Kennedy, Marthin Luther King adalah orang-orang yang menjadi retor terkenal lewat latihan yang teratur, sistematis dan tekun.

Lalu mengapa kita perlu mempelajari retorika? Sering orang mengatakan, ”Dia tahu banyakhal, hanya sajatidak dapat mengungkapkannya dengan baik, seseorang tidak dapat mengungkapkan pikirannya secara meyakinkan.” Sangatlah menyedihkan, apabila orang memiliki pengetahuan yang berguna, tetapi tidak dapat mengkomunikasikannya secara mengesankan dan meyakinkan kepada orang lain. Hal tersebut merupakan salah satu contoh mengapa retorika itu penting. Retorika berarti kesenian untuk berbicara baik (Kunst, gut zu redden atau Ars bene dicendi), yang dicapai berdasarkan bakat alam (talenta) dan keterampilan teknis (ars, techne). Sekarang ini retorika diartikan sebagai kesenian untuk berbicara baik, yang dipergunakan dalam proses komunikasi antarmanusia. Kesenian berbicara ini bukan hanya berarti berbicara lancar tanpa jalan pikiran yang jelas dan tanpa isi, melainkan suatu kemapuan untuk berbicara dan berpidato secara singkat, jelas, padat dan mengesankan. Retorika modern mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi dan fantasi yang tinggi, teknik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta penilaian yang tepat. Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara pengetahuan, pikiran, kesenian, dan kesanggupan berbicara. Dalam bahasa percakapan atau bahasa populer, retorika berarti pada tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, atas cara yang lebih efektif, mengucapkan kata-kata yang tepat, benar dan mengesankan. Itu berarti kita harus dapat berbicara jelas, singkat dan efektif.

Retorika adalah suatu gaya atau seniberbicara, baik yang dicapai berdasarkan bakat alami (talenta) dan keterampilan teknis. Dewasa ini retorika diartikan sebagai kesenian untuk berbicara denganbaik yang dipergunakan dalam proses komunikasi antar manusia. Kesenian berbicara ini bukan hanya berarti berbicara secara lancar tampa jalan pikiran yang jelas dan tanpa isi, melainkan suatu kemampuan untuk berbicara dan berpidato secara singkat, jelas, padat dan mengesankan. Retorika modern mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi dan fantasi yang tinggi, teknik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta penilaian yang tepat.  Beretorika juga harus dapat dipertanggungjawabkan disertai pemilihan kata dan nada bicara yang sesuai dengan tujuan, ruang, waktu, situasi, dan siapa lawan bicara yang dihadapi.Titik tolak retorika adalah berbicara, berbicara berarti mengucapkan kata atau kalimat kepada seseorang atau sekelompok orang, untuk mencapai suatu tujuan tertentu (misalnya memberikan informasi). Berbicara adalah salah satu kemampuan khusus pada manusia. Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara pengetahuan, pikiran, kesenian dan kesanggupan berbicara. Dalam bahasa percakapan atau bahasa populer, retorika berarti pada tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, atas cara yang lebih efektif, mengucapkan kata-kata yang tepat, benar dan mengesankan. Itu bukti bahwaseseorang harus dapat berbicara jelas, singkat dan efektif. Jelas dimaksudkan agar mudah dimengerti; singkat untuk mengefektifkan waktu dan sebagai tanda kepintaran. Sebuah pepatah cina mengatakan, “Seseorang yang menembak banyak, belum tentu seorang penembak yang baik.” Keterampilan dan kesanggupan untuk menguasai seni berbicara ini dapat dicapai dengan mencontoh para tokoh-tokoh yang terkenal dengan mempelajari dan mempergunakan hukum-hukum retorika dengan melakukan latihan yang teratur. Dalam seni berbicara dituntut juga penguasaan bahan dan pengungkapan yang tepat melalui bahasa.

Berikut pengertian retorika yang dikemukakan oleh beberapa ahli di bidang retorika:

  • Pengertian Retorika Menurut Richard E. Young : Retorika adalah ilmu yang mengajarkan bagaimana kita menggarap masalah wicara-tutur kata secara heiristik, epistomologi untuk membina saling pengertian dan kerjasama.
  • Pengertian Retorika Menurut Socrates: Retorika adalah ilmu yang mempersoalkan tentang bagaimana mencari kebenaran dengan dialog sebagai tekniknya. Karena dialog, kebenaran dapat timbul dengan sendirinya.
  • Pengertian Retorika Menurut Plato: Retorika adalah kemampuan di dalam mengaplikasikan bahasa lisan yang sempurna dan merupakan jalan bagi seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang luas dan sempurna.
  • Konrad Lorenz mengatakan:

Apa yang diucapkan tidak berarti juga di dengar, apa yang di dengar tidak berarti juga di mengerti, apa yang di mengerti tidak berarti juga di setujui, apa yang di setujui tidak berarti juga di terima, apa yang di terima tidak berarti juga di hayati dan apa yang di hayati tidak berarti juga mengubah tingkah laku.

Retorika penting supaya apa yang di ucapkan dapat di dengar, apa yang di dengar dapat di setujui, apa yang disetujui dapat di terima, apa yang diterima dapat di hayati dan apa yang di hayati dapat mengubah tingkah laku.

Dari beberapa pengertian retorika diatas, apapun defenisi dan siapapun yang mengemukakannya semua mengacu dan memberi penekanan kepada kemampuan menggunakan bahasa lisan (berbicara) yang baik dengan memberikan sentuhan gaya (seni) di dalam penyampaiannya dengan tujuan untuk mengikat/menggugah hati pendengarnya untuk mengerti dan memahami pesan yang disampaikannya.

Retorika Sebagai Seni Berbicara

Mengenaiberbicaratentunyatakluputdarisejarahmanusiamulai di kenalkan. Imam al-Akhdlariy menyebutkan bahwa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah bahwa manusia itu disebut hayawanun nathiqun artinya “binatang yang pandai berbicara. Demikian pula orang-orang yang mampu mengubah sejarah peradaban dunia, mereka itu pada umumnya sangat piawai dalam mengolah kata dan bermain kalimat. Mulai dari para filusuf Yunani seperti Socrates, Aristoteles, dan Plato, sampai dengan para politikus, dan negarawan seperti Hitler, Musolini, Thomas Aquinas, Montesqueu, hingga negarawan kita yang cukup mahir dalam berorator seperti Bung Karno dan Bung Tomo.
Mereka memiliki karakter gaya bicara yang berbeda dan pendengar akan terlena dalam buaian kata-kata indah mereka. Kesimpulannnya adalah bahwa berbicara yang baik dan bermakna akan mengandung kekuatan spiritual tersendiri. Berbahasa Indonesia yang baik merupakan bagian identitas bangsa. Berbicara yang baik dan benar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baku harus dapat disosialisasikan oleh para publik figur, selebritis, di negeri ini. Pada era orde baru tampaknya justru yang merusak kaidah bahasa Indonesia adalah orang nomor satu di Indonesia. Indikasi “pengrusakkan” kaidah bahasa Indonesia era sekarang kiranya didominasi oleh bahasa iklan di media masa. Dalam hal ini perlu diadakan aturan main dalam memproduksi bahasa sebuah iklan, agar tidak merusak tatanan kaidah yang sudah baku. Penggunaan bahasa dan isitilah asing yang diadopsikan ke dalam bahasa Indonesia seharusnya dibatasi. Kalau tidak bisa disederhanakan oleh si pembicara sebaiknya tidak perlu diucapkan. Akan tetapi justru gejala ini dibuat sengaja oleh orang-orang yang masih setengah-setengah mengenyam pendidikan tinggi. Atau demi gengsi-gengsian mereka berbicara yang sok ilmiah. Ironisnya, justru mereka sendiri tidak mengerti apa sebenarnya isi pembicaraannya. Sepanjang sejarah, kongres bahasa Indonesia itu sudah sering dilaksanakan. Sehingga yang disebut dengan EYD entah akan berapa kali lagi akan disempurnakan. Barangkali akan lebih monumental jika gramatikal bahasa Indonesia itu secara resmi diundangkan. Dengan segala implikasinya, layaknya sebuah undang-undang (lengkap dengan sanksi hukum, jika ada penyalahgunaan istilah atau lainnya).

Alasan Mempelajari Retorika

Martin Luther berpendapat, ”Siapa yang pandai berbicara adalah seorang manusia, sebab berbicara adalah kebijaksanaan dan kebijaksanaan adalah berbicara. Di atas selembar papirus yang ditemukan di dalam sebuah makam tua di Mesir tertulis, ”Binalah dirimu menjadi seorang ahli pidato, sebab dengan begitu engkau akan menang.” Di dalam masyarakat umumnya dicari para pemimpin atau orang-orang berpengaruh, yang memiliki kepandaian di dalam hal berbicara. Juga di bidang-bidang lain seperti perindustrian, perekonomian dan bidang sosial, kepandaian berbicara atau keterampilan mempergunakan bahasa secara efektif sangat di andalkan. Menguasai kesanggupan berbahasa dan keterampilan berbicara menjadi alasan utama keberhasilan orang-orang terkenal di dalam Sejarah Dunia seperti : Demosthenes, Socrates, J. Caesar, St. Agustinus, St. Ambrosius, Martin Luther, Martin Luther King, J.F Kennedy, Soekarno dan lain-lain. Dalam Sejarah Dunia justru kepandaian berbicara atau berpidato merupakan instrumen utama untuk mempengaruhi massa. Bahasa dipergunakan untuk meyakinkan orang lain. Ketidakmampuan dalam mempergunakan bahasa membuat ketidakjelasan dalam mengungkapkan masalah atau pikiran dapat membawa dampak negatif dalam hidup dan karya seorang pemimpin. Oleh karena itu, pengetahuan tentang retorika dan ilmu komunikasi yang memadai akan membawa keuntungan bagi pribadi bersangkuatan dalam beberapa bidang tertentu. Banyak pria dan wanita dalam sejarah memperoleh suskes besar dalam hidup dan kariernya sebagai pemimpin, berkat penguasaan ilmu retorika. Sebab penguasaan teknik berbicara akan mempertinggi kepercayaan terhadap diri dan memberi rasa  pasti kepada orang yang bersangkutan. Bagi para pemimpin, retorika adalah alat penting untuk mempengaruhi dan menguasai manusia.

Retorika (Bahasa Yunani ῥήτωρ, rhêtôr, orator, teacher) adalah sebuah teknik pembujuk-rayuan secara persuasi untuk menghasilkan bujukan dengan melalui karakter pembicara, emosional atau argumen (logo), awalnya Aristoteles mencetuskan dalam sebuah dialog sebelum The Rhetoric dengan judul ‘Grullos’ atau Plato menulis dalam Gorgias, secara umum ialah seni manipulatif atau teknik persuasi politik yang bersifat transaksional dengan menggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan pendengar melalui pidato, persuader dan yang dipersuasi saling bekerja sama dalam merumuskan nilai, keprcayaan dan pengharapan mereka. Ini yang dikatakan Kenneth Burke (1969) sebagai konsubstansialitas dengan penggunaan media oral atau tertulis, bagaimanapun, definisi dari retorika telah berkembang jauh sejak retorika naik sebagai bahan studi di universitas. Dengan ini, ada perbedaan antara retorika klasik (dengan definisi yang sudah disebutkan diatas) dan praktek kontemporer dari retorika yang termasuk analisa atas teks tertulis dan visual. Dalam doktrin retorika Aristoteles terdapat tiga teknis alat persuasi politik yaitu deliberatif, forensik dan demonstratif. Retorika deliberatif memfokuskan diri pada apa yang akan terjadi dikemudian bila diterapkan sebuah kebijakan saat sekarang. Retorika forensik lebih memfokuskan pada sifat yuridis dan berfokus pada apa yang terjadi pada masa lalu untuk menunjukkan bersalah atau tidak, pertanggungjawaban atau ganjaran. Retorika demonstartif memfokuskan pada epideiktik, wacana memuji atau penistaan dengan tujuan memperkuat sifat baik atau sifat buruk seseorang, lembaga maupun gagasan.

Aristoteles adalah murid Plato, filsuf terkenal dari zaman Yunani Kuno. Kala itu, di Yunani dikenal Kaum Sophie yang mengajarkan cara berbicara atau berorasi kepada orang-orang awam, pengacara, serta para politisi. Plato sendiri banyak menyindir perilaku kaum Sophie ini karena menurutnya orasi yang mereka ajarkan itu miskin teori dan terkesan dangkal. Aristoteles berpendapat bahwa retorika itu sendiri sebenarnya bersifat netral, maksudnya adalah orator itu sendiri bisa memiliki tujuan yang mulia atau justru hanya menyebarkan omongan yang gombal atau bahkan dusta belaka. Menurutnya, “By using these justly one would do the greatest good, and unjustly, the greatest harm” (1991: 35). Aristoteles masih percaya bahwa moralitas adalah yang paling utama dalam retorika, akan tetapi dia juga menyatakan bahwa retorika adalah seni. Retorika yang sukses adalah yang mampu memenuhi dua unsur, yaitu kebijaksanaan (wisdom) dan kemampuan dalam mengolah kata-kata (eloquence).

Teori Retorika

Teori retorika adalah cara menggunakan seni berbahasa yang berpusat pada pemikiran mengenai retorika (gaya berbahasa/seni berbahasa), yang disebut oleh Aristoteles sebagai alat persuasi yang tersedia, maksudnya adalah seorang pembicara yang tertarik untuk membujuk pendengarnya untuk mempertimbangkan tiga bukti retoris yaitu logika (logos), emosi (pathos) dan etika/kredibilitas (ethos). Khalayak merupakan kunci dari persuasi yang efektif, dan silogisme retoris, yang memandang khalayak untuk menemukan sendiri informasi yang kurang lengkap dari suatu pidato yang tidak seluruhnya didengar. Sehingga, dapat diambil kesimpulan bahwa teori retorika adalah teori yang yang memberikan petunjuk untuk menyusun sebuah presentasi atau pidato persuasif yang efektif dengan menggunakan alat-alat persuasi yang tersedia.

Perlu diingat bahwa model komunikasi ini semakin lama semakin berkembang, tapi selau akan ada tiga aspek yang selalu sama dari masa ke masa, yaitu : sumber pengirim pesan, pesan yang dikirimkan, dan penerima pesan.

Asumsi Teori Retorika

Asumsi teori retorika adalah landasanberfikir yang dapat digunakan dalam menggunakan retorika, asumsi teori retorika terdiri atas:

  1. Pembicara yang efektif harus mempertimbangkan khalayak. Asumsi ini menekankan bahwa hubungan antara pembicara-khalayak harus dipertimbangkan. Para pembicara tidak boleh menyusun atau menyampaikan sebuah gagasan atau pidato dengan seni berbahasa yang dimilikinya tanpa mempertimbangkan atau memperhatikan khalayak, tetapi harus berpusat pada khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap sebagai sekelompok besar orang yang memiliki motivasi, keputusan, pilihan dan bukan sebagai sekelompok besar orang yang memiliki watak yang sama dan serupa. Asumsi ini menggarisbawahi definisi retorika atau komunikasi sebagai sebuah proses transaksional. Agar suatu pidato efektif harus dilakukan analisis khalayak (audience analysis), yang merupakan proses mengevaluasi suatu khalayak dan latar belakangnya serta menyusun pidato sedemikian rupa sehingga para pendengar memberikan respon sebagaimana yang diharapkan pembicara.
  2. Pembicara yang efektif menggunakan beberapa bukti dalam presentasi. Asumsi ini berkaitan dengan apa yang dilakukan pembicara dalam persiapan penyampaian gagasan atau pidato mereka dan dalam pembuatan pidato tersebut. Bukti-bukti yang dimaksudkan ini merujuk pada cara-cara persuasi yaitu: ethos, pathos dan logos. Ethos adalah karakter, intelegensi, dan niat baik yang dipersepsikan dari seorang pembicara. Logos adalah bukti logis atau penggunaan argument dan bukti dalam sebuah pidato. Pathos adalah bukti emosional atau emosi yang dimunculkan dari para anggota khalayak.

Kanon Teori Retorika

Kanon merupakan tuntunan atau prinsip-prinsip teori retorika yang harus diikuti oleh pembicara agar penyampaian gagasan atau pidato menjadi efektif, yaitu:

  1. Penemuan (invention), didefinisikan sebagai konstruksi atau penyusunan dari suatu argument yang relevan dengan tujuan dari suatu pidato. Dalam hal ini perlu adanya integrasi cara berfikir dengan argumen dalam pidato. Oleh karena itu, dengan menggunakan logika dan bukti dalam pidato dapat membuat sebuah pidato menjadi lebih kuat dan persuasive.
  2. Pengaturan (arrangement), berhubungan dengan kemampuan pembicara untuk mengorganisasikan gagasan atau pidato yang disampaikanya. Pidato secara umum harus mengikuti pendekatan yang terdiri atas tiga hal yaitu pengantar (introduction), batang tubuh (body), dan kesimpulan (conclusion). Pengantar merupakan bagian pembukaan dalam suatu pidato yang cukup menarik perhatian khalayak, menunjukkan hubungan topik dengan khalayakdan memberikan pembahasan singkat mengenai tujuan pembicara. Batang tubuh merupakan bagian isi dari pidato yang mencakup argument, contoh dan detail penting untuk menyampaikan suatu pemikiran. Penutup  atau epilog merupakan bagian kesimpulan isi pidato yang ditujukan untuk merangkum poin-poin penting yang telah disampaikan pembicara dan untuk menggugah emosi khalayak.
  3. Gaya (style), merupakan kanon retorika yang mencakup penggunaan bahasa untuk menyampaikan ide-ide di dalam sebuah penyampaian  gagasan atau pidato. Dalam penggunaan bahasa harus menghindari glos (kata-kata yang sudah kuno dalam pidato), akan tetapi lebih dianjurkan menggunakan metafora (majas yang membantu untuk membuat hal yang tidak jelas menjadi lebih mudah dipahami). Penggunaan gaya memastikan bahwa suatu pidato dapat diingat ide-ide dari pembicara.
  4. Penyampaian (delivery), adalah kanon retorika yang merujuk pada presentasi nonverbal dari ide-ide pembicara. Penyampaian biasanya mencakup beberapa perilaku seperti kontak mata, tanda vokal, ejaan, kejelasan pengucapan, dialek, gerak tubuh, dan penampilan fisik. Penyampaian yang efektif mendukung kata-kata pembicara dan membantu mengurangi ketegangan pembicara.
  5. Ingatan (memory) adalah kanon retorika yang merujuk pada usaha-usaha pembicara untuk menyimpan informasi untuk sebuah pidato. Dengan ingatan, seseorang pembicara dapat mengetahui apa saja yang akan dikatakan dan kapan mengatakannya, meredakan ketegangan pembicara dan memungkinkan pembicara untuk merespons hal-hal yang tidak terduga.

Jenis-Jenis Teori Retorika

Jenis-jenis teori retorika adalah salah satu ragam retorika yang telah dikelompokan berdasarkan fungsinya, situasai yang tepat dan ketepatan menggunakan jenis retorika dalam penyampaian gagasan atau penyampaian pidato dengan mengetahui  jenis-jenis retorika maka teori retorika akan lebih mudah dipahami dan dilaksanakan bagi orator atau pembicara. Jenis-jenis retorika terdiri atas:

  1. Retorika forensic (forensic rhetoric), berkaitan dengan keadaan dimana pembicara mendorong timbulnya rasa bersalah atau tidak bersalah dari khalayak. Pidato forensic atau juga disebut pidato yudisial biasanya ditemui dalam kerangka hukum. Retorika forensic berorientasi pada masa waktu lampau. Contoh retorika forensic yaitu retorika atau seni berbahasa yang digunakan oleh seorang hakim dalam menimbang keputusan tentang salah atau tidak seorang tersangka dalam perkara yang disidangkan dilihat dari perbuatanya di masalalu.
  2. Retorika epideiktik (epideictic rhetoric), adalah jenis retorika yang berkaitan dengan wacana yang berhubungan dengan pujian atau tuduhan. Pidato epideiktik sering disebut juga pidato seremonial. Pidato jenis ini disampaikan kepada publik dengan tujuan untuk memuji, menghormati, menyalahkan dan mempermalukan. Pidato jenis ini berfokus pada isu-isu sosial yang ada pada masa sekarang.
  3. Retorika deliberative (deliberative rhetoric), adalah jenis retorika yang menentukan tindakan yang harus dilakukan atau yang tidak boleh dilakukan oleh khalayak. Pidato ini sering disebut juga dengan pidato politis. Pidato deliberative berorientasi pada masa waktu yang akan datang. Contohnya pidato yang disampaikan oleh calon ketua partai dalam kampanye.

 Kesimpulan

  • Teori retorika adalah cara menggunakan seni berbahasa yang berpusat pada pemikiran mengenai retorika (gaya berbahasa/seni berbahasa), yang disebut oleh Aristoteles sebagai alat persuasi yang tersedia yaitu ethos, pathos dan logos.
  • Asumsi teori retorika meliputi: memperhatikan khalayak saat akan berbicara dan menggunakan bukti untuk memperkuat argumen yang dibicarakan.
  • Kanon atau prinsip teori retorika yaitu:
  1. Penemuan (invention), didefinisikan sebagai konstruksi atau penyusunan dari suatu argument yang relevan dengan tujuan dari suatu pidato.
  2. Pengaturan (arrangement), berhubungan dengan kemampuan pembicara untuk mengorganisasikan gagasan atau pidato yang disampaikanya.
  3. Gaya (style), merupakan kanon retorika yang mencakup penggunaan bahasa untuk menyampaikan ide-ide di dalam sebuah penyampaian gagasan atau pidato.
  4. Penyampaian (delivery), adalah kanon retorika yang merujuk pada presentasi nonverbal dari ide-ide pembicara.
  5. Ingatan (memory) adalah kanon retorika yang merujuk pada usaha-usaha pembicara untuk menyimpan informasi untuk sebuah pidato.
  • Jenis-jenis teori retorika terdiri atas:
  1. Retorika forensic (forensic rhetoric) atau pidato yudisial, berkaitan dengan keadaan dimana pembicara mendorong timbulnya rasa bersalah atau tidak bersalah dari khalayak.
  2. Retorika epideiktik (epideictic rhetoric), adalah jenis retorika yang berkaitan dengan wacana yang berhubungan dengan pujian atau tuduhan.
  3. Retorika deliberative (deliberative rhetoric), adalah jenis retorika yang menentukan tindakan yang harus dilakukan atau yang tidak boleh dilakukan oleh khalayak.

Daftar Pustaka

 Brooks, Cleanthdan Robert Penn Warren. 1970. Modern Rethoric. New York: Harcourt, Brace and World.

Cavallaro, Dani. 2001. Critical and Cultural Theory. London: The Athlone Press.

Cf. Zhu Guangqian, Wenyi Xinlixue. 1936. Psychology of Literature and Art.Shanghai:Kaiming Shudian.

Fairclough, Norman. 1997. Discourse and Social Change. Cambridge: Polity Press.

Fairclough, Norman. 2001. Language and Power. England: Pearson Education Limited.

Golden, James L Berquist, Goodwin, and Coleman, William E. 1983. The Rethoric of Western Thought. Iowa: Kendli / Hunt Publishing.

Griffin, Emory A. 2003. A First Look at Communication Theory. New York: McGraw-Hill.

Keraf, Goris. 1994. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Penerbit Gramedia.

Lado, Robert. 1964. Language Teaching A Scientific Approach. New York: Mc­Graw-Hill,Inc.

 Muhtadi, Asep Saepul. 2008. Komunikasi Politik Indonesia: Dinamika Islam Politik Pasca Orde Baru. Bandung: Remaja Rosda karya.

 Mulyana Deddy. 2008. Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. Jakarta : Remaja Rosdakarya.

 Michael Burgoon. 1974. Appproaching Speech Communication. New York: Holt,Rinehart & Winston.

Oka, LG.N. Basuki. 1990. Retorik Kiat Bertutur. Malang: Penerbit YA3 Malang.

Syafi’ie, Imam. 1988. Retorika dalam Menulis. Malang: PPS IKIP Malang.

Taylor, Edward Burned. 1969. Primitive Culture. Inggris: Fried Press.

CHINA DREAM (中国梦) : FILSAFAT KONFUSIUS SEBAGAI KEKUATAN MORAL

Oleh : Rudiansyah

Latar Belakang Masalah

Filsafat Tiongkok bermula pada masa awal seribu tahun pertama sebelum Masehi. Pada awal abad ke-8 sampai dengan abad ke-5 sebelum Masehi filsafat Tiongkok mempunyai ajaran tentang sumber-sumber utama lima anasir alam, yaitu air, api, kayu, logam, dan bumi. Pemikir terdahulu Tiongkok mengajarkan bahwa gabungan lima unsur tersebut menciptakan seluruh keberagaman fenomena. Pada saat yang sama, terbentuklah doktrin tentang kekuatan yang (aktif) dan yin (pasif) yang berlawanan dan saling terkait. Aksi dan kedua kekuatan ini dipandang sebagai sebab gerakan dan perubahan dari alam. Filsafat Tiongkok kuno terus berkembang dari abad ke-5 sampai ke-3 sebelum Masehi. Dalam periode inilah aliran-aliran filosofis Tiongkok muncul, seperti Konfusius. Banyak pemikir Tiongkok kuno berupaya memecahkan masalah hubungan logis antara konsep dan realitas.

Michale Hart, dalam bukunya “seratus tokoh paling berpengaruh dalam sejarah” menempatkan Konfusius dalam urutan kelima setelah Nabi Muhammad, Isaac Newton, Nabi Isa dan Buddha. Pengaruh ajaran Konfusius memang amat besar, tapi terbatas pada wilayah Asia Timur. Meskipun demikian, pengaruhnya terhadap dunia barat juga ada, yang berbekas pada pemikiran-pemikiran Leibniz dan Voltaire.

Ajaran Konfusius adalah arah menuju sifat-sifat ideal manusia sebagai individu maupun bermasyarakat. Ajaran ini lebih mudah dipahami melalui perjalanan hidup sang filsuf. Konfusius mengatakan: “pada umur 15 tahun saya siapkan hatiku untuk belajar; pada usia 30 aku merasa diriku sudah mapan; sampai pada saat mencapai usia 40 tahun saya tidak punya keraguan lagi dalam diri; saat berumur 50 tahun saya tahu wasiat surga; sewaktu berumur 60 tahun say siap mendengar itu; sampai pada umur 70 tahun saya bisa mengikuti keinginan hati tanpa harus mendahului kebenaran”. Di akhir hayatnya Konfusius merasa tidak banyak memberikan arti dan sumbangan pemikiran bagi rakyatnya, tetapi sejarah membuktikan yang sebaliknya. Pada masa dinasti Chin, tepatnya tahun 221 SM, Konfusianisme pernah dilarang. Kaisar Shi Huang Ti, kaisar pertama dinasti Chin membabat habis pengaruh Konfusianisme dan memenggal mata rantai yang menghubungkannya dengan masa lampau. Tetapi pengaruh Konfusianisme tidak luntur, bahkan tumbuh semakin subur. Pada masa dinasti Han (206 SM – 220 SM), ajaran konfusius bahkan menjadi filsafat resmi negara.

Kini, lebih dari 2000 tahun setelah kelahiran Konfusius, ajaran-ajarannya masih terasa relevan dalam situasi sekarang. Tidak hanya bagi masyarakat Tiongkok, tetapi juga bagi masyarakat luas yang merasa kebenaran seolah bersembunyi entah dimana. Cinta akan keramah-tamahan dan sopan santun yang kita warisi dari leluhur seolah hilang tanpa bekas. Tidak ada salahnya jika kita belajar kebajikan sebagai nilai-nilai kemanusiaan yang universal, meskipun itu datangnya dari negeri Tiongkok.

Konfusianisme

Konfusianisme atau biasa dikenal dengan agama Kong Hu Chu adalah agama tertua di negeri Tiongkok. Tiongkok merupakan sebuah negara yang memiliki sejarah panjang tentang tumbuh-kembangnya ajaran-ajaran agama konfusianisme tersebut, tetapi agama tersebut bukanlah satu-satunya agama di negeri Tiongkok, sebab Tiongkok sendiri memilki tiga agama. Tiga agama yang dimaksud adalah agama Konfusianisme, Taoisme dan Budha. Ketiga agama tersebut memang sangat berkaitan erat. Agama Konfusianisme adalah sebuah agama yang mengajarkan kepada para pengikutya menuju sifat-sifat ideal manusia sebagai individu itu sendiri maupun dalam kehidupan bermasayarakat. Agama Konfusianisme juga telah memberikan kesan yang mendalam bagi kehidupan dan kebudayaan di negeri Tiongkok, karena dalam agama tersebut terdapat beberapa ajaran yang mengarah tentang cinta, keramah tamahan, sopan santun dan filsafat serta ajaran-ajaran yang terkandung dalam agama tersebut.

Taoisme

Taoisme merupakan ajaran pertama bagi masyarakat Tiongkok yang dikemukakan Lao Tse. Lao Tse dilahirkan di Provinsi Hunan pada tahun 604 SM. Ia merasa sangat kecewa akan kehidupan dunia, sehingga ia memutuskan untuk pergi mengasingkan diri dengan tidak mencampuri urusan duniawi. Ia kemudian menulis kitab Tao Te Ching yang kelak menjadi dasar pandangan ajaran Taoisme. Tao berarti “jalan” dan dalam arti luas yaitu realitas absolut, tidak terselami, dasar penyebab, dan akal budi. Kitab Tao Te Ching memuat ajaran bahwa seharusnya manusia mengikuti geraknya (hukum alam) yaitu dengan memiliki kesederhanaan hukum alam. Dengan Tao manusia dapat menghindarkan diri dari segala keadaan yang bertentangan dengan irama alam semesta. Taoisme diakui sebagai suatu pre-sistematik berpikir terbesar di dunia yang telah mempengaruhi cara berpikir masyarakat Tiongkok. (Haryono, 1994), menyimpulkan bahwa pada dasarnya Filsafat Taoisme dibangun dengan tiga kata, yaitu:

  1. Tao-Te, “tao” adalah kebenaran, hukum alam, sedangkan “te” adalah kebajikan. Jadi Tao Te berarti hukum alam yang merupakan irama dan kaidah yang mengatur bagaimana seharusnya manusia menata hidupnya.
  2. Tzu-Yan artinya wajar, manusia seharusnya hidup secara wajar dan selaras dengan cara bekerja sama dengan alam.
  3. Wu-Wei berati tidak campur tangan dengan alam, manusia tidak boleh mengubah apa yang sudah diatur oleh alam.

Buddhisme

Buddhisme atau agama Buddha sudah menjadi bagian dari filosofi Tiongkok selama hampir 2000 tahun. Meskipun Buddha bukan merupakan agama asli Tiongkok, melainkan pengaruh dari India, tetapi ajaran Buddha mempunyai pengaruh yang cukup berarti pada kehidupan masyarakat Tiongkok. Tema pokok ajaram agama Buddha adalah bagaimana menghindarkan manusia dari penderitaan, karena kejahatan dianggap sebagai pangkal penderitaan. Manusia yang lemah, tidak memiliki pengetahuan akan Buddhisme akan sangat mudah terkena kejahatan dan sulit untuk membebaskan diri dari penderitaan. Pendiri agama Buddha adalah Sidharta Gautama. Ia dilahirkan dari keluarga bangsawan di Negera India. Sewaktu kecil, ayahnya menjauhkan Sidharta dari segala macam bentuk penderitaan dunia, sampai pada suatu hari secara tidak sengaja ia melihat orang-orang yang selama ini belum dilihatnya yaitu orang tua, orang yang sakit dan orang meninggal. Kenyataan tersebut membuatnya kemudian meninggalkan istana dan bertapa di bawah pohon bodhi. Setelah bertapa selama enam tahun akhirnya ia memperoleh pencerahan dengan menemukan obat penawar bagi penderitaan, yaitu jalan keluar dari lingkaran tanpa akhir dengan melalui kelahiran kembali kepada suatu jalan menuju nirwana. Jalan ini yang kemudian dikenal juga sebagai inti dari ajaran Buddha.

Konfusius

Konfusius merupakan seorang filsuf yang berasal dari dataran Tiongkok. Ia lahir pada tahun 551 SM pada masa pemerintahan Raja Ling dari Dinasti Zhou, dengan nama kecil Khung Chiu atau Zhong Ni. Konfusius dikenal dengan ajarannya yang sarat akan moralitas atau kebajikan sebagai landasan utama untuk menjalani kehidupan yang harmonis. Selama hidupnya, Konfusius mengabdikan diri pada kegiatan belajar-mengajar. Ia belajar sejak kecil hingga akhir hayatnya. Konfusius adalah seorang filosof dunia yang mengajarkan nilai-nilai kebajikan dan moralitas. Masyarakat penganut ajaran nilai-nilai Konfusius yang mengutamakan nilai moral (Li) cenderung untuk menyatu dengan alam. Penyatuan dan keselarasan hidup manusia dengan alam menjadikan masyarakat cenderung untuk menghindar dari konflik, baik konflik dengan sesama manusia maupun konflik dengan lingkungan alam.

Ajaran dari filsafat Tiongkok ini menjadikan masyarakat Tiongkok penganut Konfusianisme untuk menolak bersentuhan langsung dengan hukum. Penolakan tersebut tidak diartikan mereka sebagai masyarakat yang menentang hukum, melainkan mereka memiliki kecenderungan untuk mencari jalan damai dari setiap masalah yang mereka hadapi. Konfusius sendiri bukanlah menciptakan sebuah ajaran agama yang baru, melainkan ia berupaya melestarikan sebuah ajaran moral yang telah hidup dan berkembang jauh sebelum Konfusius lahir. Ajaran Konfusius merupakan ajaran yang diwajibkan bagi kalangan kekaisaran Tiongkok, khususnya sejak berkuasanya dinasti Han. Ajaran Konfusius diujikan bagi setiap calon pegawai kerajaan yang hendak mengabdi. Pada sisi lainnya masyarakat Tiongkok yang berasal dari kalangan bawah (lower level) cenderung untuk tidak memahami Konfusius, mengingat ajaran tersebut tidak pernah mereka dapatkan, karena mereka hidup dengan kondisi ekonomi yang sangat sederhana dan tidak mengenyam bangku pendidikan.

Ajaran Konfusius menjadi populer bagi peneliti barat, khususnya ilmu hukum. Ketika para peneliti tersebut mencoba untuk melihat benturan antara moral (Li) dan hukum tertulis (Fa). Menurut Konfusius, manusia akan menjadi benar, jika manusia menjunjung tinggi moral (Li) dalam setiap kehidupannya. Dengan menjunjung tinggi moral, maka manusia akan berada dalam kesempurnaan, sehingga manusia tidak perlu lagi berpedoman pada hukum. Menurutnya hukum tertulis yang dibuat oleh para pembentuk hukum (kaum legalis) menjadikan manusia memiliki perilaku yang buruk. Hukum merupakan tempat berkumpulnya orang-orang jahat, hukum menjadikan manusia bersikap tamak dan serakah. Manusia yang telah mencapai kesempurnaan moralitas tidak akan membutuhkan hukum dalam hidupnya. Pemikiran Konfusius tersebut dilandasi oleh sebuah keyakinan bahwa pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan baik, karena telah tertanamnya moral didalam diri seseorang sejak ia lahir ke dunia.

Pendapat Konfusius tersebut mendapat tentangan hebat dari kaum legalis, yang melihat bahwa sesungguhnya manusia dilahirkan dengan membawa watak dan sifat jahat. Manusia cenderung untuk menang sendiri, ia akan menjadi serigala bagi manusia yang lain. Pada keadaan yang demikian manusia harus diatur oleh hukum yang keras. Menurut kaum legalis seorang raja memperoleh legitimasi kekuasaan dari Tuhan/Langit/Surga/Sesuatu yang berkuasa (Tian) dan ketika ia berkuasa maka ia dibekali dengan hukum untuk menundukkan sifat dan watak keras manusia, sehingga tidak ada satupun manusia yang akan menentangnya. Pada saat ini pertempuran ideologis antara moral (Li) dan hukum (Fa) menjadi lebih kuat dan menunjukkan sebuah perubahan. Masyarakat Tiongkok memandang pentingnya hukum dalam mengatur kehidupan manusia, akan tetapi hukum tidak dapat dibiarkan berjalan sendiri melainkan harus selalu diselimuti oleh moral. Hukum akan menjadi baik dan benar ketika hukum diselimuti oleh nilai kebajikan moral. Sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi pembelajar hukum dan pelaksana hukum untuk menyatukan moral dan hukum.

Kesimpulan

Konfusius dan ajaran filsafat yang didirikannya merupakan bagian utama dan kekuatan utama dari budaya Tiongkok, terlebih lagi ajaran ini telah menempati posisi dominan dalam waktu yang sangat lama. Konfusius dan ajaran filsafatnya telah meletakkan nilai-nilai inti dari budaya Tiongkok, menimbulkan pengaruh yang dalam terhadap perkembangan dan pewarisan peradaban Tiongkok. Konfusius dan ajaran filsafatnya memainkan peran yang tak tergantikan dalam membentuk budaya dan semangat negeri Tiongkok. Oleh karena itu, dalam sejarah, terutama sejarah modern, filsafat konfusius telah menjadi simbol budaya Tiongkok.

            Peran konfusius dan ajaran filsafat yang paling penting adalah menegakkan kerasionalan nilai-nilai budaya Tiongkok, meletakkan sebuah dasar moral bagi peradaban Tiongkok, memeberikan kekuatan moral dan kekuatan spiritual yang mendasar bagi budaya Tiongkok serta menjadikan ajaran filsafat konfusius menjadi sebuah “peradaban moral”. Dalam sejarah Tiongkok disebut sebagai (the land of propriety), ini menunjukan bahwa negeri peradaban ini memiliki peradaban moral yang matang dan peradaban moral yang matang ini menjadi simbol yang menonjol dari budaya negeri secara keseluruhan. Kekuatan moral menjadi kekuatan lunak (soft power) yang paling menonjol dari peradaban Tiongkok. Semua ini berasal dari kekuatan pembentukan moral oleh konfusius dan ajaran filsafatnya.

Daftar Pustaka  

Cf. Mou Zongsan,.1998. Zhongxi zhexue zhi huitong shisi jiang (Fourteen Lectures on the Transformation between Chinese and Occidental Philosophies),  Shanghai: Shanghai Guji Chubanse.

Cf. Zhu Guangqian. 1936. Wenyi Xinlixue (Psychology of Literature and Art), Shanghai: Kaiming Shudian.

Cheng Qinhua. 1952. Everyday Chinese Wisdom, China: Foreign Language Press.

C.J. Ducasse. 1988. Philoshopy of Art. Beijing: Guanming Daily Press.

Ding Wangdao. 2007. The Konfucianisme and Taoisme, China: Foreign Language Press.

Fu Chunjiang. 2010. Origins of Chinese Culture. Singapore: Asiapacs Books PTE LTD.

 Falguni A. Sheth. 1968. Toward a Political Philoshopy of Race. New York: University of New York Press.

Wang Keping. 2004. The Classic of the Tao: A New Investigation, Beijing: Foreign Language Press.

Wang Keping. 2006. Chinese Philosophy on Life, Beijing: Foreign Language Press.

Wang Keping. 2007. Ethos of Chinese Culture, Beijing: Foreign Language Press.

ANALISIS FILSAFAT ILMU : ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, AKSIOLOGI DAN LOGIKA ILMU PENGETAHUAN

Pengarang : Drs. H. Mohammad Adib, M.A.

Oleh : Rudiansyah

Latar Belakang Masalah

Filsafat merupakan suatu ilmu pengetahuan yang bersifat ekstensial, artinya sangat erat hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari. Bahkan dapat dikatakan filsafat menjadi motor penggerak kehidupan sehari-hari sebagai manusia pribadi maupun sebagai manusia kolektif dalam bentuk suatu masyarakat atau bangsa. Dalam konteks filsafat hidup, seseorang selalu mempertimbangkan hal-hal yang penting dan terpenting sebelum menetapkan keputusan untuk berperilaku. Hal-hal yang terpenting tersebut tergolong esensial. Dalam pengertian ini, hal-hal yang esensial meliputi pengertian filsafat.

Filsafat ilmu merupakan kajian atau telaah secara mendalam terhadap hakikat ilmu. Filsafat ilmu dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat ilmu, diantaranya adalah:

Ontologi

Ontologi terdiri dari dua suku kata, yakni ontos dan logos. Ontos berarti sesuatu yang berwujud dan logos berarti ilmu. Ontologi dapat diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada. Objek ilmu atau keilmuan merupakan dunia empirik, yaitu dunia yang dapat di jangkau panca indra dan objek ilmu merupakan pengalaman indrawi. Dengan kata lain, ontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud dengan berdasarkan pada logika semata. Dari teori hakikat (ontologi) ini kemudian muncullah beberapa aliran dalam filsafat, antara lain: Filsafat Materialisme, Filsafat Idealisme, Filsafat Dualisme, Filsafat Skeptisisme dan Filsafat Agnotisisme.

Ontologi merupakan salah satu dari tiga kajian Filasafat Ilmu yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Beberapa tokoh Yunani yang memiliki pemikiran yang bersifat ontologis adalah Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masa Yunani ketika mithology masih memiliki pengaruh yang kuat, kebanyakan orang belum mampu membedakan antara penampakan dengan kenyataan. Bahkan pada masa tersebut ada banyak hal yang masih mengkaji kejadian alam dalam bentuk mistis sebagai penanggung jawab dari fenomena alam yang sulit untuk dimengerti. Ontologi juga dapat diartikan sebagai keberadaan (The theory of being qua being) atau Ilmu tentang yang ada. Menurut istilah, ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality yang berbentuk jasmani, kongkret maupun rohani atau abstrak (Bakhtiar, 2004).

Term ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun1636 M, untuk menamai teori tentang hakikat yang ada dan bersifat metafisis. Dalam perkembangan selanjutnya, Christian Wolf (1679 – 1754 M) membagi Metafisika menjadi 2 yaitu : Metafisika umum (ontologi metafisika), dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontologi. Jadi metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. Metafisika khusus (kosmologi, psikologi dan teologi) merupakan paham–paham dalam ontologi (Bakker, 1992). Dalam pemahaman ontologi dapat diketemukan pandangan-pandangan pokok atau aliran-aliran pemikiran, antara lain: Monoisme, Dualisme, Pluralisme, Nihilisme, dan Agnotisisme.

Dalam bukunya The Meaning of Truth, James mengemukakan bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak, berlaku umum, bersifat tetap, berdiri sendiri serta lepas dari akal yang mengenal. Apa yang kita anggap benar sebelumnya dapat dikoreksi atau diubah oleh pengalaman berikutnya. Nihilisme berasal dari bahasa latin yang berarti nothing atau tidak ada. Doktrin tentang nihilisme sudah ada semenjak zaman Yunani Kuno, tokohnya yaitu Gorgias (483-360 SM) yang memberikan 3 proposisi tentang realitas yaitu: Pertama, tidak ada satupun yang eksis. Kedua, bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat diketahui. Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain. Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda, baik hakikat materi maupun rohani.

Jujun S. Suriasumantri (1985), menyatakan bahwa pokok permasalahan yang menjadi objek kajian filsafat mencakup tiga segi, yaitu: logika (benar-salah), etika (baik-buruk) dan estetika (indah-jelek). Ketiga cabang utama filsafat ini lanjut Suriasumantri, kemudian bertambah lagi, yaitu: pertama, teori tentang ada: tentang hakikat keberadaan zat, hakikat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran yang semuanya terangkum dalam metafisika; kedua, kajian mengenai organisasi sosial atau pemerintahan yang ideal, terangkum dalam politik. Dari kelima cabang filsafat seperti logika, etika, estetika, metafisika dan politik, menurut Suriasumantri kemudian berkembang menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian lebih spesifik lagi yang disebut filsafat ilmu. Dalam hal ini, ontologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau dengan kata lain suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”. Dengan begitu, telaah ontologis akan menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai: 1. Apakah obyek ilmu yang akan ditelaah?

  1. Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut?
  2. Bagaimana hubungan antara objek tersebut dengan daya tangkap manusia (seperti    berpikir, merasa, dan mengindera) yang dapat membuahkan pengetahuan?

Soetriono & Hanafie (2007), Ontologi merupakan azas dalam menerapkan batas atau ruang lingkup wujud yang menjadi obyek penelaahan (objek ontologis atau objek formal dari pengetahuan) serta penafsiran tentang hakikat realita (metafisika) dari objek ontologi atau objek formal tersebut dan dapat merupakan landasan ilmu yang menanyakan apa yang dikaji oleh pengetahuan dan biasanya berkaitan dengan alam kenyataan dan keberadaan.

Pengertian paling umum pada ontologi adalah bagian dari bidang filsafat yang mencoba mencari hakikat dari sesuatu. Pengertian ini menjadi melebar dan dikaji secara tersendiri menurut lingkup cabang-cabang keilmuan tersendiri. Pengertian ontologi ini menjadi sangat beragam dan berubah sesuai dengan berjalannya waktu. Dalam hal ini sebuah ontologi memberikan pengertian untuk penjelasan secara eksplisit dari konsep terhadap representasi pengetahuan pada sebuah knowledge base. Sebuah ontologi juga dapat diartikan sebagai sebuah struktur hirarki dari istilah untuk menjelaskan sebuah domain yang dapat digunakan sebagai landasan untuk sebuah knowledge base. Dengan demikian, ontologi merupakan suatu teori tentang makna dari suatu objek, property dari suatu objek, serta relasi objek yang mungkin terjadi pada suatu domain pengetahuan. Pada tinjauan filsafat, ontologi adalah sebuah studi tentang sesuatu yang ada.

Epistemologi

            Epistemologi berasal dari bahasa Yunani yaitu episteme, yang berarti pengetahuan (knowledge) dan logos yang berarti ilmu. Menurut arti katanya, epistemologi ialah ilmu yang membahas masalah-masalah pengetahuan. Di dalam Webster New International Dictionary, epistemologi diberi definisi sebagai berikut: Epistimology is the theory or science the method and grounds of knowledge, especially with reference to its limits and validity, yang artinya Epistemologi adalah teori atau ilmu pengetahuan tentang metode dan dasar-dasar pengetahuan, khususnya yang berhubungan dengan batas-batas pengetahuan dan validitas atau berlakunya sebuah pengetahuan (Darwis. A. Soelaiman, 2007).

            Istilah Epistemologi banyak dipakai di negeri Anglo Saxon (Amerika) dan jarang dipakai di negeri continental (Eropa). Ahli-ahli filsafat Jerman menyebutnya Wessenchaftslehre. Sekalipun lingkungan ilmu yang membicarakan masalah-masalah pengetahuan itu meliputi teori pengetahuan, teori kebenaran dan logika, tetapi pada umumnya epistemologi hanya membicarakan tentang teori pengetahuan dan kebenaran saja.

            Epistemologi atau filsafat pengetahuan merupakan salah satu cabang filsafat yang mempersoalkan masalah hakikat pengetahuan. Apabila kita berbicara mengenai filsafat pengetahuan, yang dimaksud dalam hal ini adalah ilmu pengetahuan kefilsafatan yang secara khusus hendak memperoleh pengetahuan tentang hakikat pengetahuan.

            J.A Niels Mulder menuturkan, epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang watak, batas-batas dan berlakunya dari ilmu pengetahuan. Sedangkan Jacques Veuger berpendapat bahwa epistemologi adalah pengetahuan tentang pengetahuan serta pengetahuan yang kita miliki tentang pengetahuan orang lain. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa epistemologi adalah bagian dari filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode, dan keshahihan pengetahuan. Jadi objek material dari epistemologi adalah pengetahuan dan objek formalnya adalah hakikat pengetahuan. Abbas Hammami Mintarejo, memberikan pendapat bahwa epistemologi adalah bagian filsafat atau cabang filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan dan mengadakan penilaian atau pembenaran dari pengetahuan yang telah terjadi. (Surajiyo, 2008).

            Epistemologi atau teori pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian, dasar-dasar serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.

Metode Filsafat Dalam Memperoleh Pengetahuan

  1. Empirisme

Empirisme adalah suatu cara atau metode dalam filsafat yang mendasarkan cara untuk memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, seorang bapak empirisme Britania mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa) dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan seseorang diperoleh dengan jalan menggunakan serta membandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama dan sederhana. Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Hal ini menyatakan bahwa semua pengetahuan seseorang dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau di anggap bukan pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.

  1. Rasionalisme

Rasionalisme adalah sebuah pikiran manusia, hal ini menimbulkan faham rasionalisme, yang mempercayai adanya kebenaran dan berpendrian bahwa manusia mungkin mengerti dan alat pengetahuannya berupa akal. Seseorang yang berpegang pada epistemologi menyatakan bahwa kebenaran dapat ditemukan sebelum adanya pengalaman. Rasionalisme memiliki sumber pengetahuan yang terletak pada akal seseorang, bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman dipandang sebagai sebuah perangsang bagi akal pikiran. Para penganut rasionalisme meyakini bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita dan bukannya di dalam diri seseorang. Jika kebenaran mengandung makna atau ide yang sesuai dengan petunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya ada di dalam pikiran seseorang dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi serta dapat melahirkan paham intelektualisme dalam dunia pendidikan.

  1. Fenomenalisme

Immanuel Kant membuat uraian tentang pengalaman, yaitu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri untuk merangsang alat inderawi dan diterima oleh akal dalam bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu seseorang tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang sesuatu seperti keadaannya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepadanya, artinya pengetahuan tentang gejala (Phenomenon). Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman meskipun benar hanya untuk sebagian. Penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap sesuatu serta pengalaman.

  1. Intusionisme

Menurut Bergson, intusionisme adalah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisa atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif. Salah satu diantara unsur-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah, paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. Dengan demikian, data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan.

  1. Dialektis

Dialektis adalah tahap logika yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode penuturan serta analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan. Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti kecakapan untuk melakukan perdebatan. Dalam teori pengetahuan, hal ini merupakan bentuk pemikiran yang tidak tersusun dari satu pikiran tetapi pemikiran itu seperti dalam percakapan serta bertolak pada dua kutub.

  1. Metode Induktif

Metode Induksi yaitu suatu metode yang menyimpulkan pernyataan pernyataan hasil observasi dalam suatu pernyataan yang lebih umum dan menurut suatu pandangan yang dapat diterima secara luas. Ilmu empiris ditandai oleh metode induktif, disebut induktif bila bertolak dari pernyataan tunggal seperti gambaran mengenai hasil pengamatan dan penelitian seseorang sampai pada pernyataan ­universal.

  1. Metode Deduktif

Metode deduksi adalah suatu metode yang menyimpan bahwa data­-data empiris diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang harus ada dalam metode deduktif, yaitu adanya perbandingan logis antara kesimpulan-kesimpulan itu sendiri. Bentuk logis teori bertujuan untuk apakah teori tersebut mempunyai sifat empiris atau ilmiah serta perbandingan dengan teori-teori lain dan ada pengujian teori dengan jalan rnenerapkan secara empiris kesimpulan-kesimpulan yang bisa ditarik dari teori tersebut.

  1. Metode Positivisme

Metode ini dikeluarkan oleh August Comte. Metode ini berpangkal dari apa yang diketahui, yaitu faktual dan bersifat positif dengan menyampingkan segala uraian persoalan diluar yang ada sebagai fakta, oleh karena itu ia menolak metafisika yang diketahui positif, yaitu segala yang nampak dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan diatasi kepada bidang gejala saja.

  1. Metode Kontemplatif

Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indera dan manusia untuk memperoleh pengetahuan, sehingga objek yang dihasilkan akan berbeda. Hal ini seharusnya dikembangkan dengan kemampuan akal yang disebut dengan intuisi.

  1. Metode Dialektis

Dalam filsafat, dialektika mula-mula berarti metode tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat. Metode ini diajarkan oleh Socrates. Namun Pidato mengartikannya diskusi logika. Kini dialekta berarti tahap logika yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode-metode penuturan serta analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam metode peraturan, juga analisis sistematika tentang ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangannya.

Aksiologi

Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Pembahasan aksiologi menyangkut masalah  nilai kegunaan  ilmu. Berikut pengertian aksiologi menurut para ahli:

  • Koento (2003: 13), aksiologi membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatkannya. Aksiologi merupakan sebuah ilmu yang terdiri dari nilai-nilai yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan seperti yang dijumpai dalam kehidupan yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik ataupun fisik material.
  • Kattsoff (2004: 319), aksiologi sebagai ilmu pengetahuan yang menyelediki hakekat nilai yang pada umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan.
  • Scheleer dan Langeveld (Wiramihardja, 2006: 155-157), Scheleer mengontraskan aksiologi dengan praxeology, yaitu suatu teori dasar tentang tindakan tetapi lebih sering dikontraskan dengan deontology, yaitu suatu teori mengenai tindakan baik secara moral. Langeveld berpendapat bahwa aksiologi terdiri atas dua hal utama: etika dan estetika. Etika merupakan bagian filsafat penilaian yang membicarakan perilaku seseorang, sedangkan estetika adalah bagian filsafat tentang nilai dan penilaian yang memandang karya manusia dari sudut indah dan buruk.

Logika Ilmu Pengetahuan

Dengan mempelajari filsafat ilmu, akan diketahui hakekat ilmu pengetahuan dan hakekat pengetahuan, kita tidak akan terbenam dalam suatu ilmu yang spesifik sehingga semakin menyempit dan eksklusif. Dengan mempelajari filsafat ilmu pengetahuan akan membuka perspektif (wawasan) yang luas, sehingga kita dapat menghargai dan berkomunikasi dengan ilmu lainnya. Dengan demikian kita dapat mengembangkan ilmu pengetahuan secara interdisipliner.

Ilmu pengetahuan diperoleh dari pengalaman (empiris) dan akal (ratio). Sehingga timbul paham atau aliran yang disebut empirisme dan rasionalisme. David Hume (1711-1776), John Locke (1632-1704) dan Berkley menyampaikan bahwa rasionalisme menyusun teorinya berdasarkan ratio. Metode yang digunakan aliran emperisme adalah induksi, sedangkan rasionalisme menggunakan metode deduksi. Immanuel Kant merupakan tokoh yang mensintesakan paham empirisme dan rasionalisme.

Logika adalah ilmu pengetahuan dan kecakapan untuk berpikir lurus (tepat). Ilmu pengetahuan mempunyai arti yang luas dan yang sempit. Di dalam bahasa asing dipergunakan istilah-istilah seperti : Science (bahasa Inggris) dan Wissenschaft atau Wetensekap (Jerman). Kata-kata itu ada persamaannya dengan istilah ilmu pengetahuan tetapi tidak selalu sama. Di dalam science seseorang harus bersikap kritis, artinya seseorang harus mampu menemukan kenyataan fakta-fakta dan mampu membedakan antara fakta yang murni dan apa yang telah diberi corak oleh pandangan atau keinginan tertentu, dimana seseorang cenderung untuk memakai pandangan yang obyektif.

Ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan tentang pokok tertentu. Kumpulan ini merupakan suatu kesatuan yang sistematis serta memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Penjelasan ini terjadi dengan menunjukkan sebab-akibatnya. Lapangan ilmu pengetahuan yang dimaksud adalah azas-azas yang menentukan pemikiran yang lurus, tepat dan teratur. Agar dapat berpikir lurus, tepat, dan teratur, logika harus menyelidiki dan merumuskan serta menerapkan hukum-hukum yang tepat. Logika sebagai proses berfikir identik dengan masuk akal dan penalaran. Penalaran adalah salah satu bentuk pemikiran. Pemikiran adalah pengetahuan tidak langsung yang didasarkan pada pernyataan langsung, dimana pemikiran dapat benar dan salah. Definisi logika sangat sederhana, yaitu ilmu yang memberikan prinsip-prinsip yang harus diikuti agar dapat berpikir valid menurut aturan yang berlaku. Faedah logika menimbulkan kesadaran untuk menggunakan prinsip-prinsip dalam berfikir secara sistematis, faedah tersebut yaitu :

  1. Logika menyatakan, menjelaskan dan mempergunakan prinsip-prinsip abstrak yang dapat digunakan dalam semua lapangan ilmu pengetahuan.
  2. Menambah daya berfikir abstrak, yang menimbulkan sikap intelektual.
  3. Mencegah agar tidak tersesat dari segala sesuatu yang kita peroleh berdasarkan authority.

Teori Agenda Setting Dalam 3 Perspektif: Epistemologi, Ontologi, Aksiologi

Teori Agenda Setting pertama kali dikemukakan oleh Walter Lippman pada tahun 1965, dengan konsep “The World Outside and the Picture in our head.” Penelitian teori empiris dilakukan Mc Combs dan Shaw ketika mereka meniliti pemilihan presiden tahun 1972. Mereka mengatakan, walaupun para ilmuwan yang meneliti perilaku manusia belum menemukan kekuatan media seperti yang disinyalir oleh pandangan masyarakat yang konvensional, belakangan ini mereka menemukan cukup bukti bahwa para penyunting dan penyiar memainkan peranan yang penting dalam membentuk realitas sosial, ketika mereka melaksanakan tugas keseharian mereka dalam menonjolkan berita.

Pada teori ini, media tidak menentukan what to think, tetapi what to think about. Teori ini berdiri atas asumsi bahwa media atau pers does not reflect reality, but rether filters and shapes it, much as a caleidoscope filters and shapes it (David H. Heaver, 1981). Dari sekian peristiwa dan kenyataan sosial yang terjadi, media massa memilih dan memilahnya berdasarkan kategori tertentu dan menyampaikan kepada khalayak dan khalayak menerima bahwa peristiwa tersebut adalah penting. Dalam teori ini ada 3 tahapan utama, yaitu: Media agenda, Public agenda dan Policy agenda.

  1. Ontologi

Teori ini mengkaji bagaimana media massa mampu mempengaruhi pikiran-pikiran audiensnya, dimana dari apa yang disajikan oleh media massa, mampu menjadi sebuah agenda publik yang kekuatannya akan mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang akan muncul. Berkaitan dengan apa yang dirasakan seseorang melalui media massa, dimana sajian media massa dengan segala sesuatunya (struktur pesan/pemberitaan, frekuensi, visualisasi, dll) akan mampu mempengaruhi seseorang untuk berpikir isu-isu apa saja yang ada di sekitar mereka, seperti yang mereka pedulikan serta mengkonstruksi maknanya, sehingga para pembuat kebijakan harus menyadari hal ini untuk menentukan kebijakan yang akan dipilih dan diterapkan.

  1. Epistemologi

Teori ini berasal dari kajian di saat seorang Walter Lippman berpikir mengenai pentingnya sebuah ”picture in our head”. Bagaimana media massa menciptakan gambaran-gambaran di dalam pikiran seseorang dan para pembuat kebijakan harus mengetahui gambaran-gambaran ini. Lippman menangkap bahwa publik tidak merespon isu yang aktual di lingkungan mereka, tetapi lebih pada apa yang ada di gambaran benak mereka. Disinilah kemudian media massa mengambil peran dalam mengkomstruksi gambaran melalui outline-outline sajian mereka.

  1. Aksiologi

Dalam bukunya, Littlejohn menjelaskan bahwa Agenda Setting ini berfungsi dalam menetapkan isu yang menonjol dan gambaran-gambaran di dalam pikiran audiensnya. Dalam fungsinya, teori ini dapat bermanfaat untuk memudahkan pengambil kebijakan untuk menetapkan kebijakan yang akan diterapkan. Selain itu, dari teori ini dapat ditegaskan pentingnya peran media massa dalam kehidupan sebuah sistem dalam sebuah negara atau pemerintahan. Teori ini mempunyai nilai yang baik manakala media massa dapat menjalankan fungsinya sebagai sebuha sarana informasi edukasi dengan benar. Sehigga media massa sebagai filter dari segala isu dengan outline yang mereka sajikan dapat mengkonstruksi sebuah gambaran yang benar di dalam publiknya.

Kesimpulan

Dalam konteks filsafat hidup, seseorang selalu mempertimbangkan hal-hal yang penting dan terpenting sebelum menetapkan keputusan untuk berperilaku. Hal-hal yang terpenting tersebut tergolong esensial. Pengertian ontologi ini menjadi sangat beragam dan berubah sesuai dengan berjalannya waktu. Sebuah ontologi memberikan pengertian untuk penjelasan secara eksplisit dari konsep terhadap representasi pengetahuan pada sebuah knowledge base. Ontologi juga dapat diartikan sebagai keberadaan (The theory of being qua being) atau ilmu tentang yang ada. Menurut istilah, ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality yang berbentuk jasmani, kongkret maupun rohani atau abstrak (Bakhtiar, 2004).

            Epistemologi atau filsafat pengetahuan merupakan salah satu cabang filsafat yang mempersoalkan masalah hakikat pengetahuan. Apabila kita berbicara mengenai filsafat pengetahuan, yang dimaksud dalam hal ini adalah ilmu pengetahuan kefilsafatan yang secara khusus hendak memperoleh pengetahuan tentang hakikat pengetahuan.

Aksiologi merupakan sebuah teori dasar tentang tindakan tetapi lebih sering dikontraskan dengan deontology, yaitu suatu teori mengenai tindakan baik secara moral. Langeveld berpendapat bahwa aksiologi terdiri atas dua hal utama: etika dan estetika. Etika merupakan bagian filsafat penilaian yang membicarakan perilaku seseorang, sedangkan estetika adalah bagian filsafat tentang nilai dan penilaian yang memandang karya manusia dari sudut indah dan buruk.

Daftar Pustaka

  1. Adib, Mohammad. 2010. Filsafat Ilmu: Ontologi, Efistemologi, Aksiologi dan Logika Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  2. Suriasumantri, Jujun S. 1996. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.