Film dan Musik pada Media Televisi Sebagai Cerminan Budaya Populer

Oleh : Rudiansyah

Latar Belakang Masalah

Lahirnya modernisasi kehidupan telah banyak merubah cara pandang dan  pola hidup masyarakat, sehingga peradaban yang terlahir adalah terciptanya budaya masyarakat konsumtif dan hedonis dalam lingkungan masyarakat kapitalis. Fenomena ini tidaklah dianggap terlalu aneh, untuk dibicarakan dan bahkan sudah menjadi bagian dari budaya baru hasil dari para importir yaitu para penguasa industri budaya yang sengaja memporak porandakan tatanan budaya yang sudah mapan selama bertahun-tahun menjadi bagian dari jati diri bangsa Indonesia. Tergesernya budaya setempat dari lingkungannya disebabkan oleh Kemunculannya sebuah kebudayaan baru yang konon lebih atarktif, fleksibel dan mudah dipahami sebagian masyarakat, bahkan masyarakat rendah status sosialnyapun dapat dengan mudah menerapkannya dalam aktifitas kehidupan. Sebuah istilah ”Budaya Populer” atau disebut juga dengan ”Budaya Pop”, dimana budaya ini dalam pengaktualisasiannya mendapat dukungan dari penggunaan perangkat berteknologi tinggi, sehingga dalam penyebarannya begitu cepat dan tepat serta mendapat respon sebagian besar kalangan masyarakat. Budaya ini tumbuh subur dan cepat mengalami perkembangan yang cukup signifikan dalam masyarakat perkotaan dan keberadaanya sangat kuat pada kehidupan kaum remaja kota.

Dalam pandangan Leavis dan Mazab Frankfurt dikatakan bahwa budaya pop adalah yang memandang budaya berbasis komoditas sebagai suatu yang tidak autentik, manipulatif dan tidak memuaskan. Argumennya adalah budaya massa kapitalis yang terkomodifikasi tidak autentik karena tidak dihasilkan oleh masyarakat, manipulatif karena tujuan utamanya adalah agar dibeli dan tidak memuaskan karena selain mudah dikonsumsi juga tidak mensyaratkan terlalu banyak kerja dan gagal memperkaya konsumennya (Barker, 2000: 47).

Dalam perspektif industri budaya, “bahwa budaya populer adalah budaya yang lahir atas kehendak media” (Strinati, 2003). Hal ini dianggap bahwa Media telah memproduksi segala macam jenis produk budaya populer yang dipengaruhi oleh budaya impor dan hasilnya telah disebarluaskan melalui jaringan global media hingga masyarakat tanpa sadar telah menyerapnya. Dampak dari hal itu, menyebabkan lahirlah perilaku yang cenderung mengundang sejuta tanya, karena hadirnya budaya populer di tengah masyarakat tidak terlepas dari induknya yaitu media yang telah melahirkan dan membesarkannya.

Penjelasan mengenai budaya populer juga diuraikan oleh John Storey dalam bukunya yang berjudul “Teori Budaya dan Budaya Pop Memetakan Lanskap Konseptual Cultural Studies”. Berbagai definisi mengenai budaya pop juga telah dikompilasikan dari berbagai sudut pandang yang membahas tentang hal tersebut. Budaya dalam cultural studies lebih didefinisikan secara politis dibanding secara estetis. Objek kajian dalam cultural studies bukanlah budaya yang didefinisikan dalam pengertian yang sempit, yaitu sebagai objek keadiluhuran estetis (seni tinggi), juga bukan budaya yang didefinisikan dalam pengertian yang sama-sama sempit, yaitu sebagai sebuah proses perkembangan estetik, intelektual, dan spiritual, melainkan budaya yang dipahami sebagai teks dan paraktek kehidupan sehari-hari. Melihat dalam kerangka konsep Antonio Gramsci (Storey, 1993) tentang hegemoni, Hall mengembangkan teori artikulasi untuk menjelaskan proses pertarungan ideologis (penggunaan istilah “artikulasi” oleh Hall menghadirkan makna ganda: mengekspresikan dan berpartisipasi). Ia berpendapat bahwa teks dan praktik budaya tidak dibubuhkan bersama makna, tidak dijamin secara pasti oleh tujuan-tujuan produksi serta makna senantiasa merupakan akibat dari tindakan “artikulasi“ (sebuah proses praktik produksi (production in use) yang bersifat aktif.

Kehadiran televisi merupakan tanda dari perubahan peradaban dari suatu ujung garis kontinuum budaya ke ujung garis kontinuum yang lain (Abdullah, 2006). Televisi telah banyak mempengaruhi ruang-ruang sosial masyarakat dan tentunya membawa efek yang sangat bervariasi sifatnya dalam kebudayaan. Terlihat bahwa televisi dewasa ini telah menjadi pusat titik intraksi dan pembentukan nilai. Tidak diragukan lagi televisi merupakan aktivitas waktu luang paling populer di dunia. Pada tahapan pertama, para profesional media memaknai wacana televisual dengan suatu laporan khusus mereka tentang, misalnya, sebuah peristiwa sosial yang mentah. Selanjutnya pada momen kedua segera sesudah makna dan pesan berada pada wacana yang bermakna, yakni segera sesudah makna dan pesan itu mengambil bentuk wacana televisual, aturan formal bahasa dan wacana bebas dikendalikan; suatu pesan kini terbuka, misalnya bagi permainan polisemi. Akhirnya pada momen ini, momen decoding yang dilakukan khalayak merupakan serangkaian cara lain dalam melihat dunia (ideologi) bisa dengan bebas dilakukan.

Strukturalisme dan Film Populer

Pada tahun 1970-an, ada pembagian yang jelas dalam cultural studies antar studi ‘teks’ dan studi’budaya yang di ekspresikan dalam kehidupan seseorang (lived cultures). Pada 1975, dua kontribusi penting terhadap strukturalisme dan film dipublikasikan ; Sixguns and Society karya Will Wright dan ‘Visual Pleasue and Narative Cinema’ karya Laura Mulvey. Pertama dilabuhkan pada strukturalisme klasik; kedua merepresentasikan eksplorasi penting pertama terhadap poststrukturalisme dan simena. Strukturalisme, sebagai sebuah moda analisis sosial, mengambil dua ide dasar dari karya Saussure. Pertama, perhatian pada relasi pokok antara teks dan praktik kultural tata bahasa yang memungkinkan makna. Kedua, pandangan bahwa makna senatiasa merupakan hasil dari aksi resiprokal dari hubungan antara seleksi dan kombinasi yang dimungkinkan melalui struktur pokok. Dalam Claude Levi-Strauss (1968) menyatakan bahwa di dalam luasnya heterogenitas mitos bisa ditemukan struktur yang homogen. Ia berpendapat bahwa mitos terstruktur berdasarkan oposisi biner. Maka dihasilkan dengan membagi dunia ke dalam kategori-kategori yang eklusif satu sama lain: budaya, alam, laki-laki, perempuan, hitam, putih, baik, buruk, kita, mereka dan seterusnya. Dari perspektif ini mitos adalah cerita-cerita di mana kita menuturkan diri kita sendiri sebagai budaya guna membuang kontradiksi dan membuat dunia bisa dijelaskan dan karenanya layak dihuni.

Dalam sixguns and Society, Will Wright (1975) menyitir Saussure dan Levi-Strauss menggunakan metodologi strukturalisme untuk menganalisis film Koboi Hollywood sebagai mitos. Khususnya ia mencoba menunjukan berbagai film Koboi ‘menghadirkan konseptualisasi mengenai keyakinan sosial Amerika yang sederhana secara simbolik namun sungguh mendasar. Dalam teori korespondensi yang agak reduktif (yang meruntuhkan banyak kekuatan pendekantan Wright). Ia menyatakan bahwa setiap tipe film Koboi bersesuaian dengan momen yang berbeda dalam perkembangan ekonomi mutahhir AS: ‘alur film Koboi Klasik berhubungan dengan konsepsi masyarakat yang individualistik yang mendasari ekonomi pasa, plot balas dendam merupakan variasi yang mulai merefleksikan perubahan dalam ekonomi pasar, Plot profesional menampakkan konsepsi masyarakat baru yang terkait dengan nial dan sikap yang inheren dalam ekonomi berencana dan korporasi.

Postrukturalisme dan Film Populer

Bagi para poststrukturalisme, makna senantias ada dalam proses berhenti sejenak dalam aliran kemungkinan yang tiada henti. Sementara Sausure mempostulasikan bahasa sebagai terdiri dari hubungan antara penanda, petanda dan tanda, teoretisi postrukturalisme berpendapat bahwa kenyataanya lebih komplek ketimbang ini. Derrida (1973) telah menemukan sebuah kata baru untuk menggambarkan sifat-dasar yang terbagi: differance, yang berarti menangguhkan sekaligus membedakan.

Bagi Saussure, tanda sebagaimana sudah dicatat, dibuat bermakna dengan menjadi berbeda. Derrida menambahinya dengan gagasan bahwa makna juga senantiasa ditangguhkan, tidak pernah hadir secara lengkap, senantiasa tidak ada dan ada. Catatan poststrukturalis Jacques Lacan terhadap perkembangan topik itu telah mempunyai banyak sekali pengaruh baik terhadap culural studies maupun film. Lacan mengambil struktur perkembangan Freud dan mengartikulasikannya kembali melalui pembacaan kritis atas strukturalisme untuk menghasilkan psikoanalisis poststrukturalis.

Menurut Lacan, mengadakan perjalanan melaui tiga tahap perkembangan yang sudah pasti. Tahap pertama adalah fase cermin; yang kedua permainan fort-da dan yang ketiga oedipus complex. Karya Lura Mulvey (1975) sebagian merupakan ikhtisar untuk menyuguhkan psikoanalisis poststrukturalis Lacan kepada kritikus film feminis. Menggunakan Lacan, ia membangun analisis tentang bangaimana sinema populer memproduksi dan mereproduksi apa yang ia sebut tatapan laki-laki. Dimasukan citra perempuan dalam sistem ini yang terdiri atas dua bagian: ia adalah objek dari hasrat laki-laki dan ia adalah penanda dari ancaman terhadap pengebiran. Persoalan khusus bagi cultural studies adalah catatan Mulvey mengenai khalayak sebagai murni bersifat tekstual – sebuah produksi teks yang pasif dan homogen. Dalam teori Mulvey, tidak ada ruang bagi pelaku sosial dan historis yang tiba digedung bioskop dengan membawa serangkaian wacana yang bersaing dan kontradiktif serta berhadapan dan bernegosiasi dengan wacana film.

Cultural Studies dan Film Populer

Chirstine Gledhill mencatat adanya pembaharuan mutahir minat feminis dalam budaya pop main stream (1988: 241). Gledhill menganjurkan sebuah pemahaman mengenai hubunan antara penonton dan teks film sebagai salah satu negosiasi. Gledhill menegaskan bahwa negosiasi bisa dianalisis pada tiga level berbeda: Khalayak, teks dan institusi. Sebagaimana ia tegaskan, situasi menonton atau membaca mempengaruhi makna dan kesenangan akan sebuah karya dengan mengajukan serangkaian determinasi ke dalam pertukaran kultural, yang secara potensial resisten atau konradiktif, yang muncul dari perbedaan kondisi kultural dan sosial pembaca atau penonton menurut kelas, gender, ras, usia, sejarah, pribadi, dan seterusnya.

Jackie Stacey (1994), mengembangkan pendekatan tersebut, ia mencoba melampaui determinisme tekstual yang menempatkan penonton perempuan sebagai konsumen pasif atas tatapan laki-laki. Ia menolak universalisme dari kebanyakan karya psikoanalitis prihal kepenonton perempuan. Pendekatan Stacey merepresentasikan sebuah bantahan yang sangat bagus terhadap klaim-klaim universalitis dan kebanyakan sine-pisikoanalisis. Dengan analisis yang bergerak, sebagaimana ia lakukan dari teks film menuju khalyak perempuan, kekuasaan patriarkal Hollywood mulai terlihat kurang monolitik, alias banyak celah. Dengan mempelajari khalayak perempuan, penontonan perempuan mungkin bisa dilihat sebagai sebuah proses menegosiasikan makna-makna dominan sinema Hollywood dan bukannya salah satu dari yang diposisikan secara pasif olehnya. Storey selalu menggunakan pendapat dari berbagai ahli untuk memperkuat agrumennya yang tentunya menampakan keahliannya dalam berteorisasi.

Kaum Muda dan Musik Populer

Kajian Cultural Studies berkenaan dengan budaya musik-pop lebih tepat di mulai dengan karya Stuart Hall dan Paddy Whannel (1964). Sebagaimana ia menegaskan, potret anak muda sebagai orang lugu yang diekspoitasi olah industri musik-pop terlalu disederhanakan. Mereka berpendapat bahwa terdapat konflik yang sangat sering antara pengguna teks atau praktik yang dipahami oleh khalayak dan penggunaan yang dimaksudkan oleh para produser. Musik pop mempertontonkan realisme emosional; lelaki dan perempuan muda mengidentifikasi diri mereka sendiri dengan representasi koletif dan menggunakannya sebagai fiksi-fiksi penuntun. Fiksi simbolik tersebut adalah cerita rakyat yang dengan cara itu anak usia belasan, sebagian membentuk dan menyusun pandangan dunianya. Hall dan Whannel juga ngidentifikasi suatu cara yang dengan itu para anak usia belasan tahun menggunakan cara berbicara tertentu, ditempat nongrong tertentu, cara menari tertentu, dan cara berbusana tertentu, untuk memperlihatkan jarak dengan dunia orang dewasa.

Politik dan Musik Populer

Politik memasuki momen yang berbeda dalam penciptaan musik pop; distribusi, performa konsumsi dan lain sebagainya. Politik itu sendiri berkenaan dengan kekuasan dan musik pop dapat mempunyai kekuatan besar. Para politisi menceburkan diri mereka dalam musik pop dengan cara lain, misalnya tuntutan terhadap sensor. Musik pop bisa bersifat politis jika pada musisi mangatakan demikian. Industri musik punya definisi musik pop politiknya sendiri: pop politik sebagai kategori penjualan. Definisi lain mengenai musik pop politik adalah musik pop yang diorganisasi secara politik.

Pada tahun 1979, Eric Clipton menyuarakan dukungannya terhadap versi rasisme Enoch Pewell. Kemarahan yang tertuang dalam musik pop dengan segera mengeras menjadi organisasi payung antirasis, Rock Racism (RAR). Mereka menyebut musik pop bersifat politik, serta membawanya memainkan keragaman makna. Musik pop dapat bersifat politis secara simultan dengan banyak cara yang berbeda. Sebagaimana diuraikan John Sreet (1986), politik musik merupakan kombinasi dari kebijakan negara, praktek bisnis, pilihan artistik, dan respons khalayak. Masing-masing elemen ini menempatkan batasan-batasan dan menawarkan berbagai kemungkinan bagi politik musik pop. Storey menegaskan bahwa dalam hal ini penting untuk memusatkan perhatian pada persoalan tentang semakin tumbuh suburnya budaya konsumen dan tidak sekedar memandang konsumsi sebagai sesuatu yang berasal dari suatu produksi tanpa mengkibatkan adanya problematik.

Ekonomi Politik Musik Populer

Adorno mempublikasikan sebuah esai yang sangat berpengaruh On Popular Music (Storey, 1994). Dalam esai itu ia membuat tiga pernyataan spesifik perihal musik pop. Pertama ia menyatakan bahwa musik pop itu distandarisasikan, Standarisasi sebagaimana ditunjukan Adorno, meluas dari mulai segi-segi yang paling umum hingga segi-segi yang paling spesifik. Pernyataan kedua Adorno adalah bahwa musik pop mendorong pendengaran pasif. Konsumsi musik pop itu senantiasa pasif dan repetitif, yang menegaskan dunia sebagaimana adanya. Poin Adorno yang ketiga adalah klaim bahwa musik pop beroperasi seperti semen sosial. Fungsi sosial- psikologisnya adalah meraih penyesuaian fisik dengan mekanisme kehidupan saat ini dalam diri konsumen musik pop. Ekonomi politik budaya kebanyakan punya cara yang sama dengan pendekatan Adorno. Ekonomi politik jarang menganjurkan pertimbangan mengenai apa yang sebenarnya dimaksud dalam penggunaan aktual (konsumsi) oleh teks dan praktik ini.

Populer Visual

Karya yang paling berpengaruh prihal budaya populer visual dalam studi budaya adalah karya Roland Barthes. Tujuan Barthes adalah mengekplisitkan apa yang sering kali tetap implisit dalam berbagai teks dan praktik budaya pop. Prinsip utamanya adalah menginterogasi suatu yang jelas keliru. Lebih lanjut dalam budaya pop Barthes menaruh perhatian pada proses pemaknaan, yaitu suatu cara dengan itu makna-makna dihasilkan dan disirkulasikan. Barthes berpendapat bahwa konteks memuat citra membebaninya dengan budaya dengan budaya, moral, imjinasi. Citra tidak melukiskan teks; teks-lah yang memperkuat posisi konotatif citra. Tanpa penambahan teks linguistik, makna citra sangat sulit ditekankan. Pesan linguistik bekerja dalam dua cara. Ia membantu pembaca untuk mengidentifikasi makna denotatif citra. Kedua, ia membatasi laju perkembangan konotasi citra. Sebuah citra mengambil dari repertoir budaya sekaligus pada saat yang sama menambahinya. Repertoir budaya tidak membentuk blok yang homogen. Mitos dihadapkan secara terus-menerus pada mitos-tandingan. Cultural studies juga mempersoalkan musik sebagai budaya pop.

Kesimpulan

Bangkitnya bentuk-bentuk komunikasi massa maupun pengembangan budaya media populer yang disosialisasikan dapat menjadi hal penting dalam kerangka penjelasan teori posmodern. Dapat disimpulkan bahwa media massa telah menjadi hal utama bagi arus komunikasi dan informasi di dalam maupun di antara masyarakat-masyarakat modern bahwa mereka bersama-sama dengan konsumerisme.

Media dalam menjalankan fungsinya, selain sebagai penyebar informasi dan hiburan, juga sebagai institusi pencipta dan pengendali pasar produk komoditas dalam suatu lingkungan masyarakat. Dalam operasionalisasinya, media selalu menanamkan ideologinya pada setiap produk hingga objek sasaran terprovokasi dengan propaganda yang tersembunyi di balik tayangan. Akibatnya, jenis produk dan dalam situasi apapun yang diproduksi dan disebarluaskan oleh suatu media akan diserap oleh publik sebagai suatu produk kebudayaan dan hal ini berimplikasi pada proses terjadinya interaksi antara media dan masyarakat. Kejadian ini berlangsung secara terus menerus hingga melahirkan suatu kebudayaan berikutnya. Kebudayaan populer akan terus melahirkan dan menampilkan sesuatu bentuk budaya baru, selama peradaban manusia terus bertransformasi dengan lingkungannya mengikuti putaran jaman. Dampak siaran televisi yang dilansir secara gencar dengan model Budaya Populer lewat keragaman tayangannya, akan membentuk pradigma dan gaya hidup masyarakat dengan perilaku yang mengusung kecenderungan berjiwa materialis dan hedonis dalam lingkungan masyarakat kapitalis.

Daftar Pustaka

Barker, Chris. 2000. Cultural Studise Teori dan Praktek. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Louw, Eric. 2001. The Media and Cultural Production. London: Sage Publication.

Lull, James. 1998. Media, Komunikasi, Kebudayaan: Suatu Pendekatan Global. Jakarta: Obor Indonesi.

Strinati, Dominic. 1995. An Introduction to Theories of Populer Culture. London: Routledge.

Storey, John. 2003. Teori Budaya dan Budaya Populer Memetakan Lanskap Konseptual Cultural Studies. Yogyakarta: Penerbit Qalam.

Advertisements

PENERAPAN SENI TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PADA BANGUNAN RUMAH TJONG A FIE

Oleh : Rudiansyah

Latar Belakang Masalah

Negara Tiongkok merupakan salah satu peradaban tertua didunia. Perkembangan seni, teknologi dan industri serta arsitektur Tiongkok sudah ditemukan pada jaman batu baru (Neolitikum), yaitu sekitar 2000 tahun SM. Menurut berita Tiongkok, diketahui bahwa kerajaan Sriwijaya telah mengirimkan utusannya ke negeri Tiongkok sejak abad ke-5 M sampai pertengan abad ke-6 M (Marwati dan Nugroho, 1993). Seiring dengan merantaunya orang-orang Tiongkok ke Indonesia maka masuk pula kebudayaan mereka, seperti bahasa, religi, kesenian, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup, teknologi, serta sistem mata pencaharian hidup. Sejalan dengan hal itu, berbagai gagasan dan artefak budaya Tiongkok juga di terapkan oleh komunitas ini di Indonesia, termasuk pola tata letak serta bangunan bergaya Tiongkok, seperti vihara, masjid, klenteng, bahkan rumah-rumah tempat tinggal mereka.

Dalam pergulatan ilmu budaya, terjadi berbagai macam ragam pendapat dalam menentukan awal mula keberadaan Pecinan (tang ren jie)[1] di Indonesia. Berbagai bukti dan catatan sejarah membuktikan keberadaan komunitas warga Tiongkok pada masa prakolonial. Kedatangan orang Tiongkok ke Asia Tenggara disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain karena bencana kelaparan, situasi politik dan karena adanya peluang untuk membuka usaha. Faktor-faktor tersebut saling memperkuat satu sama lain yang kemudian mendorong sebagian orang Tiongkok untuk meninggalkan negara asalnya.

Untuk bisa melihat arsitektur Tiongkok di suatu wilayah, biasanya harus melihat di daerah Pecinannya. Untuk menentukan tempat bekas daerah pecinan pada suatu wilayah tidaklah mudah, hal ini selain karena perkembangan kota yang sangat cepat, juga karena biasanya daerah pecinan tidak terdokumentasi dengan baik. Daerah pecinan beserta peraturannya sudah dihapus sejak tahun 1900-an, meskipun penghapusan peraturan secara resmi baru dilakukan pada tahun 1920 (Handinoto, 1990). Berbicara tentang pecinan, Sumatera Utara khususnya Kota Medan juga menyimpan banyak peninggalan yang tidak terlepas dari aspek historisnya yang merujuk pada kawasan situs kota Tiongkok (China town) yakni Kesawan Medan, yang ramai dikunjungi pada permulaan abad ke-12 hingga awal abad ke-14. Berdasarkan bukti-bukti arkeologisnya (archeological evidence), diketahui cenderung merujuk pada era kedinastian Sung, Yuan dan Ming di Tiongkok. Demikian pula temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa komunitas pedagang yang berasal dari mancanegara seperti Tiongkok, Johor, Burma, Thailand pernah singgah di Sumatra Utara (Endraswara, 2008). Situs kawasan Pecinan di daerah Kesawan diyakini sebagai cikal bakal terbentuknya kota Medan sekarang yang berasal dari permulaan abad ke-12. Hal ini ditunjukkan oleh banyaknya peninggalan atau bukti arkeologis (archeological evidence) yang tertuju pada satu era yakni sejak abad ke-12 hingga awal abad ke-14, seperti eartenware fragmen (tembikar), porcelain fragmen (keramik), coin (mata uang), glass fragmen (gelas), brickstone fragmen (batu bata berfragmen candi), archa (statue), tulang belulang serta sisa-sisa perahu tua (ships ruins), semua ini bukti telah berkembangnya seni, teknologi dan industri pada masa itu.    

Dalam proses perkembangan seni, teknologi dan industri sangat berkombinasi dengan desain artistik yang sudah cukup fenomenal serta menimbulkan keunikan pada seni arsitektur Tiongkok. Selain itu, arsitektur Tiongkok juga memiliki banyak keunikan filosofi dalam ilmu arsitekturnya seperti Feng Shui dengan filosofinya yang sudah amat mendunia, yaitu Yin dan Yang. Sebagai metode analisis, khususnya dalam hal menganalisa bangunan rumah Tjong A Fie dari sudut pandang seni, teknologi dan industri, tipologi dan makna simbolis sering berkaitan dengan morfologi yaitu ilmu yang mempelajari perubahan bentuk. Sebagai sebuah metode, tipologi dan makna simbolis berguna sebagai alat untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk objek arsitektural sampai didapatkan sebuah akar bentukan. Akar bentukan pada hal ini di maksudkan menyangkut struktur bangunan (formal structures) dan sifat-sifat dasar atau properties (Gin Djin Su, 1964). Tipologi dan simbolis pada rumah Tjong A Fie di daerah Kesawan kota Medan merupakan hasil perpaduan seni, teknologi dan industri serta arsitektur Tiongkok yang berpadu dengan arsitektur Melayu dan Eropa. Perpaduan arsitektur tersebut terlihat dalam tipologi bangunan berupa rumah deret, rumah toko maupun rumah tinggal dimana bentuk atapnya memiliki arsitektur Tiongkok tetapi pada detail-detail fasade terdapat keberagaman arsitektur yang mempengaruhinya, misalnya beberapa bangunan yang terdapat di Gang Tengah dan Gang Besen fasadenya mendapat pengaruh dari arsitektur Melayu yang banyak kita jumpai di kota Medan, serta pernak-pernik lampu hias yang terdapat pada lagit-langit serta ruang tengah rumah Tjong A Fie yang menciri khaskan bangunan bergaya eropa.

Biografi Tjong A Fie

Tjong A Fie lahir pada tahun 1860 di desa Sungkow daerah Moyan, Tiongkok dan berasal dari keluarga sederhana. Karena ingin lebih sukses dan menjadi orang terpandang, maka di usia 18 tahun Tjong A Fie memutuskan untuk mengadu nasib pergi berlayar ke Hindia-Belanda. Waktu itu, bekal yang dibawanya hanyalah sepuluh perak dolar uang Manchu. Setelah berbulan-bulan berlayar, pada tahun 1880 Tjong A Fie pun tiba di Labuhan Deli atau di kenal dengan pelabuhan Belawan. Tjong A Fie lalu bekerja untuk Belanda dan ia diangkat menjadi Letnan (Lieutenant) Tionghoa. Karena pekerjaannya inilah, Tjong A Fie lalu dipindahkan ke tanah Deli tepatnya kota Medan sekarang. Prestasinya yang gemilang membuat pangkat Tjong A Fie naik menjadi kapten (Capitein) pada tahun 1911.

Di tanah perantauannya, Tjong A Fie dikenal sebagai sosok yang tangguh, ulet, jujur, dan dermawan. Tjong A Fie bukan hanya dikenal di kalangan masyarakat Tionghoa, namun juga di kalangan masyarakat India, Melayu, Arab, dan para pemuka Belanda. Tjong A Fie juga memiliki hubungan yang baik dengan Kesultanan Deli, yaitu Sultan Makmoen Al Rasjid Perkasa Alamsyah dan Tuanku Raja Moeda. Tjong A Fie pun menjadi orang kepercayaan Sultan Deli dan mulai menangani berbagai urusan bisnis. Reputasinya terkenal di seluruh tanah Deli. Belanda pun memberikan posisi kepada Tjong A Fie sebagai anggota dewan kota, dewan kebudayaan, dan penasehat khusus untuk Tionghoa. Di tanah Deli Tjong A Fie juga berhasil membangun usaha perkebunan kelapa sawit, pabrik gula, dan perusahaan kereta api yang mempekerjakan ribuan karyawan. Selama hidupnya Tjong A Fie memiliki 3 istri dan 10 anak. Tjong A Fie meninggal pada 4 Februari 1921 dan dimakamkan di daerah Medan Labuhan.

Tjong A Fie dan sejarah kota Medan merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan. Tjong A Fie menjadi terkenal bukan hanya karena kekayaannya, namun juga karena beliau adalah seorang pekerja keras yang patut diteladani. Bukan hanya itu, Tjong A Fie juga merupakan seorang yang dermawan, terbukti bahwa ia mewariskan kekayaannya untuk Yayasan Toen Moek Tong yang didirikannya pada masa itu. Yayasan ini bertujuan memberikan bantuan kepada kaum muda yang berbakat dan berkelakuan baik untuk menyelesaikan pendidikannya, tanpa melihat kebangsaan. Yayasan ini juga membantu mereka yang tidak mampu bekerja dan juga korban bencana alam. Rumah Tjong A Fie Juga memiliki fungsi sebagai kantor administrasi masyarakat Tionghoa di kota Medan, Tjong A Fie Mansion dan Tjong A Fie Foundation serta terdapat beberapa fasilitas sosial yang dikelola oleh perkumpulan yayasan sosial-budaya untuk memberi pelayanan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Rumah Tjong A Fie

Rumah Tjong A Fie adalah sebuah warisan rumah tinggal yang terletak di Jl. Jend. Ahmad Yani No. 105 Kesawan Medan. Nama rumah tinggal ini berasal dari nama pemiliknya, yaitu Tjong A Fie (1860-1921). Ia merupakan seorang pemuda biasa yang datang dari negeri Tiongkok dan berhasil membangun bisnis perkebunan besar seperti pabrik kelapa sawit, pabrik gula dan juga perusahaan kereta api di sekitar kota Medan. Tjong A Fie di kenal sebagai orang yang dermawan dan berbaur kepada masyarakat Kesultanan Deli dan Kolonial Belanda. Pada tahun 1911, ia diangkat menjadi Kapitan Tiongkok atau Mayor der Chinezeen (istilah Belanda), yang berarti wakil tertinggi masyarakat Tiongkok di Kota Medan.

Di Penang-Malaysia, ada Cheong Fatt Tze Mansion yang terlihat persis sama dengan rumah tinggal Tjong A Fie, Cheong Fatt Tze adalah paman dari Tjong A Fie. Kedua nya bekerja sama dalam banyak bisnis. Rumah Cheong Fatt Tze di Penang-Malaysia sekarang telah digunakan menjadi sebuah hotel bersejarah.

Rumah Tjong A Fie dibangun pada tahun 1895 dan selesai pada tahun 1900. Memiliki ukiran kayu yang cantik dan fitur dengan dua singa batu duduk di pintu masuk. Rumah Tjong A Fie merupakan campuran sebuah bangunan bergaya Tiongkok, Melayu dan Eropa. Pengaruh arsitektur Melayu dapat dilihat dalam deretan jendela, pintu, dinding dan cat dengan warna kuning dan hijau. Pengaruh Tiongkok dapat dilihat dalam ornamen ukiran singa dan naga yang merupakan ciri khas dari negara Tiongkok. Selain itu bangunan rumah Tjong A Fie juga disandingkan dengan desain oriental Eropa dan Art Nouveau termasuk kolom beton dengan modal hias, dan chandelier  yang tergantung di langit-langit.

Tjong A Fie Mansion memiliki empat ruang tamu, ruang tamu pertama adalah Dutch Lounge Room, tempat menerima tamu dari golongan orang-orang Eropa. Ruang tamu kedua adalah Deli Lounge Room, tempat Tjong A Fie menerima teman baiknya, Sultan Deli Makmun Al Rasjid. Ruang tamu ketiga untuk menerima masyarakat Tiongkok. Sedangkan ruang tamu keempat yaitu ruang tamu utama, tempat untuk menerima masyarakat umum. Di lantai atas Tjong A Fie Mansion terdapat Ballroom untuk ruang pesta dan dansa. Juga ada dua buah Altar Sembahyang, satu di lantai bawah dan satu lagi di lantai atas.

Sementara itu di bagian belakang Tjong A Fie Mansion terdapat dapur, ruang makan keluarga, ruang keluarga, dan kamar utama, yaitu tempat Tuan dan Nyonya Tjong A Fie beristirahat. Kamar Utama Tjong A Fie juga digunakan sebagai tempat kerjanya. Di sini kita dapat melihat buku-buku bacaan Tjong A Fie, dokumen kerjanya, dan juga baju yang digunakan Tjong A Fie dan istrinya. Selain kemegahan dari bangunan rumah Tjong A Fie, hal lain yang akan membuat pengunjung lebih terkagum-kagum adalah bahwa sebagian besar perabotan di mansion ini masih asli. Lantai keramik di Ballroom diimpor asli dari Italia dan kandelarnya dari Austria. Juga ada sebuah lampu gantung yang pada masa itu hanya terdapat dua di dunia, yaitu di Tjong A Fie Mansion dan satu lagi di sebuah istana di Beijing.

Tipologi dan Makna Simbolis pada Rumah Tjong A Fie

Menurut Anthony Vidler, Tipologi bangunan adalah sebuah studi atau penyelidikan tentang penggabungan elemen-elemen yang memungkinkan untuk mencapai dan mendapatkan klasifikasi organisme arsitektur melalui tipe-tipe. Klasifikasi mengindikasikan suatu perbuatan meringkas, yaitu mengatur penanaman yang berbeda, yang masing-masing dapat di identifikasikan dalam kelas umum dan memungkinkan membuat perbandingan-perbandingan pada sebuah kasus khusus. Klasifikasi tidak memperhatikan suatu tema pada saat tertentu, melainkan berurusan dengan contoh konkrit dari suatu tema tunggal dalam suatu periode atau masa yang terikat oleh kepermanenan dari karakteristik yang tetap dan konstan, misalnya rumah bergaya Tiongkok. Instrumen pemberi tanda dari gejala atau fenomena dapat membandingkan istilah-istilah yang berbeda dalam hubungannya dengan bentuk-bentuk kota.

Pengertian makna (sense) dibedakan dari arti (meaning). Makna adalah arti atau maksud dari perkataan. Makna adalah sebagai pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu tanda atau simbolis (Saussure, 1994). Simbolis berasal dari kata symballo yang berasal dari bahasa Yunani. Symballo artinya melempar bersama atau meletakkan bersama-sama dalam satu ide atau konsep objek yang terlihat, sehingga objek tersebut mewakili gagasan (Helena, 1998). Simbolis dapat menghantarkan seseorang ke dalam gagasan atau konsep masa depan maupun masa lalu. Simbolis adalah gambar, bentuk, atau benda yang mewakili suatu gagasan, benda, ataupun jumlah sesuatu. Simbolis adalah tanda untuk menunjukkan hubungan dengan acuan dalam sebuah hasil konvensi atau kesepakatan bersama.

Simbolis bangunan bergaya Tiongkok merupakan sebuah karya yang berasal dari budaya Tiongkok purba dan dikembangkan sejak 4700 tahun yang lalu (Dian, 2005). Karya ini terus berkembang ke dalam aplikasi arsitektur modern seiring perkembangan budaya Tiongkok di Indonesia. Purwanto menjelaskan makna simbolis dari sisi arsitektural dapat diterapkan secara holistik dalam pemukiman masyarakat Tiongkok di Indonesia. Guna makna simbolis pada sebuah bangunan bergaya Tiongkok adalah untuk menyerasikan alam dengan manusia. Ditinjau dari perspektif arsitektur (Attoe, 1979), menjelaskan bahwa sebenarnya arsitektur merupakan identifikasi variabel yang meliputi ruang, tipologi, simbolis dan struktur yang dapat menjelaskan sebuah bangunan. Makna simbolis pada sebuah bangunan juga berperan sebagai metode pemecahan masalah yang dapat diselesaikan melalui analisis untuk menjawab kebutuhan lingkungannya.

Dasar tipologi dan simbolis sebuah bangunan awalnya dilandasi oleh gagasan kuno bahwa manusia harus hidup selaras dengan kosmos dan menyejajarkan aturan-aturan yang menentukan terjaganya harmoni kosmos, khususnya dalam penggunaan tipologi dan simbolis pada bangunan bergaya Tiongkok yang terlihat jelas pada rumah Tjong A Fie. Benda-benda yang menjadi simbolis pada Rumah Tjong A Fie adalah sebagai berikut:

Patung Naga

Hewan adalah salah satu benda yang sering dijadikan simbolis di dalam kehidupan, begitu juga pada masyarakat Tiongkok menggunakan hewan sebagai simbolis dalam berbagai aspek kehidupannya. Dalam kebudayaan Tiongkok kuno, naga dianggap sebagai binatang yang paling agung serta merupakan sebuah lambang keberuntungan. Bahkan masyarakat Tiongkok menyebut diri mereka sebagai keturunan naga. Menurut nenek moyang bangsa Tiongkok (huang di), daga merupakan simbolis kekaisaran yang berwibawa dan dipercaya dapat mengantarkan ke surga.

Pada bangunan Rumah Tjong A Fie, seni teknologi dan industri pada simbol naga tidak terlepas dari ciri khas budaya Tiongkok. Mereka mempercayai naga sebagai salah satu simbolis dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terbukti dari adanya patung naga di dalam maupun luar pada bangunan Rumah Tjong A Fie. Menurut mereka makna naga tersebut berbeda-beda, tetapi mereka tetap percaya bahwa naga merupakan simbol yang sakral dalam kehidupan mereka.

Patung Singa

Singa merupakan binatang yang memiliki arti penting bagi bangsa Tiongkok. Pada bangunan Rumah Tjong A Fie, seni teknologi dan industri pada patung singa yang terdapat pada pintu gerbang tidak terlepas dari ciri khas budaya Tiongkok Sang jantan berada di sebelah kiri dengan cakar kanannya berada di bola, dan sang betina di sebelah kanan dengan cakar kirinya membelai anak singa. Singa dianggap sebagai raja dari para binatang, yang juga melambangkan kekuatan dan berpengaruh. Bola yang berada pada patung singa jantan melambangkan kesatuan seluruh negeri dan anak singa pada patung singa betina merupakan sumber kebahagiaan. Patung singa juga digunakan untuk menunjukkan peringkat atau kedudukan seorang pejabat dengan melihat jumlah gundukan yang diperlihatkan oleh rambut keriting pada kepala singa. Rumah dari pejabat tingkat satu memiliki 13 gundukan dan jumlah itu menurun satu gundukan setiap turun satu peringkat. Pejabat dibawah tingkat tujuh tidak diperbolehkan memiliki patung singa di depan rumah mereka.

Tiang Penyangga

Pada bangunan rumah Tjong A Fie terdapat empat buah tiang penyangga berdiameter lingkaran 2,10 meter dan tingginya 3,40 meter, yang menurut filosofi Tiongkok merupakan simbol dari air, api, tanah, dan angin. Secara visual keempat tiang ini adalah sama saja dan simetris bentuknya. Namun yang perlu diketahui adalah, bahwa keempat buah tiang penyangga tersebut merupakan simbolis dari unsur-unsur alam. Baik dalam ajaran Konfusianisme, Taoisme maupun Buddhisme keempat unsur alam tersebut adalah saling melengkapi dan membentuk harmonisasi dari alam. Salah satu bagian mendasar dalam filosofi Tiongkok adalah hubungan diantara empat unsur dasar yang terdiri dari air, api, tanah dan udara yang di terapkan pada empat buah tiang penyangga pada bangunan rumah Tjong A Fie. Dalam kepercayaan Tiongkok, unsur-unsur tersebut merupakan simbol dari kekuatan-kekuatan yang muncul dari segenap penjuru alam semesta.

Keunikan empat tiang pada rumah Tjong A Fie ini masih berdiri kokoh sampai sekarang. Bentuk simbolis lain pada bangunan Rumah Tjong A Fie juga terlihat pada pintu masuk depan atau gapura,warna bangunan, jendela, pintu masukutama dan juga atap melengkung yang terdapat pada bangunan tersebut.

Akulturasi Budaya Tiongkok-Melayu

Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Perpaduan budaya ini dapat dilihat dari bangunan rumah Tjong A Fie, seperti warna kuning menyala yang menjadi warna dominan dan bentuk jendela yang khas melayu. Unsur kebudayaan Tionghoa tampak pada ukiran naga pada dinding, pintu masuk dan rancangan atau bentuk atap yang merupakan ciri khas bangunan rumah tinggal di daratan Tiongkok.

Akulturasi kebudayaan merupakan perpaduaan antara dua kebuyaan atau lebih akibat interaksi yang terjadi antara sekelompok masyarakat yang memiliki kebudayaan tertentu, dengan kelompok masyarakat lain yang memililiki kebudayaan berbeda, dari sanalah terjadi perubahan pola kebudayaan yang original. Namun tidak menyebabkan hilangnya unsur kedua kebudayaan tersebut.

Penyebab akulturasi dapat beraneka ragam, antara lain yaitu :

  1. Bertambah dan berkurangnya jumlah penduduk pada suatu negara.
  2. Adanya revolusi yang terlalu cepat.
  3. Masalah yang timbul antar masyarakat.
  4. Adanya perubahan alam atau siklus.
  5. Adanya peperangan.
  6. Adanya pengaruh dari kebudayaan asing.

Bangunan hunian manusia (dwelling) adalah perwujudan dari budaya material yang dimaknai oleh manusia penggunanya. Berangkat dari kebutuhan atau fungsi, elemen-elemen yang terwujud pada bangunan memiliki makna sebagai cerminan keadaan penghuninya, misalnya bangunan rumah Tjong A Fie yang merupakan salah satu bentuk perwujudan kebutuhan terhadap para imigran Tiongkok yang datang ke daerah-daerah di Pulau Sumatera.Di antara akulturasibudaya yang terdapat pada rumah Tjong A Fie tersebut yang paling kental adalah budaya Tionghoa, kemungkinan besar karena pemiliknya adalah orang Tiongkok asli, kemudian karena bangunan ini terletak di kota Medan yang mayoritas penduduknya masih kental dengan budaya Melayu pada masa itu maka dipadukanlah budaya Melayu ke dalam bangunan ini yang terlihat jelas dalam bentuk warnah khas melayu serta ukiran lebah gantung yang juga terdapat pada Istana Maimoon.

Pengaruh Arsitektur Pada Rumah Tjong A Fie

Adapun pengaruh arsitektur yang terdapat pada rumah Tjong A Fie adalah sebagai berikut:

Arsitektur Tiongkok

Tipologi pada bangunan Rumah Tjong A Fie masih banyak menunjukkan kesamaan dengan bangunan rumah tinggal yang ada di Tiongkok yaitu berarsitektur tradisional Tiongkok. Ciri paling dominan pada rumah tinggal Tiongkok yaitu atap pelananya yang bergelung di puncaknya. Ciri lainnya juga terlihat dari dua patung singa yang terdapat pada pintu gerbang masuk, ukiran naga pada tiang serta bukaan yang ada, misalnya pintu dan jendela yang terbuat dari kayu dan dihiasi dengan ornament paku besi. Adanya warna yang dominan seperti warna merah dan warna emas juga merupakan ciri khas arsitektur tradisional Tiongkok.

Arsitektur Melayu

Pada bangunan rumah tinggal Tjong A Fie juga banyak dijumpai hal-hal yang mencerminkan adanya kreativitas akulturasi budaya Tiongkok dan budaya Melayu, misalnya rumah Tjong A Fie memiliki ukiran lebah bergantung serta fasadenya mendapat pengaruh lokal terwujud dalam warna kuning yang merupakan warna khas melayu, bentuk jendela serta ornamen khas melayu lainnya.

Arsitektur Eropa

Arsitektur Tiongkok-Eropa juga terlihat pada bangunan rumah tinggal Tjong A Fie dimana biasanya terdapat satu pintu Belanda (daunnya terbagi dua) yang masing-masing dapat dibagi sendiri-sendiri. Di sebelahnya terdapat jendela lebar, terbagi dua secara horizontal dan masing-masing dibuka dengan menolaknya ke atas dan ke bawah, selain itu juga terdapat beberapa lampu hias khas eropa yang turut menghiasi lagit-langit serta ruang tengah pada rumah Tjong A Fie.

Gubahan Massa

Konsep gubahan massa pada bangunan tradisional Tiongkok adalah :

  • Moduler yaitu pertumbuhan bangunan mengikuti pola yang sudah ada, baik dari segi penataan ruang maupun luasannya.
  • Simetri yaitu keteraturan pertumbuhan massa tersebut mengakibatkan susunan bangunan simetri.
  • Halaman tengah dapat digunakan untuk interaksi sosial didalam keluarga.
  • Tembok keliling merupakan simbol dari pada tertutupnya kelompok satu dengan kelompok lain ataupun lingkungan luar.
  • Orientasi ke dalam dapat memperkuat sifat tertutup terhadap lingkungan luar.

Perubahan dan perkembangan konsep-konsep gubahan massa bangunan dewasa ini sangat jauh berbeda dengan pola tradisional. Konsep-konsep tersebut antara lain :

  • Bebas yaitu pertumbuhan massa bangunan tidak harus mengikuti modul.
  • Terbuka dimaksudkan dapat menerima lingkungan luar, yang masih terlihat adalah dinding-dinding menjulang tinggi menutup tapak tempat tinggalnya.
  • Blok merupakan kecenderungan untuk hidup berkelompok bila berada di negara lain.
  • Gubahan massa bangunan tidak moduler, tetapi berbentuk blok dalam satu kawasan, disebut juga dengan Chinatown.

Bentuk Atap (wuding)

Prinsip bentuk atap bangunan tradisional Tiongkok adalah: a) Melambangkan fungsi dan tingkatan bangunan. b) Penyaluran beban di tengan dan di tepi. c) Merupakan ungkapan dari bentuk gunung. Konsep bentuk atap tradisional Tiongkok yaitu simetri dan bentuk segi tiga.

Bagian atap pada bangunan rumah tinggal khas Tiongkok merupakan pokok bangunan yang biasanya memiliki banyak ornamen. Pada dasarnya terdapat empat tipe atap tradisional (Gin, Djih Su, 1964) yaitu:

  1. Wu Tien yaitu jenis atap bangunan miring yang dipakai pada istana atau balai-balai penting dengan susunan atap single ataupun double.
  2. Xuan Shan yaitu tembok samping bangunan berbentuk segitiga dengan atap miring.
  3. Hsieh Shan yaitu gabungan atap pelana dengan atap bubungan miring/perisai yang lebih rendah.
  4. Ngan Shan yaitu jenis atap yang ditopang oleh dinding pada tepinya.

Gunungan pada umumnya dibuat lebih tinggi, melebihi lengkungan atap, dan memiliki ornamen yang penuh baik berupa lukisan ataupun ukiran serta biasanya bertingkat, sehingga disebut sebagai matou qiang atau dinding kepala kuda. Ornamen gunungan yang paling sering ditemui adalah motif geometris atau bunga. Pewarnaannya juga memiliki arti simbolis seperti merah yang melambangkan kebahagiaan. Tepi-tepi bubungannya kaya dengan dekorasi dan diatasnya dibentuk dengan lukisan timbul yang keras berwujud figur-figur yang mewakili dewa. Tepi bubungannya biasanya dihiasi wenshou yang biasanya diangkat dengan ujung yang melengkung dan ujungnya dihiasi dengan keramik bermotif. Ujung jurai biasanya juga diangkat dengan ornamen, dimana salah satu ornamen yang sering digunakan adalah yan wei xing. Pada bangunan rumah tinggal Tjong A Fie, kebanyakan memiliki atap yang sederhana dimana bentuknya cuma berupa atap pelana dengan bubungan atap melengkung pada sisi kiri-kanan serta diberi warna merah sebagai simbol kebahagiaan.

Kesimpulan

Aspek yang berpengaruh terhadap peran seni, teknologi dan industri pada tipologi dan simbolis bangunan rumah Tjong A Fie secara umum membentuk sebuah identitas yang khas terhadap sebuah bangunan di kawasan kota Medan. Secara tipologi bangunan bergaya Tiongkok sangat terlihat dan memiliki ciri khas tertentu yang mudah dikenali. Dasar simbolis bangunan bergaya Tiongkok dilandasi oleh gagasan kuno bahwa manusia harus hidup selaras dengan kosmos dan menyejajarkan aturan-aturan yang menentukan terjaganya harmoni kosmos, khususnya dalam penggunaan simbolis pada sebuah bangunan bergaya Tiongkok.

Secara tipologi bangunan bergaya Tiongkok sangat terlihat dan memiliki ciri khas tertentu yang mudah dikenali, misalnya pada elemen fisik, meliputi tipologi, fasade, atap, ornamen, warna bangunan sebagai komponen utama. Bangunan bergaya Tiongkok mudah dikenali secara fisik, dimulai dari fasade bangunan yang khas dengan model atap yang melengkung pada ujungnya. Sesuatu yang khas juga dapat di lihat dari atap bangunan rumah Tjong A Fie dan memiliki tritisan yang merupakan pengaruh dari iklim tropis, semua hal ini merupakan hasil dari seni, teknologi dan industri. Di samping itu, elemen non fisik juga turut meliputi kebudayaan Tiongkok dan kehidupan sosial budaya sebagai komponen penunjang. Masyarakat di daerah Kesawan Medan pada umumnya adalah suku Melayu dan ciri khas dari budaya melayu juga terdapat pada bangunan Rumah Tjong A Fie, seperti warna kuning yang merupakan ciri khas budaya Melayu, ukiran lebah bergantung dan lain-lain. Selain itu masyarakat Kota Medan juga memiliki semangat solidaritas dan jiwa mandiri yang tinggi, sehingga pemerintah daerah selalu memotifasi generasi muda untuk terus berkarya serta menjaga nilai-nilai sejarah yang ada di daerah tersebut dan memperkenalkannya pada masyarakat luas.

Daftar Pustaka

 Brownislaw Malionowski, 1967. A Functional Theory of Culture. Belanda: Belanda of History.

C.J. Ducasse, 1988. Philoshopy of Art. Beijing: Guanming Daily Press.

 Ding Wangdao, 2007. The Konfucianisme and Taoisme, China: Foreign Language Press.

 Fu Chunjiang, 2010. Origins of Chinese Culture. Singapore: Asiapacs Books PTE LTD.

 Gin Djin Su, 1964. Chinese Architecture: Last and Contemporer. Hongkong: The Sinpoh Amalgamated ltd.

 Marwati, Nugroho, 1993. Sejarah Tiongkok. Yogyakarta: Diva Press.

Perkins, Dorothy, 1999. Enyclopedia of China. Chicago: Fitzroy Dearborn.

Salmon, Claudine & K.K. Siu (eds.), 2002. Chinese Epgraphic Materials in Indonesia. Singapore: EPEO & Archipel.

Tigor, Sandi, 2004. Arsitektur Tiongkok. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Wang Keping, 2006. Chinese Philosophy on Life. Beijing: Foreign Language Press.

[1]Pecinan adalah istilah dalam bahasa Indonesia yang pengertiannya merujuk kepada kawasan permukiman orang-orang Tionghoa. Biasanya adalah orang-orang Tionghoa yang tinggal di daerah perkotaan. Dalam bahasa Inggris istilah ini disebut dengan China Town, seperti yang terdapat di Las vegas, Washington, D.C., dan lain-lainnya. Dalam bahasa Mandarin Pecinan ini disebut dengan tang ren jie. Secara etimologis tang artinya sekumpulan/populasi, ren artinya orang atau masyarakat dan jie artinya jalan. Umumnya pola permukiman orang-orang Tionghoa di kota-kota di seluruh dunia ini adalah mengelompok berdasarkan kelompok mereka, tidak menyebar dan berbaur dengan masyarakat setempat.

PEMAHAMAN RETORIKA

Oleh : Rudiansyah

Latar Belakang Masalah

Sejarah retorika muncul pada abad ke-5 sebelum masehi. Korax, seorang Yunani dan muridnya Teisios (keduanya berasal dari Syrakuse-Sisilia) menerbitkan sebuah buku yang pertama tentang retorika. Tetapi retorika sebagai seni dan kepandaian berbicara, sudah ada dalam sejarah jauh lebih dahulu. Di dalam kesusastraan Yunani kuno, Homerus dalam Ilias dan Odyssee menulis pidato yang panjang. Selain itu bangsa-bangsa seperti Mesir, India dan Tiongkok juga sudah mengembangkan seni berbicara jauh hari sebelumnya. Plato, menjadikan Gorgias dan Socrates sebagai contoh retorika yang benar, atau retorika yang berdasarkan pada Sophisme dan retorika yang berdasar pada filsafat. Sophisme mengajarkan kebenaran yang relatif, dengan kata lain filsafat membawa orang kepada pengetahuan yang sejati. Ketika merumuskan retorika yang benar-benar membawa orang pada hakikat, Plato membahas organisasi gaya dan penyampaian pesan. Dalam karyanya, Plato menganjurkan para pembicara untuk menganal jiwa pendengarnya. Dengan demikian, Plato meletakkan dasar-dasar retorika ilmiah dan psikologi khalayak. Ia telah mengubah retorika sebagai sekumpulan teknik (sophisme ) menjadi sebuah wacana ilmiah.

Retorika berasal dari bahasa Yunani “Rhetorica” atau bahasa Inggris “Rhetoric” yang berarti “kemahiran dalam berbicara dihadapan umum”. I Gusti Ngurah Oka, memberikan definisi sebagai berikut, “Ilmu yang mengajarkan tindak dan usahayang untuk dalam persiapan, kerjasama, serta kedamaian ditengah masyarakat”. Dengan demikian termasuk dalam cakupan pengertian retorika adalah: Seni berbicara-kemahiran dan kelancaran berbicara-kemampuan memproduksi gagasan-kemampuan mensosialisasikan sehingga mampu mempengaruhi audience. Secara etimologis istilah retorika berasal dari bahasa Yunani (Rhetorica), yang berarti seni berbicara. Dalam bahasa Inggris, kata rhetoric berarti kefasihan dalam berbicara. Dalam terminologi, retorika dikenal sebagai seni berbicara.

Istilah retorika mulai muncul di Yunani pada abad ke-5 SM. Pada saat orang-orang Yunani sebagai pusat budaya barat dan filsuf bersaing untuk mencari apa yang mereka anggap sebagai kebenaran. Pengaruh budayaYunani menyebar ke timur seperti Mesir, India, Persia, dan bahkan Indonesia. Retorika mulai berkembang pada zaman Socrates, Plato, dan Aristoteles, kemudian berkembang menjadi retorika ilmu pengetahuan dan pada saat itu Georgias dianggap sebagai guru pertama dalam ilmu retorika.

Dari pengertian diatas, maka ada dua hal yang perlu ditarik dan diperhatikan, yaitu kemahiran atau seni dan ilmu. Retorika sebagai kemahiran atau seni sudah tentu mengandung unsur bakat (nativisme), kemudian retorika sebagai ilmu akan mengandung unsur pengalaman (empirisme) yang bisa digali, dipelajari dan di inventarisasikan. Hanya sedikit perbedaan bagi mereka yang sudah mempunyai bakat akan berkembang lebih cepat, sedangkan bagi yang tidak mempunyai bakat akan berjalan dengan lamban. Dari sini kemudian lahirlah suatu anggapan bahwa retorika merupakan artistic science (ilmu pengetahuan yang mengandung seni) dan scientivicart (seni yang ilmiah). Sementara menurut yang lain, retorika (rhetoric) secara harfiyah artinya berpidato atau kepandaian berbicara dan kini lebih dikenal dengan nama public speaking. Dewasa ini retorika cenderung dipahami sebagai omong kosong atau permainan kata-kata (words games), juga bermakna propaganda (memengaruhi dan mengendalikan pemikiran-perilaku orang lain). Teknik propaganda words games terdiri dari name calling (pemberian julukan buruk, labelling theory), glittering generalities (kebalikan dari name calling, yakni penjulukan dengan label asosiatif bercitra baik), dan eufemisme (penghalusan kata untuk menghindari kesan buruk atau menyembunyikan fakta sesungguhnya). Menurut Kenneth Burke, bahwa setiap bentuk-bentuk komunikasi adalah sebuah drama, karenanya seorang pembicara hendaknya mampu mendramatisir (membuat audiance merasa tertarik) terhadap pembicara, sedangkan menurut Walter Fisher bahwa setiap komunikasi adalah bentuk dari cerita (storytelling), karenanya jika kita mampu bercerita sesungguhnya kita punya potensi untuk berpidato dan menjadi motivator.

Dalam buku Theories of Human Communication karangan Little John, dikatakan bahwa studi retorika sesungguhnya adalah bagian dari disiplin ilmu komunikasi, karena di dalam retorika terdapat penggunaan simbol-simbol yang dilakukan oleh manusia. Retorika berhubungan erat dengan komunikasi persuasi, sehingga retorika juga dapat di katakan suatu seni dari mengkonstruksikan argumen dan pembuatan pidato. Little John mengatakan retorika adalah ”adjusting ideas to people and people to ideas” (Little John, 2004,p.50). Selanjutnya dikatakan bahwa retorika adalah seni untuk berbicara baik, yang dipergunakan dalam proses komunikasi antarmanusia (Hendrikus, 1991,p.14). Sedangkan oleh sejarawan dan negarawan George Kennedy mendefinisikan retorika sebagai ”The energy inherent in emotion and thought, transmitted through a system of signs, including language to other to influence their decisions or actions” (Puspa, 2005:p.10), yang dalam bahasa Indonesia retorika adalah ”suatu energi yang sejalan dengan emosi dan pemikiran yang dipancarkan melalui sebuah sistem dari tanda-tanda, termasuk didalamnya bahasa yang ditujukan pada orang lain untuk mempengaruhi pendapat mereka atau aksi mereka. Retorika (rethoric) biasanya disinonimkan dengan seni atau kepandaian berpidato, sedangkan tujuannya adalah menyampaikan pikiran dan perasaan kepada orang lain agar mereka mengikuti kehendak kita.

Menurut Aristoteles, dalam retorika terdapat 3 bagian inti yaitu :

  1. Ethos (ethical) : Yaitu karakter pembicara yang dapat dilihat dari cara seseorang berkomunikasi.
  2. Pathos (emotional) : Yaitu perasaan emosional khalayak yang dapat dipahami dengan pendekatan psikologi massa.
  3. Logos (logical) : Yaitu pemilihan kata atau kalimat atau ungkapan oleh pembicara.

Menurut Kenneth Burke, bahwa setiap bentuk-bentuk komunikasi adalah sebuah drama. Karenanya seorang pembicara hendaknya mampu mendramasir ceritanya. Gaya bahasa retorika Metafora (menerangkan sesuatu yang sebelumnya tidak dikenal dengan mengidentifikasikannya dengan sesuatu yang dapat disadari secara langsung, jelas dan dikenal); Monopoli semantik (penafsir tunggal yang memaksakan kehendak atas teks yang multi-interpretatif); Fantasy themes (tema-tema yang dimunculkan oleh penggunaan kata/istilah bisa memukau khalayak); Labelling (penjulukan, audiens diarahkan untuk menyalahkan orang lain), Kreasi citra (mencitrakan positif pada satu pihak, biasanya si subjek yang berbicara); Kata topeng (kosakata untuk mengaburkan makna harfiahnya/realitas sesungguhnya); Kategorisasi (menyudutkan pihak lain atau skenario menghadapi musuh yang terlalu kuat, dengan memecah-belah kelompok lawan); Gobbledygook (menggunakan kata berbelit-belit, abstrak dan tidak secara langsung menunjuk kepada tema, jawaban normatif); Apostrof (pengalihan amanat dengan menggunakan proses/kondisi/pihak lain yang tidak hadir sebagai kambing hitam yang bertanggung jawab kepada suatu masalah).

Pentingnya Retorika

Terkadang kita sering tidak sadar seberapa pentingkah berbicara dalam kehidupan kita. Banyak orang berbicara semaunya, seenaknya tanpa memikirkan apa isi dari pembicaraan mereka tersebut. Sebenarnya berbicara mempunyai artian mengucapkan kata atau kalimat kepada seseorang atau sekelompok orang, untuk mencapai tujuan tertentu (misalnya memberikan informasi atau memberi motivasi). Tapi sering kali kita mengalami kesulitan dalam mengungkapakan maksud dan isi pikiran kita kepada orang lain. Bahkan sering pula maksud yang kita sampaikan berbeda dengan yang ditangkap oleh pendengar.
Oleh karena itu berbicara sangatlah penting karena yang membedakan manusia dari hewan maupun makhluk lainnya adalah kesanggupan berbicara. Manusia adalah makhluk yang sanggup berkomunikasi lewat bahasa dan berbicara. Tetapi yang lebih mencirikan hakikat manusia sebagai manusia penuh adalah kepandaian dan keterampilan dalam berbicara. Pengetahuan bahasa saja belum cukup, kebesaran dan kelihaian seseorang sebagai manusia juga ditentukan oleh kepandaiannya dalam berbahasa, oleh keterampilannya dalam mengungkapkan pikiran secara tepat dan meyakinkan. Quintilianus, seorang bapak ilmu retorika berkebangsaan Romawi mengatakan, “Hanya orang yang pandai bicara adalah sungguh-sungguh manusia.” Di dalam dunia musik ada sebuah pesan yang berbunyi, “Bermain piano itu tidak sulit, seseorang hanya perlumenempatkan jari yang tepat pada saat yang tepat di atas tangga nada yang tepat. Kata-kata ini juga dapat dikenakan ke dalam ilmu retorika : “Berbicara itu sama sekali tidak sulit, seseorang hanya harus mengucapkan kata-kata yang tepat pada saat yang tepat kepada pendengar yang tepat.” Memang untuk terampil dalam berbicara tidaklah semudah itu.Untuk menjadi seorang yang pandai bicara, dibutuhkan latihan yang sistematis dan tekun. Sejarah sudah membuktikannya, orang-orang kenamaan seperti : Demosthenes, Cicero, Napoleon Bonaparte, winston Churchill, Adolf Hitler, J.F Kennedy, Marthin Luther King adalah orang-orang yang menjadi retor terkenal lewat latihan yang teratur, sistematis dan tekun.

Lalu mengapa kita perlu mempelajari retorika? Sering orang mengatakan, ”Dia tahu banyakhal, hanya sajatidak dapat mengungkapkannya dengan baik, seseorang tidak dapat mengungkapkan pikirannya secara meyakinkan.” Sangatlah menyedihkan, apabila orang memiliki pengetahuan yang berguna, tetapi tidak dapat mengkomunikasikannya secara mengesankan dan meyakinkan kepada orang lain. Hal tersebut merupakan salah satu contoh mengapa retorika itu penting. Retorika berarti kesenian untuk berbicara baik (Kunst, gut zu redden atau Ars bene dicendi), yang dicapai berdasarkan bakat alam (talenta) dan keterampilan teknis (ars, techne). Sekarang ini retorika diartikan sebagai kesenian untuk berbicara baik, yang dipergunakan dalam proses komunikasi antarmanusia. Kesenian berbicara ini bukan hanya berarti berbicara lancar tanpa jalan pikiran yang jelas dan tanpa isi, melainkan suatu kemapuan untuk berbicara dan berpidato secara singkat, jelas, padat dan mengesankan. Retorika modern mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi dan fantasi yang tinggi, teknik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta penilaian yang tepat. Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara pengetahuan, pikiran, kesenian, dan kesanggupan berbicara. Dalam bahasa percakapan atau bahasa populer, retorika berarti pada tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, atas cara yang lebih efektif, mengucapkan kata-kata yang tepat, benar dan mengesankan. Itu berarti kita harus dapat berbicara jelas, singkat dan efektif.

Retorika adalah suatu gaya atau seniberbicara, baik yang dicapai berdasarkan bakat alami (talenta) dan keterampilan teknis. Dewasa ini retorika diartikan sebagai kesenian untuk berbicara denganbaik yang dipergunakan dalam proses komunikasi antar manusia. Kesenian berbicara ini bukan hanya berarti berbicara secara lancar tampa jalan pikiran yang jelas dan tanpa isi, melainkan suatu kemampuan untuk berbicara dan berpidato secara singkat, jelas, padat dan mengesankan. Retorika modern mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi dan fantasi yang tinggi, teknik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta penilaian yang tepat.  Beretorika juga harus dapat dipertanggungjawabkan disertai pemilihan kata dan nada bicara yang sesuai dengan tujuan, ruang, waktu, situasi, dan siapa lawan bicara yang dihadapi.Titik tolak retorika adalah berbicara, berbicara berarti mengucapkan kata atau kalimat kepada seseorang atau sekelompok orang, untuk mencapai suatu tujuan tertentu (misalnya memberikan informasi). Berbicara adalah salah satu kemampuan khusus pada manusia. Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara pengetahuan, pikiran, kesenian dan kesanggupan berbicara. Dalam bahasa percakapan atau bahasa populer, retorika berarti pada tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, atas cara yang lebih efektif, mengucapkan kata-kata yang tepat, benar dan mengesankan. Itu bukti bahwaseseorang harus dapat berbicara jelas, singkat dan efektif. Jelas dimaksudkan agar mudah dimengerti; singkat untuk mengefektifkan waktu dan sebagai tanda kepintaran. Sebuah pepatah cina mengatakan, “Seseorang yang menembak banyak, belum tentu seorang penembak yang baik.” Keterampilan dan kesanggupan untuk menguasai seni berbicara ini dapat dicapai dengan mencontoh para tokoh-tokoh yang terkenal dengan mempelajari dan mempergunakan hukum-hukum retorika dengan melakukan latihan yang teratur. Dalam seni berbicara dituntut juga penguasaan bahan dan pengungkapan yang tepat melalui bahasa.

Berikut pengertian retorika yang dikemukakan oleh beberapa ahli di bidang retorika:

  • Pengertian Retorika Menurut Richard E. Young : Retorika adalah ilmu yang mengajarkan bagaimana kita menggarap masalah wicara-tutur kata secara heiristik, epistomologi untuk membina saling pengertian dan kerjasama.
  • Pengertian Retorika Menurut Socrates: Retorika adalah ilmu yang mempersoalkan tentang bagaimana mencari kebenaran dengan dialog sebagai tekniknya. Karena dialog, kebenaran dapat timbul dengan sendirinya.
  • Pengertian Retorika Menurut Plato: Retorika adalah kemampuan di dalam mengaplikasikan bahasa lisan yang sempurna dan merupakan jalan bagi seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang luas dan sempurna.
  • Konrad Lorenz mengatakan:

Apa yang diucapkan tidak berarti juga di dengar, apa yang di dengar tidak berarti juga di mengerti, apa yang di mengerti tidak berarti juga di setujui, apa yang di setujui tidak berarti juga di terima, apa yang di terima tidak berarti juga di hayati dan apa yang di hayati tidak berarti juga mengubah tingkah laku.

Retorika penting supaya apa yang di ucapkan dapat di dengar, apa yang di dengar dapat di setujui, apa yang disetujui dapat di terima, apa yang diterima dapat di hayati dan apa yang di hayati dapat mengubah tingkah laku.

Dari beberapa pengertian retorika diatas, apapun defenisi dan siapapun yang mengemukakannya semua mengacu dan memberi penekanan kepada kemampuan menggunakan bahasa lisan (berbicara) yang baik dengan memberikan sentuhan gaya (seni) di dalam penyampaiannya dengan tujuan untuk mengikat/menggugah hati pendengarnya untuk mengerti dan memahami pesan yang disampaikannya.

Retorika Sebagai Seni Berbicara

Mengenaiberbicaratentunyatakluputdarisejarahmanusiamulai di kenalkan. Imam al-Akhdlariy menyebutkan bahwa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah bahwa manusia itu disebut hayawanun nathiqun artinya “binatang yang pandai berbicara. Demikian pula orang-orang yang mampu mengubah sejarah peradaban dunia, mereka itu pada umumnya sangat piawai dalam mengolah kata dan bermain kalimat. Mulai dari para filusuf Yunani seperti Socrates, Aristoteles, dan Plato, sampai dengan para politikus, dan negarawan seperti Hitler, Musolini, Thomas Aquinas, Montesqueu, hingga negarawan kita yang cukup mahir dalam berorator seperti Bung Karno dan Bung Tomo.
Mereka memiliki karakter gaya bicara yang berbeda dan pendengar akan terlena dalam buaian kata-kata indah mereka. Kesimpulannnya adalah bahwa berbicara yang baik dan bermakna akan mengandung kekuatan spiritual tersendiri. Berbahasa Indonesia yang baik merupakan bagian identitas bangsa. Berbicara yang baik dan benar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baku harus dapat disosialisasikan oleh para publik figur, selebritis, di negeri ini. Pada era orde baru tampaknya justru yang merusak kaidah bahasa Indonesia adalah orang nomor satu di Indonesia. Indikasi “pengrusakkan” kaidah bahasa Indonesia era sekarang kiranya didominasi oleh bahasa iklan di media masa. Dalam hal ini perlu diadakan aturan main dalam memproduksi bahasa sebuah iklan, agar tidak merusak tatanan kaidah yang sudah baku. Penggunaan bahasa dan isitilah asing yang diadopsikan ke dalam bahasa Indonesia seharusnya dibatasi. Kalau tidak bisa disederhanakan oleh si pembicara sebaiknya tidak perlu diucapkan. Akan tetapi justru gejala ini dibuat sengaja oleh orang-orang yang masih setengah-setengah mengenyam pendidikan tinggi. Atau demi gengsi-gengsian mereka berbicara yang sok ilmiah. Ironisnya, justru mereka sendiri tidak mengerti apa sebenarnya isi pembicaraannya. Sepanjang sejarah, kongres bahasa Indonesia itu sudah sering dilaksanakan. Sehingga yang disebut dengan EYD entah akan berapa kali lagi akan disempurnakan. Barangkali akan lebih monumental jika gramatikal bahasa Indonesia itu secara resmi diundangkan. Dengan segala implikasinya, layaknya sebuah undang-undang (lengkap dengan sanksi hukum, jika ada penyalahgunaan istilah atau lainnya).

Alasan Mempelajari Retorika

Martin Luther berpendapat, ”Siapa yang pandai berbicara adalah seorang manusia, sebab berbicara adalah kebijaksanaan dan kebijaksanaan adalah berbicara. Di atas selembar papirus yang ditemukan di dalam sebuah makam tua di Mesir tertulis, ”Binalah dirimu menjadi seorang ahli pidato, sebab dengan begitu engkau akan menang.” Di dalam masyarakat umumnya dicari para pemimpin atau orang-orang berpengaruh, yang memiliki kepandaian di dalam hal berbicara. Juga di bidang-bidang lain seperti perindustrian, perekonomian dan bidang sosial, kepandaian berbicara atau keterampilan mempergunakan bahasa secara efektif sangat di andalkan. Menguasai kesanggupan berbahasa dan keterampilan berbicara menjadi alasan utama keberhasilan orang-orang terkenal di dalam Sejarah Dunia seperti : Demosthenes, Socrates, J. Caesar, St. Agustinus, St. Ambrosius, Martin Luther, Martin Luther King, J.F Kennedy, Soekarno dan lain-lain. Dalam Sejarah Dunia justru kepandaian berbicara atau berpidato merupakan instrumen utama untuk mempengaruhi massa. Bahasa dipergunakan untuk meyakinkan orang lain. Ketidakmampuan dalam mempergunakan bahasa membuat ketidakjelasan dalam mengungkapkan masalah atau pikiran dapat membawa dampak negatif dalam hidup dan karya seorang pemimpin. Oleh karena itu, pengetahuan tentang retorika dan ilmu komunikasi yang memadai akan membawa keuntungan bagi pribadi bersangkuatan dalam beberapa bidang tertentu. Banyak pria dan wanita dalam sejarah memperoleh suskes besar dalam hidup dan kariernya sebagai pemimpin, berkat penguasaan ilmu retorika. Sebab penguasaan teknik berbicara akan mempertinggi kepercayaan terhadap diri dan memberi rasa  pasti kepada orang yang bersangkutan. Bagi para pemimpin, retorika adalah alat penting untuk mempengaruhi dan menguasai manusia.

Retorika (Bahasa Yunani ῥήτωρ, rhêtôr, orator, teacher) adalah sebuah teknik pembujuk-rayuan secara persuasi untuk menghasilkan bujukan dengan melalui karakter pembicara, emosional atau argumen (logo), awalnya Aristoteles mencetuskan dalam sebuah dialog sebelum The Rhetoric dengan judul ‘Grullos’ atau Plato menulis dalam Gorgias, secara umum ialah seni manipulatif atau teknik persuasi politik yang bersifat transaksional dengan menggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan pendengar melalui pidato, persuader dan yang dipersuasi saling bekerja sama dalam merumuskan nilai, keprcayaan dan pengharapan mereka. Ini yang dikatakan Kenneth Burke (1969) sebagai konsubstansialitas dengan penggunaan media oral atau tertulis, bagaimanapun, definisi dari retorika telah berkembang jauh sejak retorika naik sebagai bahan studi di universitas. Dengan ini, ada perbedaan antara retorika klasik (dengan definisi yang sudah disebutkan diatas) dan praktek kontemporer dari retorika yang termasuk analisa atas teks tertulis dan visual. Dalam doktrin retorika Aristoteles terdapat tiga teknis alat persuasi politik yaitu deliberatif, forensik dan demonstratif. Retorika deliberatif memfokuskan diri pada apa yang akan terjadi dikemudian bila diterapkan sebuah kebijakan saat sekarang. Retorika forensik lebih memfokuskan pada sifat yuridis dan berfokus pada apa yang terjadi pada masa lalu untuk menunjukkan bersalah atau tidak, pertanggungjawaban atau ganjaran. Retorika demonstartif memfokuskan pada epideiktik, wacana memuji atau penistaan dengan tujuan memperkuat sifat baik atau sifat buruk seseorang, lembaga maupun gagasan.

Aristoteles adalah murid Plato, filsuf terkenal dari zaman Yunani Kuno. Kala itu, di Yunani dikenal Kaum Sophie yang mengajarkan cara berbicara atau berorasi kepada orang-orang awam, pengacara, serta para politisi. Plato sendiri banyak menyindir perilaku kaum Sophie ini karena menurutnya orasi yang mereka ajarkan itu miskin teori dan terkesan dangkal. Aristoteles berpendapat bahwa retorika itu sendiri sebenarnya bersifat netral, maksudnya adalah orator itu sendiri bisa memiliki tujuan yang mulia atau justru hanya menyebarkan omongan yang gombal atau bahkan dusta belaka. Menurutnya, “By using these justly one would do the greatest good, and unjustly, the greatest harm” (1991: 35). Aristoteles masih percaya bahwa moralitas adalah yang paling utama dalam retorika, akan tetapi dia juga menyatakan bahwa retorika adalah seni. Retorika yang sukses adalah yang mampu memenuhi dua unsur, yaitu kebijaksanaan (wisdom) dan kemampuan dalam mengolah kata-kata (eloquence).

Teori Retorika

Teori retorika adalah cara menggunakan seni berbahasa yang berpusat pada pemikiran mengenai retorika (gaya berbahasa/seni berbahasa), yang disebut oleh Aristoteles sebagai alat persuasi yang tersedia, maksudnya adalah seorang pembicara yang tertarik untuk membujuk pendengarnya untuk mempertimbangkan tiga bukti retoris yaitu logika (logos), emosi (pathos) dan etika/kredibilitas (ethos). Khalayak merupakan kunci dari persuasi yang efektif, dan silogisme retoris, yang memandang khalayak untuk menemukan sendiri informasi yang kurang lengkap dari suatu pidato yang tidak seluruhnya didengar. Sehingga, dapat diambil kesimpulan bahwa teori retorika adalah teori yang yang memberikan petunjuk untuk menyusun sebuah presentasi atau pidato persuasif yang efektif dengan menggunakan alat-alat persuasi yang tersedia.

Perlu diingat bahwa model komunikasi ini semakin lama semakin berkembang, tapi selau akan ada tiga aspek yang selalu sama dari masa ke masa, yaitu : sumber pengirim pesan, pesan yang dikirimkan, dan penerima pesan.

Asumsi Teori Retorika

Asumsi teori retorika adalah landasanberfikir yang dapat digunakan dalam menggunakan retorika, asumsi teori retorika terdiri atas:

  1. Pembicara yang efektif harus mempertimbangkan khalayak. Asumsi ini menekankan bahwa hubungan antara pembicara-khalayak harus dipertimbangkan. Para pembicara tidak boleh menyusun atau menyampaikan sebuah gagasan atau pidato dengan seni berbahasa yang dimilikinya tanpa mempertimbangkan atau memperhatikan khalayak, tetapi harus berpusat pada khalayak. Dalam hal ini, khalayak dianggap sebagai sekelompok besar orang yang memiliki motivasi, keputusan, pilihan dan bukan sebagai sekelompok besar orang yang memiliki watak yang sama dan serupa. Asumsi ini menggarisbawahi definisi retorika atau komunikasi sebagai sebuah proses transaksional. Agar suatu pidato efektif harus dilakukan analisis khalayak (audience analysis), yang merupakan proses mengevaluasi suatu khalayak dan latar belakangnya serta menyusun pidato sedemikian rupa sehingga para pendengar memberikan respon sebagaimana yang diharapkan pembicara.
  2. Pembicara yang efektif menggunakan beberapa bukti dalam presentasi. Asumsi ini berkaitan dengan apa yang dilakukan pembicara dalam persiapan penyampaian gagasan atau pidato mereka dan dalam pembuatan pidato tersebut. Bukti-bukti yang dimaksudkan ini merujuk pada cara-cara persuasi yaitu: ethos, pathos dan logos. Ethos adalah karakter, intelegensi, dan niat baik yang dipersepsikan dari seorang pembicara. Logos adalah bukti logis atau penggunaan argument dan bukti dalam sebuah pidato. Pathos adalah bukti emosional atau emosi yang dimunculkan dari para anggota khalayak.

Kanon Teori Retorika

Kanon merupakan tuntunan atau prinsip-prinsip teori retorika yang harus diikuti oleh pembicara agar penyampaian gagasan atau pidato menjadi efektif, yaitu:

  1. Penemuan (invention), didefinisikan sebagai konstruksi atau penyusunan dari suatu argument yang relevan dengan tujuan dari suatu pidato. Dalam hal ini perlu adanya integrasi cara berfikir dengan argumen dalam pidato. Oleh karena itu, dengan menggunakan logika dan bukti dalam pidato dapat membuat sebuah pidato menjadi lebih kuat dan persuasive.
  2. Pengaturan (arrangement), berhubungan dengan kemampuan pembicara untuk mengorganisasikan gagasan atau pidato yang disampaikanya. Pidato secara umum harus mengikuti pendekatan yang terdiri atas tiga hal yaitu pengantar (introduction), batang tubuh (body), dan kesimpulan (conclusion). Pengantar merupakan bagian pembukaan dalam suatu pidato yang cukup menarik perhatian khalayak, menunjukkan hubungan topik dengan khalayakdan memberikan pembahasan singkat mengenai tujuan pembicara. Batang tubuh merupakan bagian isi dari pidato yang mencakup argument, contoh dan detail penting untuk menyampaikan suatu pemikiran. Penutup  atau epilog merupakan bagian kesimpulan isi pidato yang ditujukan untuk merangkum poin-poin penting yang telah disampaikan pembicara dan untuk menggugah emosi khalayak.
  3. Gaya (style), merupakan kanon retorika yang mencakup penggunaan bahasa untuk menyampaikan ide-ide di dalam sebuah penyampaian  gagasan atau pidato. Dalam penggunaan bahasa harus menghindari glos (kata-kata yang sudah kuno dalam pidato), akan tetapi lebih dianjurkan menggunakan metafora (majas yang membantu untuk membuat hal yang tidak jelas menjadi lebih mudah dipahami). Penggunaan gaya memastikan bahwa suatu pidato dapat diingat ide-ide dari pembicara.
  4. Penyampaian (delivery), adalah kanon retorika yang merujuk pada presentasi nonverbal dari ide-ide pembicara. Penyampaian biasanya mencakup beberapa perilaku seperti kontak mata, tanda vokal, ejaan, kejelasan pengucapan, dialek, gerak tubuh, dan penampilan fisik. Penyampaian yang efektif mendukung kata-kata pembicara dan membantu mengurangi ketegangan pembicara.
  5. Ingatan (memory) adalah kanon retorika yang merujuk pada usaha-usaha pembicara untuk menyimpan informasi untuk sebuah pidato. Dengan ingatan, seseorang pembicara dapat mengetahui apa saja yang akan dikatakan dan kapan mengatakannya, meredakan ketegangan pembicara dan memungkinkan pembicara untuk merespons hal-hal yang tidak terduga.

Jenis-Jenis Teori Retorika

Jenis-jenis teori retorika adalah salah satu ragam retorika yang telah dikelompokan berdasarkan fungsinya, situasai yang tepat dan ketepatan menggunakan jenis retorika dalam penyampaian gagasan atau penyampaian pidato dengan mengetahui  jenis-jenis retorika maka teori retorika akan lebih mudah dipahami dan dilaksanakan bagi orator atau pembicara. Jenis-jenis retorika terdiri atas:

  1. Retorika forensic (forensic rhetoric), berkaitan dengan keadaan dimana pembicara mendorong timbulnya rasa bersalah atau tidak bersalah dari khalayak. Pidato forensic atau juga disebut pidato yudisial biasanya ditemui dalam kerangka hukum. Retorika forensic berorientasi pada masa waktu lampau. Contoh retorika forensic yaitu retorika atau seni berbahasa yang digunakan oleh seorang hakim dalam menimbang keputusan tentang salah atau tidak seorang tersangka dalam perkara yang disidangkan dilihat dari perbuatanya di masalalu.
  2. Retorika epideiktik (epideictic rhetoric), adalah jenis retorika yang berkaitan dengan wacana yang berhubungan dengan pujian atau tuduhan. Pidato epideiktik sering disebut juga pidato seremonial. Pidato jenis ini disampaikan kepada publik dengan tujuan untuk memuji, menghormati, menyalahkan dan mempermalukan. Pidato jenis ini berfokus pada isu-isu sosial yang ada pada masa sekarang.
  3. Retorika deliberative (deliberative rhetoric), adalah jenis retorika yang menentukan tindakan yang harus dilakukan atau yang tidak boleh dilakukan oleh khalayak. Pidato ini sering disebut juga dengan pidato politis. Pidato deliberative berorientasi pada masa waktu yang akan datang. Contohnya pidato yang disampaikan oleh calon ketua partai dalam kampanye.

 Kesimpulan

  • Teori retorika adalah cara menggunakan seni berbahasa yang berpusat pada pemikiran mengenai retorika (gaya berbahasa/seni berbahasa), yang disebut oleh Aristoteles sebagai alat persuasi yang tersedia yaitu ethos, pathos dan logos.
  • Asumsi teori retorika meliputi: memperhatikan khalayak saat akan berbicara dan menggunakan bukti untuk memperkuat argumen yang dibicarakan.
  • Kanon atau prinsip teori retorika yaitu:
  1. Penemuan (invention), didefinisikan sebagai konstruksi atau penyusunan dari suatu argument yang relevan dengan tujuan dari suatu pidato.
  2. Pengaturan (arrangement), berhubungan dengan kemampuan pembicara untuk mengorganisasikan gagasan atau pidato yang disampaikanya.
  3. Gaya (style), merupakan kanon retorika yang mencakup penggunaan bahasa untuk menyampaikan ide-ide di dalam sebuah penyampaian gagasan atau pidato.
  4. Penyampaian (delivery), adalah kanon retorika yang merujuk pada presentasi nonverbal dari ide-ide pembicara.
  5. Ingatan (memory) adalah kanon retorika yang merujuk pada usaha-usaha pembicara untuk menyimpan informasi untuk sebuah pidato.
  • Jenis-jenis teori retorika terdiri atas:
  1. Retorika forensic (forensic rhetoric) atau pidato yudisial, berkaitan dengan keadaan dimana pembicara mendorong timbulnya rasa bersalah atau tidak bersalah dari khalayak.
  2. Retorika epideiktik (epideictic rhetoric), adalah jenis retorika yang berkaitan dengan wacana yang berhubungan dengan pujian atau tuduhan.
  3. Retorika deliberative (deliberative rhetoric), adalah jenis retorika yang menentukan tindakan yang harus dilakukan atau yang tidak boleh dilakukan oleh khalayak.

Daftar Pustaka

 Brooks, Cleanthdan Robert Penn Warren. 1970. Modern Rethoric. New York: Harcourt, Brace and World.

Cavallaro, Dani. 2001. Critical and Cultural Theory. London: The Athlone Press.

Cf. Zhu Guangqian, Wenyi Xinlixue. 1936. Psychology of Literature and Art.Shanghai:Kaiming Shudian.

Fairclough, Norman. 1997. Discourse and Social Change. Cambridge: Polity Press.

Fairclough, Norman. 2001. Language and Power. England: Pearson Education Limited.

Golden, James L Berquist, Goodwin, and Coleman, William E. 1983. The Rethoric of Western Thought. Iowa: Kendli / Hunt Publishing.

Griffin, Emory A. 2003. A First Look at Communication Theory. New York: McGraw-Hill.

Keraf, Goris. 1994. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Penerbit Gramedia.

Lado, Robert. 1964. Language Teaching A Scientific Approach. New York: Mc­Graw-Hill,Inc.

 Muhtadi, Asep Saepul. 2008. Komunikasi Politik Indonesia: Dinamika Islam Politik Pasca Orde Baru. Bandung: Remaja Rosda karya.

 Mulyana Deddy. 2008. Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. Jakarta : Remaja Rosdakarya.

 Michael Burgoon. 1974. Appproaching Speech Communication. New York: Holt,Rinehart & Winston.

Oka, LG.N. Basuki. 1990. Retorik Kiat Bertutur. Malang: Penerbit YA3 Malang.

Syafi’ie, Imam. 1988. Retorika dalam Menulis. Malang: PPS IKIP Malang.

Taylor, Edward Burned. 1969. Primitive Culture. Inggris: Fried Press.

ANALISIS NOVEL WU ZETIAN DARI SUDUT PANDANG RAS, ETNISITAS DAN MULTIKULTURALISME

Oleh : Rudiansyah

Latar Belakang Masalah

Tiongkok tidak memiliki monarki sejak revolusi komunis tahun 1949. Tapi untuk lebih dari 4.000 tahun sebelum itu, tiongkok diperintah oleh 308 kaisar yang berbeda yang mencakup 14 periode dinasti. Dari 308 kaisar, hanya satu yang seorang wanita. Itu terjadi selama dinasti Tang, yang memerintah tiongkok dari tahun 618-907 M, sebuah masa dimana sering dianggap sebagai masa keemasan dari seni, sastra, filsafat, perdagangan dan teknologi Tiongkok. Ibukotanya saat itu Chang An tapi sekarang bernama xi an, merupakan kota terbesar dan memiliki budaya paling maju di dunia, dengan populasi lebih dari satu juta. Ini juga merupakan masa langka dimana perempuan tiongkok memiliki kebebasan, perempuan telah lama diperlakukan sebagai inferior, tapi di masa ini mereka menikmati kebebasan seperti hak untuk dididik, bercerai, memiliki tanah, dan mengambil bagian dalam politik. Tapi tidak seorangpun di masa itu yang mengharapkan seorang wanita untuk memiliki peran yang cukup besar sebagai seorang kaisar.

Kekaisaran Tiongkok dikenal memiliki sistem kekuasaan raja yang sangat berkuasa atas hidup mati rakyat atau biasa disebut dengan despotis absolut. Raja memiliki kedudukan yang sangat tinggi di samping sebagai kepala pemerintahan, panglima tertinggi dan pendeta tertinggi. Raja sangat berkuasa dan menguasai hidup dan mati rakyatnya dapat dilihat hampir dalam setiap pemerintahan didalam setiap dinasti. Tiongkok dalam pemerintahannya sangat mengenal doktrin Tien Ming, dimana siapa saja yang mendapatkan mandat dari langit maka dapat menjadi raja. Orang yang mendapatkan mandat dari langit ini biasa disebut dengan Tien Tzu (putra langit). Sehingga konsep pemerintahan seratus dinasti ini memang benar dalam perkembangan pemerintahan Tiongkok kuno.

Dalam perkembangannya Tiongkok kuno menganut sistem patriarki, dimana laki-laki dianggap memiliki kedudukan dan kelebihan lebih tinggi dibandingkan perempuan. Bahkan kebanyakan dari raja-raja yang memerintah Tiongkok pada masa itu adalah laki-laki. Namun, ternyata dalam suatu negara yang menganut sistem patriarki pun terdapat ruang bagi perempuan untuk menjadi penguasa atau kaisar. Dalam sejarah Tiongkok, perempuan kurang begitu dihargai, karena anak laki-laki justru lebih diharapkan daripada perempuan. Hal ini menunjukan bahwa kedudukan laki-laki jauh lebih penting dan dihargai daripada perempuan.

Wu Zetian (则天)

Wu Zetian dilahirkan pada tahun 624 Masehi. Wu Zetian merupakan anak dari seorang pedagang kayu. Pada masa Tiongkok kuno, masyarakat menghendaki wanita berwatak lemah lembut dan rajin, namun Wu Zetian sejak awal sudah menunjukkan karakter yang berbeda dengan perempuan lainnya. Pada tahun 637 M, tepatnya pada masa pemerintahan Kaisar Li Shimin, Wu Zetian diundang ke istana, dan akhirnya di nobatkan menjadi seorang selir dengan gelar Cai ren (orang berbakat), sebuah gelar selir tingkat ke lima. Suatu hari Kaisar Taizong mendapat seekor kuda yang sulit dijinakkan tetapi Wu Zetian mengatakan kepada Kaisar Taizong bahwa dia mampu menjinakkannya dengan cambuk dan pisau. Wu Zetian berkata: “Saya terlebih dulu mencambuknya, kalau kuda ini tidak tunduk, saya akan memukul kepalanya, kalau kuda itu tetap tidak menurut, akan saya pancung lehernya.” Mendengar perkataan Wu Zetian tadi, Kaisar Taizong terkejut bukan main, karena perkataan bernada keras serupa seharusnya tidak dikeluarkan oleh seorang selir yang tahu akan tata krama. Sejak saat itu kaisar Taizong meningkatkan kewaspadaan terhadap Wu Zetian, dan itulah sebabnya Wu Zetian gagal mendapat cinta sejati dari Kaisar Taizong selama 12 tahun melayaninya. Namun Putra Mahkota ketika itu bernama Li Zhi secara diam-diam jatuh cinta pada Wu Zetian yang 4 tahun lebih tua daripadanya.

Setelah wafatnya Kaisar Taizong, Li Zhi seorang putra mahkota Taizong naik takhta dengan sebutan Kaisar Gaozong, sedang Wu Zetian terpaksa meninggalkan istana dan menjadi biksuni berdasarkan tata krama yang berlaku waktu itu. Tak lama setelah upacara penobatan, Li Zhi yakni Kaisar Gaozong bersikeras menjemput Wu Zetian kembali ke istana dan menganugerahinya gelar selir kelas tinggi tanpa mengindahkan tentangan para menteri. Setelah kembali ke istana, Wu Zetian selalu bermimpi bisa menjadi permaisuri. Konon untuk mewujudkan maksudnya itu, Wu Zetian merencanakan niat jahat. Permaisuri Kaisar Gaozong, yakni Permaisuri Wang menyukai anak, tapi dirinya tak bisa melahirkan anak. Suatu hari, Permaisuri Wang datang menengok bayi perempuan yang belum lama dilahirkan oleh Wu Zetian. Begitu Permaisuri Wang pamit, Wu Zetian segera membunuh bayinya sampai mati, dan kemudian memfitnah Permaisuri Wang sebagai biang keladinya. Kaisar Gaozong yang percaya pada Wu Zetian lantas membenci Permaisuri Wang dan pada akhirnya mencabut gelar Permaisuri Wang dan menganugerahkan gelar permaisuri kepada Wu Zetian. Setelah impiannya itu terwujud, Wu Zetian dengan bertahap mulai menjalankan misi selanjutnya, yaitu menyingkirkan selir yang dicintai Kaisar Gaozong. Kaisar Gaozong memang seorang yang emosional dan kurang bijaksana dalam penanganan urusan negara. Sebelum menjadi permaisuri, Wu Zetian sudah mulai membantu Gaozong menangani urusan politik. Setelah dinobatkan sebagai permaisuri, Wu Zetian secara langsung berpartisipasi dalam penanganan urusan negara tanpa menghiraukan tradisi yang melarang wanita ikut serta dalam pemerintahan. Oleh karena semua urusan penting negara harus ditangani bersama oleh Kaisar Gaozong dan Wu Zetian, maka keduanya dijuluki para menteri sebagai “Dua Kaisar”. Penanganan urusan negara bersama oleh kaisar dan permaisuri yang terjadi pada waktu itu merupakan hal yang tiada taranya dalam sejarah sebelumnya. Setelah Kaisar Gaozong wafat, dua putranya berturut-turut naik takhta, tapi pada kenyataannya yang berkuasa adalah Wu Zetian. Pada usia 67 tahun, Wu Zetian resmi di nobatkan sebagai kaisar wanita pertama Tiongkok dan mengubah nama negara Tang menjadi Zhou.

Teori Tentang Ras, Etnisitas dan Multikulturalisme

Sepanjang sejarahnya, mayoritas raja atau kaisar yang memerintah di Tiongkok adalah laki-laki. Namun, dalam dinasti Tang terdapat suatu perubahan dalam pemerintahan dengan munculnya kaisar perempuan dalam pemerintahan Tiongkok Kuno. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat tidak biasa dalam suatu kekaisaran, terutama yang menganut sistem patriarki.

Menurut Koentjaningrat, Ras adalah suatu golongan manusia yang menunjukan berbagai ciri tubuh tertentu dengan suatu frekuensi yang besar atau bersifat jasmani. Dalam analisis novel ini makna ras adalah suatu sistem klasifikasi yang digunakan untuk mengkategorikan manusia dalam populasi atau kelompok besar dan berbeda berdasarkan ciri fenotipe, asal usul, jasmani dan kesukuan yang terwarisi. Hal ini tercerminkan oleh Wu Zetian yang hanya terlahir dari seorang keluarga pedagang kayu kelas bawah.

Menurut Frederich Barth, Istilah Etnisitas merujuk pada suatu kelompok tertentu yang karena kesamaan ras, agama, asal-usul bangsa ataupun kombinasi dari kategori tersebut terikat pada sistem nilai budaya. Dalam analisis novel ini makna etnisitas adalah suatu penggolongan dasar dari suatu organisasi sosial yang keanggotaannya didasarkan pada kesamaan asal, sejarah, budaya, agama dan bahasa serta tetap mempertahankan identitas jati diri mereka melalui cara dan tradisi khas yang tetap terjaga. Dalam analisis novel ini terlihat bahwa pada masa pemerintahan Tiongkok kuno, masyarakat menghendaki wanita berwatak lemah lembut dan rajin. Hal ini juga yang membuat wanita terdiskriminasi dan tidak bisa berbuat banyak.

Menurut S. Saptaatmaja, Multikulturalisme adalah suatu tujuan untuk bekerjasama, kesederajatan dan mengapresiasi dalam dunia yang kompleks dan tidak monokultur. Dari pengertian ini dapat disimpulkan agar seseorang dapat melihat perbedaan dan usaha untuk bekerja secara positif dengan yang berbeda dan terus mewaspadai segala bentuk sikap yang bisa mereduksi multikulturalisme itu sendiri. Dalam analisis novel ini terlihat bahwa penanganan urusan negara bersama oleh kaisar dan permaisuri yang terjadi pada waktu itu merupakan hal yang tiada taranya dalam sejarah sebelumnya. Ini bukti bahwa dengan saling bekerja sama tanpa harus membatasi kaum wanita akan memperoleh hasil yang lebih maksimal.

Eksplanasi Permasalahan (Sejarah, Sosial Politik, Ekonomi dan Budaya)

Penobatan Wu Zetian sebagai kaisar wanita Dinasti Zhou pada tahun 690 M merupakan contoh yang terkecuali. Mengenai riwayat legendaris Wu Zetian sebagai satu-satunya kaisar wanita dalam sejarah Tiongkok, penilaian yang diberikan generasi kemudian berbeda-beda. Dengan demikian, Wu Zetian pun menjadi kaisar yang berusia paling tua ketika dinobatkan, sekaligus satu-satunya kaisar wanita dalam sejarah Tiongkok. Setelah naik takhta, Wu Zetian melaksanakan kebijakannya dengan otoriter, yaitu dengan menyingkirkan pejabat-pejabat yang tidak berdiri di pihaknya. Selama berkuasanya, Wu Zetian melaksanakan kebijaksanaan yang mendukung perkembangan pertanian, dan menurunkan pajak yang membebani kaum tani. Dirinya juga memelihara ulat sutra dan bercocok tanah, dengan maksud supaya para pejabat berteladan pada tindakannya dan menyadari kesulitan rakyat. Wu Zetian juga pandai memanfaatkan tenaga ahli tanpa memandang bulu, sehingga banyak cendekiawan dari lapisan bawah dapat memangku jabatan di pemerintah, tidak sedikit di antaranya bahkan menjadi menteri dan sarjana yang terkenal karena prestasinya. Wu Zetian juga berupaya meningkatkan status sosial kaum wanita supaya mereka berpeluang berpartisipasi dalam pemerintahan. Wu Zetian berkuasa sebagai kaisar selama 15 tahun, tapi pada kenyataannya ia berkuasa selama 50 tahun.

Selama berkuasanya, negara Tiongkok kuat, masyarakat stabil, dan ekonomi berkembang. Tentaranya juga berkali-kali berhasil memukul mundur agresi musuh dari luar, sehingga kemakmuran yang muncul pada masa awal Dinasti Tang dapat dikembangkan berkelanjutan. Wu Zetian wafat pada usia 82 tahun. Sebelum meninggal dunia, ia mewariskan takhta kaisar kepada putranya dan memulihkan nama negara menjadi Tang. Wu Zetian wafat dan dimakamkan berdekatan dengan Kaisar Gaozong yakni suaminya di pemakaman Qianling di Provinsi Shaanxi, Tiongkok Barat, dan di depan makamnya didirikan sebuah nisan tanpa aksara. Menurut kelaziman, batu nisan didirikan di depan sebuah kubur dan di atasnya ditulis prasasti yang mengisahkan riwayatnya. Namun batu nisan makam Wu Zetian itu malah sama sekali tidak bertulis, dan mengenai sebabnya generasi kemudian memberikan tafsiran yang berbeda-beda. Tapi umumnya orang berpendapat bahwa penegakan batu nisan tanpa aksara itu barangkali dilakukan atas permintaan Wu Zetian, maksudnya ialah agar penerus pada masa mendatang yang memberikan penilaian atas riwayatnya karena naskah apa pun tak bisa melukiskan tingkah lakunya. Itulah sebabnya batu nisan tanpa aksara didirikan di depan makam Wu Zetian.

Pengelolahan Masalah

Ketika melihat fenomena yang terjadi dalam pemerintahan pada masa Wu Zetian ini dapat di pahami bahwa didalam sistem patriarki didalam perkembangan pemerintahan Tiongkok kuno terdapat suatu pengecualian dengan adanya kaisar yang berjenis kelamin wanita. Terlepas dari bagaimana Wu Zetian menjadi seorang kaisar dengan berbagai trik politik yang menggunakan segala cara tanpa melihat sisi kemanusian maka Wu Zetian dapat dikatakan mendapatkan kursi kekuasaanya dengan cara yang luar biasa. Wu Zetian yang merupakan kaisar wanita pertama dalam masyarakat Tiongkok membawa suatu ruang gerak baru bagi kaum perempuan.

Banyak sekali kebijakan-kebijakannya yang sangat berpengaruh demi memajukan kerajaan Tiongkok. Hal ini merupakan suatu keberhasilan dari seorang kaisar wanita yang memiliki suatu otoriter, namun dapat membawa berkah bagi masyarakat terutama dalam bidang pertanian. Atas gebrakan kaisar Wu Zetian ternyata dapat membawa kemajuan besar bagi bangsa Tiongkok pada masanya.Budhisme dan Taoisme dapat menjadi berkembang dengan adanya kebijakan dari Wu Zetian, walaupun pada awalnya itu semua hanya sebagai suatu alat untuk melegitimasikan kekuasaanya tapi hal ini memiliki dampak positif pula.

Daftar Sumber

  1. Cf. Zhu Guangqian, Wenyi Xinlixue, 1936. History of Wu Ze Tian. Shanghai: Kaiming Shudian.
  2. Wang Keping, 1952. Ethos of Chinese Culture. China: Foreign Language Press.
  3. Taniputera, Ivan. 2010. History Of China. Jakarta: Ar-ruzz Media.

Artikel diambil dari :

  1. Confucian. (2011). Wu Ze Tian – Kaisar Wanita Dalam Sejarah China [Online]. http://www.confucian.me/group/perempuanhebat/forum/topics/wu-ze-tian-kaisar-wanita.
  2. http://www.tionghoa.com/wu-zetian/ [22  April 2012].

CHINA DREAM (中国梦) : FILSAFAT KONFUSIUS SEBAGAI KEKUATAN MORAL

Oleh : Rudiansyah

Latar Belakang Masalah

Filsafat Tiongkok bermula pada masa awal seribu tahun pertama sebelum Masehi. Pada awal abad ke-8 sampai dengan abad ke-5 sebelum Masehi filsafat Tiongkok mempunyai ajaran tentang sumber-sumber utama lima anasir alam, yaitu air, api, kayu, logam, dan bumi. Pemikir terdahulu Tiongkok mengajarkan bahwa gabungan lima unsur tersebut menciptakan seluruh keberagaman fenomena. Pada saat yang sama, terbentuklah doktrin tentang kekuatan yang (aktif) dan yin (pasif) yang berlawanan dan saling terkait. Aksi dan kedua kekuatan ini dipandang sebagai sebab gerakan dan perubahan dari alam. Filsafat Tiongkok kuno terus berkembang dari abad ke-5 sampai ke-3 sebelum Masehi. Dalam periode inilah aliran-aliran filosofis Tiongkok muncul, seperti Konfusius. Banyak pemikir Tiongkok kuno berupaya memecahkan masalah hubungan logis antara konsep dan realitas.

Michale Hart, dalam bukunya “seratus tokoh paling berpengaruh dalam sejarah” menempatkan Konfusius dalam urutan kelima setelah Nabi Muhammad, Isaac Newton, Nabi Isa dan Buddha. Pengaruh ajaran Konfusius memang amat besar, tapi terbatas pada wilayah Asia Timur. Meskipun demikian, pengaruhnya terhadap dunia barat juga ada, yang berbekas pada pemikiran-pemikiran Leibniz dan Voltaire.

Ajaran Konfusius adalah arah menuju sifat-sifat ideal manusia sebagai individu maupun bermasyarakat. Ajaran ini lebih mudah dipahami melalui perjalanan hidup sang filsuf. Konfusius mengatakan: “pada umur 15 tahun saya siapkan hatiku untuk belajar; pada usia 30 aku merasa diriku sudah mapan; sampai pada saat mencapai usia 40 tahun saya tidak punya keraguan lagi dalam diri; saat berumur 50 tahun saya tahu wasiat surga; sewaktu berumur 60 tahun say siap mendengar itu; sampai pada umur 70 tahun saya bisa mengikuti keinginan hati tanpa harus mendahului kebenaran”. Di akhir hayatnya Konfusius merasa tidak banyak memberikan arti dan sumbangan pemikiran bagi rakyatnya, tetapi sejarah membuktikan yang sebaliknya. Pada masa dinasti Chin, tepatnya tahun 221 SM, Konfusianisme pernah dilarang. Kaisar Shi Huang Ti, kaisar pertama dinasti Chin membabat habis pengaruh Konfusianisme dan memenggal mata rantai yang menghubungkannya dengan masa lampau. Tetapi pengaruh Konfusianisme tidak luntur, bahkan tumbuh semakin subur. Pada masa dinasti Han (206 SM – 220 SM), ajaran konfusius bahkan menjadi filsafat resmi negara.

Kini, lebih dari 2000 tahun setelah kelahiran Konfusius, ajaran-ajarannya masih terasa relevan dalam situasi sekarang. Tidak hanya bagi masyarakat Tiongkok, tetapi juga bagi masyarakat luas yang merasa kebenaran seolah bersembunyi entah dimana. Cinta akan keramah-tamahan dan sopan santun yang kita warisi dari leluhur seolah hilang tanpa bekas. Tidak ada salahnya jika kita belajar kebajikan sebagai nilai-nilai kemanusiaan yang universal, meskipun itu datangnya dari negeri Tiongkok.

Konfusianisme

Konfusianisme atau biasa dikenal dengan agama Kong Hu Chu adalah agama tertua di negeri Tiongkok. Tiongkok merupakan sebuah negara yang memiliki sejarah panjang tentang tumbuh-kembangnya ajaran-ajaran agama konfusianisme tersebut, tetapi agama tersebut bukanlah satu-satunya agama di negeri Tiongkok, sebab Tiongkok sendiri memilki tiga agama. Tiga agama yang dimaksud adalah agama Konfusianisme, Taoisme dan Budha. Ketiga agama tersebut memang sangat berkaitan erat. Agama Konfusianisme adalah sebuah agama yang mengajarkan kepada para pengikutya menuju sifat-sifat ideal manusia sebagai individu itu sendiri maupun dalam kehidupan bermasayarakat. Agama Konfusianisme juga telah memberikan kesan yang mendalam bagi kehidupan dan kebudayaan di negeri Tiongkok, karena dalam agama tersebut terdapat beberapa ajaran yang mengarah tentang cinta, keramah tamahan, sopan santun dan filsafat serta ajaran-ajaran yang terkandung dalam agama tersebut.

Taoisme

Taoisme merupakan ajaran pertama bagi masyarakat Tiongkok yang dikemukakan Lao Tse. Lao Tse dilahirkan di Provinsi Hunan pada tahun 604 SM. Ia merasa sangat kecewa akan kehidupan dunia, sehingga ia memutuskan untuk pergi mengasingkan diri dengan tidak mencampuri urusan duniawi. Ia kemudian menulis kitab Tao Te Ching yang kelak menjadi dasar pandangan ajaran Taoisme. Tao berarti “jalan” dan dalam arti luas yaitu realitas absolut, tidak terselami, dasar penyebab, dan akal budi. Kitab Tao Te Ching memuat ajaran bahwa seharusnya manusia mengikuti geraknya (hukum alam) yaitu dengan memiliki kesederhanaan hukum alam. Dengan Tao manusia dapat menghindarkan diri dari segala keadaan yang bertentangan dengan irama alam semesta. Taoisme diakui sebagai suatu pre-sistematik berpikir terbesar di dunia yang telah mempengaruhi cara berpikir masyarakat Tiongkok. (Haryono, 1994), menyimpulkan bahwa pada dasarnya Filsafat Taoisme dibangun dengan tiga kata, yaitu:

  1. Tao-Te, “tao” adalah kebenaran, hukum alam, sedangkan “te” adalah kebajikan. Jadi Tao Te berarti hukum alam yang merupakan irama dan kaidah yang mengatur bagaimana seharusnya manusia menata hidupnya.
  2. Tzu-Yan artinya wajar, manusia seharusnya hidup secara wajar dan selaras dengan cara bekerja sama dengan alam.
  3. Wu-Wei berati tidak campur tangan dengan alam, manusia tidak boleh mengubah apa yang sudah diatur oleh alam.

Buddhisme

Buddhisme atau agama Buddha sudah menjadi bagian dari filosofi Tiongkok selama hampir 2000 tahun. Meskipun Buddha bukan merupakan agama asli Tiongkok, melainkan pengaruh dari India, tetapi ajaran Buddha mempunyai pengaruh yang cukup berarti pada kehidupan masyarakat Tiongkok. Tema pokok ajaram agama Buddha adalah bagaimana menghindarkan manusia dari penderitaan, karena kejahatan dianggap sebagai pangkal penderitaan. Manusia yang lemah, tidak memiliki pengetahuan akan Buddhisme akan sangat mudah terkena kejahatan dan sulit untuk membebaskan diri dari penderitaan. Pendiri agama Buddha adalah Sidharta Gautama. Ia dilahirkan dari keluarga bangsawan di Negera India. Sewaktu kecil, ayahnya menjauhkan Sidharta dari segala macam bentuk penderitaan dunia, sampai pada suatu hari secara tidak sengaja ia melihat orang-orang yang selama ini belum dilihatnya yaitu orang tua, orang yang sakit dan orang meninggal. Kenyataan tersebut membuatnya kemudian meninggalkan istana dan bertapa di bawah pohon bodhi. Setelah bertapa selama enam tahun akhirnya ia memperoleh pencerahan dengan menemukan obat penawar bagi penderitaan, yaitu jalan keluar dari lingkaran tanpa akhir dengan melalui kelahiran kembali kepada suatu jalan menuju nirwana. Jalan ini yang kemudian dikenal juga sebagai inti dari ajaran Buddha.

Konfusius

Konfusius merupakan seorang filsuf yang berasal dari dataran Tiongkok. Ia lahir pada tahun 551 SM pada masa pemerintahan Raja Ling dari Dinasti Zhou, dengan nama kecil Khung Chiu atau Zhong Ni. Konfusius dikenal dengan ajarannya yang sarat akan moralitas atau kebajikan sebagai landasan utama untuk menjalani kehidupan yang harmonis. Selama hidupnya, Konfusius mengabdikan diri pada kegiatan belajar-mengajar. Ia belajar sejak kecil hingga akhir hayatnya. Konfusius adalah seorang filosof dunia yang mengajarkan nilai-nilai kebajikan dan moralitas. Masyarakat penganut ajaran nilai-nilai Konfusius yang mengutamakan nilai moral (Li) cenderung untuk menyatu dengan alam. Penyatuan dan keselarasan hidup manusia dengan alam menjadikan masyarakat cenderung untuk menghindar dari konflik, baik konflik dengan sesama manusia maupun konflik dengan lingkungan alam.

Ajaran dari filsafat Tiongkok ini menjadikan masyarakat Tiongkok penganut Konfusianisme untuk menolak bersentuhan langsung dengan hukum. Penolakan tersebut tidak diartikan mereka sebagai masyarakat yang menentang hukum, melainkan mereka memiliki kecenderungan untuk mencari jalan damai dari setiap masalah yang mereka hadapi. Konfusius sendiri bukanlah menciptakan sebuah ajaran agama yang baru, melainkan ia berupaya melestarikan sebuah ajaran moral yang telah hidup dan berkembang jauh sebelum Konfusius lahir. Ajaran Konfusius merupakan ajaran yang diwajibkan bagi kalangan kekaisaran Tiongkok, khususnya sejak berkuasanya dinasti Han. Ajaran Konfusius diujikan bagi setiap calon pegawai kerajaan yang hendak mengabdi. Pada sisi lainnya masyarakat Tiongkok yang berasal dari kalangan bawah (lower level) cenderung untuk tidak memahami Konfusius, mengingat ajaran tersebut tidak pernah mereka dapatkan, karena mereka hidup dengan kondisi ekonomi yang sangat sederhana dan tidak mengenyam bangku pendidikan.

Ajaran Konfusius menjadi populer bagi peneliti barat, khususnya ilmu hukum. Ketika para peneliti tersebut mencoba untuk melihat benturan antara moral (Li) dan hukum tertulis (Fa). Menurut Konfusius, manusia akan menjadi benar, jika manusia menjunjung tinggi moral (Li) dalam setiap kehidupannya. Dengan menjunjung tinggi moral, maka manusia akan berada dalam kesempurnaan, sehingga manusia tidak perlu lagi berpedoman pada hukum. Menurutnya hukum tertulis yang dibuat oleh para pembentuk hukum (kaum legalis) menjadikan manusia memiliki perilaku yang buruk. Hukum merupakan tempat berkumpulnya orang-orang jahat, hukum menjadikan manusia bersikap tamak dan serakah. Manusia yang telah mencapai kesempurnaan moralitas tidak akan membutuhkan hukum dalam hidupnya. Pemikiran Konfusius tersebut dilandasi oleh sebuah keyakinan bahwa pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan baik, karena telah tertanamnya moral didalam diri seseorang sejak ia lahir ke dunia.

Pendapat Konfusius tersebut mendapat tentangan hebat dari kaum legalis, yang melihat bahwa sesungguhnya manusia dilahirkan dengan membawa watak dan sifat jahat. Manusia cenderung untuk menang sendiri, ia akan menjadi serigala bagi manusia yang lain. Pada keadaan yang demikian manusia harus diatur oleh hukum yang keras. Menurut kaum legalis seorang raja memperoleh legitimasi kekuasaan dari Tuhan/Langit/Surga/Sesuatu yang berkuasa (Tian) dan ketika ia berkuasa maka ia dibekali dengan hukum untuk menundukkan sifat dan watak keras manusia, sehingga tidak ada satupun manusia yang akan menentangnya. Pada saat ini pertempuran ideologis antara moral (Li) dan hukum (Fa) menjadi lebih kuat dan menunjukkan sebuah perubahan. Masyarakat Tiongkok memandang pentingnya hukum dalam mengatur kehidupan manusia, akan tetapi hukum tidak dapat dibiarkan berjalan sendiri melainkan harus selalu diselimuti oleh moral. Hukum akan menjadi baik dan benar ketika hukum diselimuti oleh nilai kebajikan moral. Sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi pembelajar hukum dan pelaksana hukum untuk menyatukan moral dan hukum.

Kesimpulan

Konfusius dan ajaran filsafat yang didirikannya merupakan bagian utama dan kekuatan utama dari budaya Tiongkok, terlebih lagi ajaran ini telah menempati posisi dominan dalam waktu yang sangat lama. Konfusius dan ajaran filsafatnya telah meletakkan nilai-nilai inti dari budaya Tiongkok, menimbulkan pengaruh yang dalam terhadap perkembangan dan pewarisan peradaban Tiongkok. Konfusius dan ajaran filsafatnya memainkan peran yang tak tergantikan dalam membentuk budaya dan semangat negeri Tiongkok. Oleh karena itu, dalam sejarah, terutama sejarah modern, filsafat konfusius telah menjadi simbol budaya Tiongkok.

            Peran konfusius dan ajaran filsafat yang paling penting adalah menegakkan kerasionalan nilai-nilai budaya Tiongkok, meletakkan sebuah dasar moral bagi peradaban Tiongkok, memeberikan kekuatan moral dan kekuatan spiritual yang mendasar bagi budaya Tiongkok serta menjadikan ajaran filsafat konfusius menjadi sebuah “peradaban moral”. Dalam sejarah Tiongkok disebut sebagai (the land of propriety), ini menunjukan bahwa negeri peradaban ini memiliki peradaban moral yang matang dan peradaban moral yang matang ini menjadi simbol yang menonjol dari budaya negeri secara keseluruhan. Kekuatan moral menjadi kekuatan lunak (soft power) yang paling menonjol dari peradaban Tiongkok. Semua ini berasal dari kekuatan pembentukan moral oleh konfusius dan ajaran filsafatnya.

Daftar Pustaka  

Cf. Mou Zongsan,.1998. Zhongxi zhexue zhi huitong shisi jiang (Fourteen Lectures on the Transformation between Chinese and Occidental Philosophies),  Shanghai: Shanghai Guji Chubanse.

Cf. Zhu Guangqian. 1936. Wenyi Xinlixue (Psychology of Literature and Art), Shanghai: Kaiming Shudian.

Cheng Qinhua. 1952. Everyday Chinese Wisdom, China: Foreign Language Press.

C.J. Ducasse. 1988. Philoshopy of Art. Beijing: Guanming Daily Press.

Ding Wangdao. 2007. The Konfucianisme and Taoisme, China: Foreign Language Press.

Fu Chunjiang. 2010. Origins of Chinese Culture. Singapore: Asiapacs Books PTE LTD.

 Falguni A. Sheth. 1968. Toward a Political Philoshopy of Race. New York: University of New York Press.

Wang Keping. 2004. The Classic of the Tao: A New Investigation, Beijing: Foreign Language Press.

Wang Keping. 2006. Chinese Philosophy on Life, Beijing: Foreign Language Press.

Wang Keping. 2007. Ethos of Chinese Culture, Beijing: Foreign Language Press.

IDENTITAS MASYARAKAT KONTEMPORER SEBAGAI GAMBARAN BUDAYA POPULER

Oleh : Rudiansyah

Latar Belakang Masalah

Budaya Populer merupakan hasil tinjauan dari kajian budaya (cultural studies), dimana kajian budaya memfokuskan diri pada hubungan antara relasi-relasi sosial dengan makna-makna. Budaya populer dapat dikatakan sebagai suatu budaya yang tanpa disadari masyarakat telah menjadi suatu kebudayaan. Seperti yang diketahui bahwa budaya berawal dari kebiasaan, dan kebiasaan masyarakat dalam mengkonsumsi barang-barang keluaran produk terbaru inilah yang akan dibahas.

Suatu budaya lahir karena memiliki latar belakang dan bisa dikatakan lahirnya budaya populer karena kehadiran dari industri budaya, dimana dalam industri budaya yang terjadi adalah komersialisasi, sehingga proses yang berlangsung dalam industri budaya adalah komodifikasi, standardisasi serta masifikasi. Komodifikasi berarti memperlakukan produk-produk budaya sebagai komoditas yang tujuan akhirnya adalah untuk diperdagangkan. Standardisasi berarti menetapkan kriteria tertentu yang memudahkan produk-produk industri budaya dicerna oleh khalayak. Adapun masifikasi berarti memproduksi berbagai hasil budaya dalam jumlah masal agar dapat meraih pangsa pasar seluas-luasnya. Dalam perkembangannya, industri budaya ini akhirnya menghasilkan apa yang disebut dengan budaya populer (Lukmantoro, 2003).

Pada mulanya kebudayaan tinggi dan rendah saling terpisah satu sama lain dan berdiri sendiri, karena terdapat dinding yang membatasi keduanya. Namun pada akhirnya, dinding tersebut diruntuhkan oleh apa yang saat ini disebut sebagai budaya massa. Pada budaya massa sudah tidak ada lagi batas antara budaya tinggi dan budaya rendah. Sebenarnya budaya massa terbentuk oleh kebutuhan masyarakat akan hiburan. Melalui industrialisasi dan perkembangan teknologi, produsen budaya pop menciptakan produk-produk untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya menuntut keefektifan (percepatan) dan keefisienan (kemudahan). Produsen budaya populer yakni negara-negara maju (kapitalis), dengan berbagai cara berupaya menanamkan budaya itu di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Secara tidak langsung, terjadi kolonisasi budaya oleh negara-negara maju (barat) atas negara-negara berkembang. Pada akhirnya apa yang membuat suatu komoditas populer adalah bukan untuk siapa atau untuk berapa banyak orang komoditas itu diproduksi, tetapi bagaimana komoditas itu diinterpretasikan.

Budaya populer membutuhkan masyarakat sebagai pembentuk kebudayaan. Suatu masyarakat erat kaitannya dengan waktu dan tempat dimana dia berada dan hidup. Saat ini masyarakat bisa menyebut keadaan yang kita alami dan  dialami sekarang sebagai budaya kontemporer.

Budaya Kontemporer

            Dewasa ini industri periklanan dan media massa bisa dikatakan menciptakan citra komersial yang mampu mengurangi keanekaragaman individualitas. Kepribadian menjadi gaya hidup, dalam hal ini manusia dinilai bukan oleh kepribadiannya tapi oleh seberapa besar kemampuannya mencontoh gaya hidup. Apa yang dipertimbangkan sebagai pilihan diri sendiri, baik dalam hal musik, makanan dan lainnya, sesungguhnya hal ini merupakan seperangkat kegemaran yang diperoleh dari kebudayaan yang cocok dengan tempat dimana manusia berada dalam struktur ekonomi masyarakat.

            Budaya kontemporer yang tercipta dewasa ini bisa kita lihat dari maraknya budaya massa yang tercipta. Televisi sebagai alat komunikasi banyak digunakan oleh para produsen untuk menawarkan produknya dan menjaring lebih banyak konsumen agar mendapatkan untung berlipat. Selain itu budaya internet merambah hingga ke pelosok dan berbagai macam kalangan menimbulkan perubahan dalam gaya hidup dan kebiasaan. Mental kebenaran universal hanya akan menciptakan oposisi-oposisi biner baru yang justru menghancurkan yang lain dari kearifan yang dimilikinya, maka harus ada upaya dekontruksi atau kebenaran (Derrida, 1964). Modernisme terlalu congkak dalam memahami otonomi manusia sebagai subjek berpikir yang melegitimasi epistemologi sebagai suatu yang netral, bersih serta suci dari hasrat untuk berkuasa (Nietzsche dan Foucoult, 1997).

Identitas Manusia

            Dalam kamus bahasa Indonesia, identitas dimengerti sebagai suatu ciri-ciri atau keadaan khusus dari seseorang. Sedangkan jika dilihat dari kamus besar Filsafat identitas diri diartikan sebagai cara seseorang membayangkan, mencirikan atau memandang diri sendiri, yaitu diri yang diyakini seseorang seharusnya memungkinkan seorang diri atau dilibatkan (Bagus, 2005).

            Berpikir mengenai dirinya sendiri adalah aktivitas manusia yang tidak dapat dihindarkan. Secara harafiah orang akan berpusat pada dirinya sendiri. Sehingga, self adalah pusat dari dunia sosial setiap orang. Sementara faktor genetik memainkan sebuah peran terhadap identitas diri atau konsep diri yang sebagian besar didasarkan pada interaksi dengan orang lain yang dipelajari yang dimulai dari anggota keluarga terdekat, kemudian meluas ke interaksi dengan mereka di luar keluarga (Robert, 2003).

            Secara etimologis, identitas berasal dari kata latin yaitu idem yang memiliki arti sama. Teori identitas dalam filsafat berkutat pada dua poros yaitu identitas sebagai closure. Identitas closure berarti identitas tertutup. Identitas sebagai sesuatu yang closure dilandasi bahwa identitas merupakan sesuatu yang melekat pada diri secara kodrat, sehingga bersifat tunggal, mutlak dan absolut.

Teori Manusia Kontemporer

            Permasalahan identitas manusia kontemporer akan ditelaah dari pandangan Baudrillard dan didukung oleh Fredric Jameson. Dalam penelaahannya dari sisi budaya masa kini maka filusuf yang diacu adalah Baudrillard dan dibantu oleh Jameson karena mereka adalah tokoh yang mewakili abad ini, dimana budaya masyarakat yang ada saat ini, yaitu konsumsi tanda atau simbol dan itu berarti adalah lanjutan dari sistem kapitalis. Keduanya memiliki konsentrasi masalah yang berbeda-beda, namun sebenarnya ingin menunjukkan permasalahan mengenai manusia dalam masyarakat dan budayanya.

  1. Jean Baudrillard

Jean Baudrillard lahir di Reims, Prancis pada 29 Juli 1929. Ia merupakan salah seorang pemikir postmodern yang menaruh perhatian besar pada persoalan kebudayaan dalam masyarakat kontemporer. Jean Baudrillard ingin mengungkapkan transformasi dan pergeseran yang terjadi dalam struktur masyarakat dewasa ini yang disebutnya sebagai masyarakat simulasi dan hiperrealitas. Melalui budaya massa dan budaya populer inilah lahir suatu prinsip komunikasi baru yang disebutnya sebagai prinsip bujuk-rayu (seduction). Bila sebelumnya proses komunikasi dipahami sebagai proses penyampaian pesan dari pemberi pesan (addressee) kepada penerima pesan (address) untuk diperoleh suatu makna tertentu, maka kini komunikasi dipahami sebagai proses bujuk-rayu objek oleh subjek untuk mengkonsumsi produk-produk yang ditawarkan. Dalam mekanisme komunikasi seperti ini, tak ada lagi pesan, tak ada lagi makna, kecuali semata dorongan memikat untuk mengkonsumsi apa yang ditawarkan.

  1. Fredric Jameson

Fredric Jameson lahir di Cleveland, Ohio pada 14 April 1934. Ia merupakan seorang kritikus Amerika dan teoritikus Marxist. Menurutnya postmodernisme sebagai spatialization budaya dibawah tekanan yang diselenggarakan kapitalisme. Pemikiran Jameson sangat relevan untuk melihat bagaimana mutasi budaya kapitalisme telah menciptakan apa yang disebut dengan “masyarakat komoditas” atau “masyarakat konsumeris”. Dari hal ini dapat dilihat, bahwa dalam menyikapi permasalahan manusia khususnya mengenai identitasnya maka pasti hal itu tidak akan bisa lepas dari faktor dalam dan luar pribadi individun yang bersangkutan. Dalam diri maka yang menyangkut pembicaraannya adalah psikologi dan dari luar adalah sosiologi sebagai bentuk interaksi manusia dengan lingkungannya.

  Kesimpulan

Budaya populer merupakan sebuah konsep yang menghasilkan suatu produk yang banyak disukai masyarakat. Budaya Populer kini menjadi trend baru yang mulai dikembangkan, terutama oleh negara-negara di Asia dengan memadukan konsep barat dan timur dalam satu kesatuan. Dengan tetap memegang pada konsep modern, budaya populer tidak sepenuhnya melepaskan nilai negaranya masing-masing. Keberadaan budaya populer merupakan wujud perlawanan terhadap kemapanan nilai-nilai budaya tinggi, yaitu budaya yang dihasilkan oleh kaum-kaum intelektual. Cukup banyak karakteristik budaya populer, salah satunya adalah menumbuhkan semangat konsumerisme. Terpaan budaya populer juga tidak terlepas dari pengaruh media massa, sehingga perlu dilakukan filterisasi terhadapa tayangan-tayangan yang disaksikan melalui media massa, baik itu berupa acara berita, sinetron maupun musik.

Melalui penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa dalam identitas manusia kontemporer sebagai gambaran budaya populer merupakan cerminan pada sebuah negara di era globalisasi saat ini. Budaya populer dapat dikatakan sebagai suatu budaya yang tanpa disadari masyarakat telah menjadi suatu kebudayaan. Seperti yang kita tahu bahwa budaya berawal dari kebiasaan, dan seperti halnya kebiasaan masyarakat dalam mengkonsumsi barang-barang produk terbaru.

Frederic Jameson menyatakan bahwa postmodernisme tidak lain adalah konsekuensi logis perkembangan kapitalisme lanjut. Melalui tulisannya “Postmodernism or The Cultural Logic of Late Capitalism”, Jameson meyakinkan bahwa resiko tak terelakkan dari dominasi kapitalisme lanjut yang telah berubah watak karena telah banyak belajar dari berbagai rongrongan dan kritik. Kapitalisme yang titik beratnya bergeser dari industri manufaktur ke industri jasa dan informasi . Kapitalisme yang demi kepentingan jangka panjang, secara cerdas mengakomodasikan tuntutan serikat pekerja, kelangsungan hidup lingkungan dan daya kreatif/kritis konsumen.

Daftar Pustaka

Baudrillard, Jean. 1969. The System of Objects. Reims : Prancis Press.

Bernet, Tony. 1982. Popular Culture: Defining Our Terms. Milton Keynes: University Press.

Brownislaw, Malionowski. 1967. A Functional Theory of Culture. Belanda: Belanda of History.

Bourdieu, Pierre. 1984. Distintion: A Social Critique of the Judgment of Taste. Cambridge: Harvard University Press.

Dwirezanti, Adina. 2012. Budaya Populer Sebagai Alat Diplomasi Publik: Analisa Peran Korean Wave Dalam Diplomasi Publik Korea Periode 2005-2010. Jakarta: Universitas Indonesia.

Fiske, John. 1989. Understanding Popular Culture, London: Unwin Hyman.

Gramsci, Antonio. 1971. Selections from Prison Notebooks. London: Lawrence & Wishart.

Jameson, Fredric. 1997. The Cultural Logic of Late Capitalism. Ohio: New York Press.

Maltby, Richard. 1989. Popular Culture in the 20th Century. London: Routledge.

Ristinawati, Rika. 2009. Budaya Populer di Era Kontemporer. Jakarta: Universitas Indonesia.

Ross, Andrew. 1989. No Respect: Intelectuals and Popular Culture. London: Routledge.

Storey, John. 2010. Cultural Theory and Popular Culture. London: Prentice Hall.

Warsito, Tulus dan Wahyuni Kartikasari. 2007. Diplomasi Kebudayaan, Konsep dan Relevansi Bagi Negara Berkembang: Studi Kasus Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

PEMAHAMAN RAS, ETNISITAS DAN MULTIKULTURALISME

Oleh : Rudiansyah

Pengertian Ras, Etnisitas dan Multikulturalisme

  1. Pengertian Ras

Ras adalah suatu sistem klasifikasi yang digunakan untuk mengkategorikan manusia dalam populasi atau kelompok besar dan berbeda berdasarkan ciri fenotipe, asal usul geografis, jasmani dan kesukuan yang terwarisi. Dengan kata lain, ras juga termasuk dalam suatu golongan penduduk pada suatu daerah yang mempunyai sifat keturunan berbeda dengan penduduk daerah lain. Salah satu penyebab masalah sosial mengenai ras adalah adanya prasangka ras yang merupakan salah satu aspek etnosentrisme. Etnosentrisme adalah suatu sifat manusia yang menganggap bahwa cara hidup golongannya paling baik, sedangkan cara hidup golongan lain dianggap tidak baik dan kadang disertai dengan perasan menentang golongan lain. Fungsi etnosentrisme adalah adanya persamaan sangat kuat yang mengikat seseorang dengan golongannya sehingga menimbulkan solidaritas suatu kelompok.

Menurut Koentjaningrat, Ras adalah suatu golongan manusia yang menunjukkan berbagai ciri tubuh tertentu dengan suatu frekuensi yang besar atau bersifat jasmani.

Menurut A.L. Krober, Ras dapat dibedakan sebagai berikut :

  • Ras Mongoloid (Berkulit Kuning)
  • Ras Negroid (Berkulit Hitam)
  • Ras Kaukasoid (Berkulit Putih)
  • Ras Khusus yang tidak dapat diklasifikasikan, ras ini antara lain :

Bushman, Veddoid, Australoid, Polynesian, Ainu.

Dewasa ini terdapat beberapa pandangan teoritis yang mendukung studi mengenai ras dan konflik ras masa kini. Beberapa diantaranya adalah teori pilihan rasional yang bersifat individualistik dan menerapkan suatu sistem untung-rugi untuk menjelaskan kecenderungan ras dan dinamika pembentukan kelompok ras. Selain itu, perspektif umum lainnya memusatkan kepada stratifikasi ras yang menekankan komponen ekonomis sebagai dasar diskriminasi ras. Teori neo-konservatif memusatkan perhatian kepada ciri budaya yang tidak secara merata terbagi kepada beberapa kelompok ras. Dari argumen di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada teori yang memberikan paradigma yang mendalam dan dapat diterima secara luas untuk menjelaskan kerumitan pembentukan kelompok etnis atau bertahannya konflik ras di dunia masa kini.

  1. Pengertian Etnisitas

Etnisitas adalah suatu penggolongan dasar dari suatu organisasi sosial yang keanggotaannya didasarkan pada kesamaan asal, sejarah, budaya, agama dan bahasa serta tetap mempertahankan identitas jati diri mereka melalui cara dan tradisi khas yang tetap terjaga, misalnya etnis Cina, etnis Arab, dan etnis Tamil-India. Istilah etnisitas juga dipakai sebagai sinonim dari kata suku pada suku-suku yang dianggap asli Indonesia. Misalnya etnis Bugis, etnis Minang, etnis Dairi-Pakpak, etnis Dani, etnis Sasak, dan etnis lainnya. Istilah suku mulai ditinggalkan karena berasosiasi dengan keprimitifan, sedangkan istilah etnis dirasa lebih netral. Dalam ensiklopedi Indonesia disebutkan istilah etnisitas berarti kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, adat, agama, bahasa, dan sebagainya.

Menurut Max Weber, Etnisitas adalah suatu kelompok manusia yang menghormati pandangan serta memegang kepercayaan bahwa asal yang sama menjadi alasan untuk penciptaan suatu komunitas tersendiri.

Menurut Frederich Barth (1988) istilah etnisitas merujuk pada suatu kelompok tertentu yang karena kesamaan ras, agama, asal-usul bangsa, ataupun kombinasi dari kategori tersebut terikat pada sistem nilai budaya. Kelompok etnik adalah kelompok orang-orang sebagai suatu populasi yang :

  • Dalam populasi kelompok mereka mampu melestarikan kelangsungan kelompok.
  • Mempunyai nila-nilai budaya dan sadar akan rasa kebersamaannya.
  • Membentuk jaringan komunikasi dan interaksi.
  • Menentukan ciri kelompok sendiri yang dapat diterima oleh kelompok lain.
  1. Pengertian Multikulturalisme

Multikulturalisme adalah sebuah ideologi yang menghendaki adanya persatuan dari berbagai kelompok kebudayaan dengan hak dan status sosial yang sama di dalam masyarakat. Dengan demikian, setiap individu merasa di hargai sekaligus merasa bertanggung jawab untuk hidup bersama komunitasnya. Dalam pengertian tradisional tentang multikulturalisme memiliki dua ciri utama yaitu kebutuhan terhadap pengakuan (The need of recognition) serta legitimasi keragaman budaya atau pluralisme budaya.

Menurut S. Saptaatmaja, Multikulturalisme adalah Suatu tujuan untuk bekerjasama, kesederajatan dan mengapresiasi dalam dunia yang kompleks dan tidak monokultur. Dari pengertian ini dapat disimpulkan agar seseorang dapat melihat perbedaan dan usaha untuk bekerja secara positif dengan yang berbeda dan terus mewaspadai segala bentuk sikap yang bisa mereduksi multikulturalisme itu sendiri.

Sejarah Multikulturalisme

Multikulturalisme mulai dijadikan kebijakan resmi di negara berbahasa inggris (English Speaking Countries), yaitu di negara Canada pada tahun 1079-an. Kebijakan inikemudian diadopsi oleh sebagian besar anggota Uni Eropa seperti Australia, Amerika Serikat, Inggris, Jerman dan negara lainnya.

Jenis – Jenis Multikulturalisme

Menurut Parekh, Multikulturalisme dapat dibedakan menjadi 5 macam, yaitu :

  • Multikulturalisme Isolasionis
  • Multikulturalisme Akomodatif
  • Multikulturalisme Otonomis
  • Multikulturalisme Kritikal/Interaktif
  • Multikulturalisme Kosmopolitan

Topik Pembahasan

  1. Istilah Penyebutan Orang Tionghoa di Indonesia

Istilah penyebutan Tionghoa mengacu kepada orang Tionghoa secara umum atau warga keturunan Tionghoa secara khusus, tetapi dari pandangan orang Eropa mengaitkannya dengan satu dinasti yang pernah memerintah di Tiongkok pada tahun 225-206 SM, yaitu Dinasti Qin. Sebenarnya orang Tionghoa yang ada di Indonesia sekarang adalah keturunan dari orang Han, yaitu kelompok mayoritas yang membentuk 94% dari total penduduk PRC, yang secara linguistik terpecah lagi kedalam berbagai suku-bangsa, antara lain yang terkenal di Indonesia adalah Kanton, Teochiu, Hoklo, Hinhua, Hokcia, Hainan, Hakka dan Hokkian. Sebagai ahli bahasa di Indonesia, misalnya Mely G. Tan, menyebut orang Tionghoa Indonesia ini dengan nama golongan etnis Tionghoa, selain itu George Yunus Aditjondro menyebutnya dengan istilah masyarakat Tionghoa atau tenglang dan juga Slamet Martosudiro menyebut Tionghoa perantauan atau Hoakiao yang secara umum disebut non pribumi, etnis Tionghoa.

  1. Diskriminasi Etnis Tionghoa di Indonesia

Diskriminasi pada etnis Tionghoa di Indonesia sudah dimulai semenjak masa kolonial Belanda. Pada tahun 1740 dibawah perintah Gubernur Jendral Valckenier terjadi pembunuhan besar-besaran terhadap etnis Tionghoa di Batavia. Pembantaian yang dilakukan belanda secara besar-besaran terhadap orang Tionghoa dimaksudkan agar kalangan bisnis etnis Tionghoa tunduk terhadap Belanda. Diskriminasi terhadap etnis Tionghoa tidak berhenti hanya pada masa kolonial Belanda, namun terus berlanjut hingga Orde Lama dan Orde Baru.

Diskriminasi Rasial Masa Orde Lama

Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno pada era 1959-1960 adalah masa dimana etnis Tionghoa terdiskriminasi dalam wajah yang sangat rasialis. Pengejaran terhadap orang Tionghoa ketika itu merupakan bagian dari pelaksanaan serta pengembangan politik anti Tionghoa pada tahun 1956. Sebagai akibat dari PP No. 10/1959, selama tahun 1960-1962 tercatat lebih dari 100.000 orang Tionghoa meninggalkan Indonesia dan seara tipikal mereka mengalami banyak kesengsaraan. Disisi lain, bangkitnya semangat nasionalisme yang cenderung mengacu pada sentimen primordial adalah faktor lain yang menunjukkan betapa suramnya rasialisme di wajah Negara Republik Indonesia.

Diskriminasi Rasial Masa Orde Baru

Jtuhnya rezim Orde Lama tidak serta merta membawa angin segar terhadap hilangnya diskriminasi rasial yang dialami oleh etnis Tionghoa di Indonesia. Diskriminasi terhadap orang Tionghoa ditempuh pemerintahan Orde Baru dilakukan dengan cara, diantaranya :

  • Mengeluarkan kebijakan penandaan khusus pada Kartu Tanda Penduduk
  • Larangan bagi masyarakat Tionghoa menjadi pegawai negeri serta TNI
  • Larangan bagi masyarakat Tionghoa untuk memiliki tanah dan bangunan

Kebijakan tersebut secara otomatis merenggut hak asasi mereka sebagai warga negara Indonesia dan sebagai manusia.

  1. Masyarakat Tionghoa di Tengah Asimilasi dan Multikulturalisme Budaya Indonesia

Bangsa Tionghoa terlebih dahulu sudah melakukan kontak dengan bangsa Indonesia jauh sebelum Indonesia jatuh ke tangan penjajahan Belanda. Walaupun tidak sekala besar, pandangan antara bangsa China dan Indonesia berlangsung lancar dan tanpa hambatan yang berarti. Dengan sistem Devide et Impera, bangsa Belanda berhasil menanamkan rasa perpecahan diantara etnis Tionghoa dan penduduk Indonesia. Adanya campur tangan negara China atas rakyatnya di Indonesia mempersulit asimilasi etnis Tionghoa. Kondisi ekonomi Indonesia yang mayoritas dikuasai oleh etnis Tionghoa semakin memperkeruh situasi. Walaupun etnis Tionghoa hanya sekitar 3% dari keseluruhan bangsa Indonesia, mereka diyakini memiliki kehidupan ekonomi lebih baik atau diatas rata-rata masyarakat asli Indonesia.

Dengan berbagai macam undang-undang dan peraturan yang terkesan mempercepat laju asimilasi yang sebenarnya memiliki suatu tujuan untuk menghilangkan identitas etnis Tionghoa, dari mulai pergantian nama Indonesia sampai penutupan sekolah berbahasa mandarin di Indonesia. Hal ini sebenarnya bertolak belakang dengan falsafah bangsa Indonesia, yang mana falsafah tersebut menekankan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Daftar Sumber

Abdurrahmat, H. Fathoni. 2006. Antropologi Sosial Budaya. Jakarta: Rhineka Cipta.

Cf. Zhu Guangqian, Wenyi Xinlixue. 1936. Psychology of Literature and Art. Shanghai: Kaiming Shudian.

Edward Burned Taylor. 1969. Primitive Culture. Inggris: Fried Press.

Handinoto. 1999. Lingkungan Pecinan dalam Tata Ruang Kota di Jawa Pada Masa Kolonial, Jakarta: Jurnal Dimensi Arsitektur.